Foto diambil dari buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno karya Rahmat Sahid

Oleh: Megawati Soekarnoputri

Alam pikir Bung Karno sejak kecil sudah bersentuhan dengan nilai-nilai ketuhanan yang menyatu dengan nilai kemanusiaan, kerakyatan, kebudayaan, dan pemahaman yang begitu kuat terhadap jati diri dan martabat bangsa Indonesia. Dari alam pikiri Bung Karno, melalui kontemplasi yang mendalam tentang bangsanya, digalila Pancasila sebagai dasar dan tujuan Indonesia Merdeka; Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, pemersatu bangsa, dan seharusnya menjadi dasar dari seluruh keputusan politik penyelenggaraan pemerintahan Negara.

Proses lahirnya Pancasila bukanlah proses sekali jadi. Proses tersebut melalui perjuangan panjang, dengan memahami seluruh hakekat tentang “amanat penderitaan rakyat”, mempelajari keseleluruhan dinamika dan dialektika politik masyarakat, dengan memelajari sejarah peradaban bangsa-bangsa dunia, cara pandang setiap bangsa, dan kemudian dibumikan dalam kepribadian bangsa Indonesia sehingga terjadi kristalisasi keseluruhan nilai yang hidup dan tumbuh ditengah bangsa Indonesia. Karena itulah Pancasila merupakan ideologi otentik yang bersenyawa di dalam sanubarinya rakyat Indonesia.

Sejarah pun mencatat, bagaiman Bung Karno, Proklamator, dan Bapak Bangsa Indonesia, mengawali seluruh “konstruksi” tentang Indonesia Raya melalui proses pembelajaran dan pengemblengan secara langsung oleh HOS Cokroaminoto. Keseluruhan pemikiran Bung Karno merupakan sentesa dari pemikiran tokoh-tokoh Islam kebangsaan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsanya. Bung Karno bergaul dengan banyak tokoh pemikir-pejuang di kala itu, dari Muhammadiyah, NU, Persis, dan lain sebagainya, seperti KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim, KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, A Hasan, dan tokoh-tokoh lainnya tentu menjadi semacam “Kawah Candradimuka” yang membuat Beliau menjadi sosok yang dari segi pemikiran maupun ideologi benar-benar kuat.  Berbagai pemikiran besar dari tokoh politik dunia, filsafat pemikiran tentang bangsa dan Negara serta kebudayaan besar dunia, termasuk sejarah bangsa-bangsa dunia pun menjadi bagian dialektika pemikiran Bung Karno untuk bangsa dan Negara.

Proses kehidupan Bung Karno adalah suatu pengabdian, dengan pemikiran dan tindakan yang merupakan hasil kontemplasi atas apa yang dialami, apa yang masuk dalam alam pikirnya, dan atas kondisi lingkungan sosial yang dihadapinya. Seperti halnya ketika menggali Pancasila sebagai Dasar Negara, itu merupakan hasil dari suasana kebathinan dan aspek kontemplasi Bung Karno selama masa pengasingan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sana, Bung Karno mendalami ilmu agama lebih serius. Tak hanya agama Islam, tetapi juga Kristen. Jiwa religius Bung Karno inilah yang kemudian tercermin dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, yang sekarang telah ditetapkan sebagai hari Lahir Pancasila.

Terang dan sangat tegas dalam pidatonya, beliau mengungkapkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan. Namun, ber-Tuhan yang tidak eksklusif untuk satu golongan. Alam pikir Bung Karno yang seperti itu, tentu merepresentasikan kaum muslim yang memiliki kekuatan politik yang besar. Tapi, ini akibat upaya desoekarnoisasi, maka secara sengaja dicitrakan bahwa Bung Karno tidak dalam politiknya tidak membela kepada Islam. Padahal, kalau kita mau jujur dan kembali mengingat apa yang disampaikan dalam pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, kala menyampaikan sila permusyawaratan perakilan yang dianggapnya sebagai yang paling cocok dengan Islam dan syarat mutlak untuk kuatnya negara Indonesia. Saat itu, beliau mengatakan:

“Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, maaf beribu-ribu maaf keislaman saya jauh belum sempurna,-tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dari hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan”

Demikian halnya ketika Bung Karno sudah menjadi Presiden, memimpin Bangsa Indonesia yang telah diproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 bersama dengan Bung Hatta. Beliau dalam kepemimpinannya membawa tradisi kehidupan Islam yang terintegrasi dengan alam pikir kebangsaan. Bersama dengan golongan Islam dan golongan kebangsaan, Bung Karno dalam kebijakan-kebijakan dan laku politiknya tidak pernah lepas dari prinsipnya untuk menekankan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan.

Buku ini, layak dan perlu dibaca untuk meresapi, mengingat kembali, bagaimana pergumulan pemikiran dan perjuangan Bung Karno, soal nilai-nilai Islam, bagaimana keberpihakannya dengan dunia Islam, dan juga spiritualitas kebatinannya tentang Tuhan Yang Maha Esa, dan tentang “cinta mati”nya pada sosok nabi Muhammad SAW yang selalu menjadi ispirasi pemikiran dan perjuangannya. Ada banyak contoh di buku ini, yang akan terus relevan menjadi suri tauladan bagi generasi bangsa, soal bagaimana dedikasi Bung Karno untuk agamanya, dan untuk bangsa yang dicintainya. Juga jejak peninggalannya, baik itu pemikiran dan ajarannya, hinga warisan-warisannya untuk dunia Islam.

Karena bagi Bung Karno, sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, kebahagiaannya adalah mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, dan kepada bangsa.

*Disadur dari kata pengantar buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno