KH Mas Mansur adalah sahabat seperjuangan Bung Karno yang juga mitra diskusi tentang kebangsaan dan keislaman (infografis/bungkarno.id)

Persahabatan Bung Kaarno dan KH Mas Mansur terbangun sejak remaja. Mas Mansur adalah sahabat Bung Karno dalam perjuangan sekaligus teman diskusi soal kenegaraan dan keislaman. Bung Karno sudah mengenal salah satu pemuka agama Islam yang menjadi Ketua PP Muhammadiyah periode 1937-1943 itu sejak masih remaja.

Jauh sebelum kemerdekaan, keduanya saling support untuk memajukan umat Islam dan juga bangsa Indonesia. Saat muda keduanya tinggal di Surabaya dan berguru kepada H.O.S Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan.

Baca juga: https://bungkarno.id/2020/12/11/hos-tjokroaminoto-adalah-cermin-bung-karno/

Salah satu yang Bung Karno kagum kepada Mas Mansyur adalah kala menggelorakan semangat muda kepada kader Muhammadiyah. Ia terang-terangan memanggil kaum pemuda kepada rasa cinta tanah-air. Muda bukan hanya umurnya, namun juga semangat mereka.

Muda bukan hanya dari sisi semangat, namun juga dalam melihat berbagai persoalan, termasuk dalam memandang Islam sebagai agama yang progresif dan tidak bersandar pada taqlid.

Jadi Penghulu

Kedekatakan keduanya misalnya terlihat saat KH Mas Mansyur menjadi penghulu pada pernikahan Bung Karno dengan Oetari. Sebelumnya Bung Karno sempat berselisih dengan penghulu tentang cara pakaian Bung Karno yang anggapan mereka telah merepresentasikan orang ‘Barat’ yang Kristen. KH Mas Mansyur juga yang membantu proses perceraian Bung Karno dengan Inggid dan sekaligus menjadi penghulu pernikahan dengan Fatmawati.

Sebagai seorang teman, mereka saling support. KH Mas Mansyur misalnya mengunjungi Bung Karno saat pengasingandi Bengkulu pada 1941 dan saling berkirim surat saat Bung Karno pembuangan di Ende.

Karena hubungan mereka yang sangat dekat, keduanya kadang kerap bisa menerima pemikiran satu dan yang lainnya. Bung Karno mendukung KH Mas Mansyur saat sahabatnya itu mendirikan Muhammadiyah cabang Surabaya.

Baca juga: https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/03/23/profil-kiai-haji-mas-mansyur-peran-dalam-empat-serangkai/

Bung Karno menceritakan sendiri perihal kedekatannya dengan KH MasMansyur. Cerita itu ia sampaikan saat memberikan amanat pada Kongres Muhammadiyah di Bandung, 24 Juli 1965. Saat itu, KH Mas Mansyur sudah meninggal dunia. Namun, istrinya, yakni Ny Zakiah turut hadir dalam Muktamar tersebut. Bung Karno bahkan memanggil Zakiah, untuk duduk di atas, kemudian Bung karno menceritakan bagaimana kedekatannya dengan KH mas mansyur.

“Saudari Zakiah itu adalah janda Kiai Haji Mas Mansur, Ketua Umum kita dulu. Dan tiap-tiap kali saya berjumpa dengan Saudari Zakiah, sesudah Kiai Mansur pulang ke rahmatullah, saya amat terharu. Terharu oleh karena saya dulu amat rapat sekali pergaulan dengan almarhum, yaitu dengan Kiai Haji Mas Mansur. Zakiah sering menyaksikan saya ngobrol, bicara dengan Kiai Mas Mansur. Zakiah lah selalu yang nyuguhi, ya kadang-kadang pisang goreng, kadang-kadang teh atau kopi,” kata Bung Karno.

Bung karno mengungkapkan, dirinya dan Kiai Haji Mas Mansur itu ternyata bersesuaian paham. Yakni sama-sama melandaskan paham-paham di atas ajaran-ajaran agama Islam.

“Beliau pengikut agama Islam, saya pengikut agama Islam. Beliau murid almarhum Kiai Dahlan, saya murid almarhum Kiai Dahlan,” ungkap Bung Karno.

Baca juga: https://bungkarno.id/2020/12/12/bung-karno-pengagum-kh-ahmad-dahlan/

Bela Pemikiran Mas Mansur

Bungkarno langsung membela KH Mas Mansur ketika pemikirannya yang menggelorakan cinta tanah air ditentang oleh beberapa tokoh Islam . Sebagai tokoh Islam, KH Mas Mansur juga yang menjadi penghulu saat pernikahan Bung Karno dengan Oetari. (bungkarno.id)

Bung Karno juga menceritakan saat Kiai Mansur menulis satu artikel, satu amanat kepada pemuda Muhammadiyah. Pada waktu, Bung Karno sedang di Bengkulu, menjalani pembuangan. Ia membaca tulisan Kiai Haji Mas Mansur, satu amanat Kiai Mansur kepada pemuda-pemuda Muhammadiyah. Dan pokok isi amanat itu ialah, agar supaya pemuda-pemuda Muhammadiyah mencintai tanah air Indonesia ini.

Pada waktu itu sebagaian saudara-saudara, dari pada ulama-ulama Islam, sebagian ulama-ulama Islama ada yang marah kepada Kiai Haji Mas Mansur. Dikatakan bahwa Kiai Haji Mas Mansur mendidik pemuda-pemudanya untuk memberhalakan tanah air. Ini katanya menyimpang dari pada tauhid. Memuja-muja tanah air, menyembah, dikatakan begitu, tanah air. Kiai Mansur ini telah nyebal, nyimpang dari tauhid.

“Pada waktu itu saudara-saudara, saya di Bengkulu, kataku, saya lekas mengambil beberapa carik kertas, mengambil pena, saya menulis artikel, membela Kiai Mansur, dan saya katakan, memang tepat ajaran Kiai Mansur, bahwa manusia harus cinta kepada tanah airnya,” beber Bung Karno. (RS)