KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat mempengaruhi pemikiran keislaman Bung Karno (bungkarno.id)

Bung Karno adalah pengagum KH Ahmad Dahlan. Karenanya, Ia termasuk dalam satu tokoh disamping H.O.S Tjokroaminoto yang mengisi dada Bung Karno dengan api-api Islam. Karenanya, Kiai Dahlan mempunyai tempat tersendiri di hati Bung Karno. Kyai Dahlah merupakan pendiri Muhammadiyah, organisasi yang sudah sejak lama bersinggungan dengan Bung Karno. Bahkan saat remaja, Bung Karno sudah mengenal Muhammadiyah, khususnya saat masih di Surabaya.

Maka tidak heran, saat melihat Kyai Dahlan, Bung Karno memperlihatkan kekagumannya. Bung Karno bertemu dengan KH Ahmad Dahlan di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Pak Tjokro merupakan ‘bapak kost’ Bung Karno sekaligus sosok yang menginspirasi dirinya untuk menjadi singa podium.

Baca juga: https://bungkarno.id/2020/12/11/hos-tjokroaminoto-adalah-cermin-bung-karno/

Sebagaimana Bung Karno menceritakan dalam pidato di Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad 1962. Dalam pidato berjudul “Makin Lama, Makin Tjinta”, Bung Karno menyebutkan bahwa ia suka mengintil atau membuntuti Kyai Dahlan dan suka mendengarkan pidato Kyai Dahlan. Bung Karno mengakui bahwa ketika pengertiannya tentang Islam masih remang-remang, pemimpin Muhammadiyah itulah yang memberikan pengertian mengenai gerakan Islam yang dipimpinnya.

“Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragama Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orangtua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam,” begitu kata Bung Karno menggambarkan kekagumannya kepada Kyai Dahlan.

Makin Cinta Kepada Muhammadiyah

Sejak remaja, Bung Karno sering mengintil pengajian yang diisi oleh KH Ahmad Dahlan (bungkarno.id)

Bung Karno mengaku, melalui pidato Kyai Dahlan, ia meyakini ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara, dan masyarakat.

“Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya, tahun ’38 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun ’46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah: tahun ’62 ini saya berkata, “moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saja,” ungkap Bung Karno.