Bung Karno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945

17 fakta penting kemerdekaan Indonesia ini bikin merinding karena sangat menyentuh dan patriotik. Inilah fakta di balik kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, yang ternyata belum semuanya diketahui publik.

Berikut 17 Fakta Heroik dan Patriotik di balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Bendera Dijahit Ibu Fatmawati yang Sedang Hamil Tua

Bendera Merah Putih dijahid oleh Fatmawati

Bendera Merah Putih dijahit oleh Ibu Fatmawati yang pada waktu itu dalam kondisi hamil tua. Fatmawati saat menjahit bendera merah putih itu sering kali meneteskan air mata. Dalam buku Berkibarlah Benderaku yang ditulis Bondan Winarno, Fatmawati mengungkapkan:

“Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu. Menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, saya paksakan diri menjahit bendera Merah Putih”

“Saya jahit berangsur-angsur dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja. Sebab, dokter melarang saya menggunakan kaki untuk menggerakkan mesin jahit,”

Baca juga: https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/4333848/sedang-hamil-tua-kisah-perjuangan-fatmawati-soekarno-menjahit-bendera-merah-putih-yang-jadi-simbol-kemerdekaan-indonesia

Fatmawati baru menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari. Bendera Merah Putih berukuran 2 x 3 meter itulah yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

2. Soekarno-Hatta Diculik Kalangan Muda ke Rengasdengklok

Pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, Kelompok Muda yang gagal meyakinkan Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia malam itu juga, melakukan penculikan kepada tokoh dwitunggal tersebut. Mereka yang melakukan penculikan Soekarno-Hatta adalah Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dr. Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih, dan dr. Sutjipto. Jadilah, pada subuh hari tanggal 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok.

3. Perdebatan Panas Di Rengasdengklok

Siang tanggal 16 Agustus, Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta. Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan  rencana mereka sendiri. Di sebuah  pondok bambu berbentuk panggung  di tengahpersawahan Rengas dengklok, siang itu terjadi perdebatan panas;

Kalangan Muda mengatakan: Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu….

Lalu apa ? teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah Bung Karno mulai berbicara;

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17”.

4. Penentuan Tanggal 17 Agustus

Mengapa justru diambil tanggal 17?, mengapa  tidak sekarang saja?, atau tanggal 16 ? tanya Sukarni.

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.

Baca juga: https://bungkarno.id/2020/10/22/koneksitas-bung-karno-kh-hasyim-asari-resolusi-jihad-dan-hari-santri/

Di Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno menyatakan wakwa tanggal 17 Agustus yang bertepatan Hari Jumat Tanggal 9 Ramadhan merupakan hasil istikharoh para ulama

5. Sakit Malaria Bung Karno Kambuh

Saat membacakan proklamasi kemerdekaan, Ir. Soekarno dalam keadaan sakit, penyakit malarianya kambuh tepat sebelum proklamasi. Dua jam sebelum pembacaan teks proklamasi, Sukarno masih tertidur pulas di kamarnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat. Suhu badannya saat itu sangat tinggi. Dokter pribadi Sukarno datang dan memberikannya obat untuk menurunkan panas tubuh Bung Karno. Bung Karno lalu bangun pukul 9.00 pagi dan tepat pukul 10.00 Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

6. Proklamasi Kemerdekaan Dilakukan Sederhana

Upacara kemerdekaan 17 Agustus 1945 dirayakan dengan sederhana tanpa musik dan protokol. Latief Hendraningrat, salah  seorang anggota  PETA, segera memberi abaaba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta  maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

7. Tiang bendera yang digunakan terbuat dari batang bambu.

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada  Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan  seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan  satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di  belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah.

8. Mikrofon Curian Radio Jepang

Mikropon yang digunakan Soekarno saat upacara proklamasi 17 Agustus 1945 dicuri dari stasiun radio milik Jepang.

Fakta ini hingga saat ini memang masih menjadi perdebatan. Meskipun pernyataan itu disampaikan Soekarno dalam pidato di hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta 5 Oktober 1966.

Namun, apa yang disampaikan Bung Karno itu dibantah oleh Sudiro, salah satu tokoh yang ikut andil memperjuangkan kemerdekaan dan merupakan mantan sekretaris Menteri Luar Negeri pertama RI Achmad Soebardjo. Menurut Sudiro, pemilik mikrofon itu adalah warga negara Indonesia bernama Gunawan.

9. 100 Barisan Pelopor Minta Dibacaan Ulang Proklamasi

Setelah upacara pembacaan Proklamasi  Kemerdekaan, ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki  halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung  Karno membacakan Proklamasi sekali lagi.  Mendengar teriakan itu Bung  Karno tidak sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu  Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi.

10. Naskah Asli Sempat Dibuang

Naskah asli teks proklamasi yang ditulis langsung oleh Bung Karno dibuang di tong sampah, yang kemudian teks itu ditemukan wartawan asal Aceh BM Diah. Teks proklamasi yang dibuang sendiri merupakan draft yang kemudian diketik ulang oleh Sajuti Melik. Dan BM Diah baru menyerahkan draft itu pada pemerintah pada 29 Mei 1992.

Baca juga: https://setkab.go.id/gallery/ini-naskah-asli-teks-proklamasi-tulisan-tangan-bung-karno-16-agustus-2020/

11. Hanya Tiga Momen yang Didokumentasikan

Latief Hendraningrat lupa untuk menelpon Soetarto dari PFN guna mendokumentasikan peristiwa itu. Namun untungnya ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera, dan sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

12. Dokumentasi Hendak Dirampas Tentara Jepang

Ada kejadian yang cukup menarik lainnya saat Frans Mendoer, fotografer Ipphos yang datang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ternyata didatangi tentara Jepang. Tentara Jepang ingin merampas negatif film dari foto-foto tersebut. Namun Frans memilih berbohong dan mengatakan bahwa filmnya sudah diserahkan kepada barisan pelopor. Padahal Frans ternyata menanam negatif film momen bersejarah itu di bawah pohon di halaman kantor Harian Asia Raja. Hingga saat ini berkat jasanya seluruh rakyat Indonesia dapat melihat suasana detik-detik proklamasi kemerdekaan.

13. Berlangsung Satu Jam

Peristiwa  besar  bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung hanya satu  jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan  yang  luar biasa  dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . Gema lonceng kemerdekaan  terdengar  ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia.

14. Rekaman Ulang Suara Pembacaan Teks Proklamasi

Rekaman suara Soekarno yang membaca proklamasi 17 Agustus 1945 bukan berasal dari tahun yang sama. Rekaman itu dibuat dari suara asli Bung Karno pada 1951 di Radio Republik Indonesia untuk kebutuhan dokumentasi.

15. Sempat Didatangi Tentara Jepang

Selesai  upacara, datang tiga orang pembesar Jepang yang diutus oleh Gunseikan Kakka, untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi. Bung Karno menjawab bahwa Proklamasi sudah diucapkan. Di sekeliling  utusan Jepang itu, mata para  pemuda pelopor melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit.

16. Penyebaran Berita Proklamasi

Para  pemuda, mahasiswa,  serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu  ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

17. Tiga Kali Pindah Ibukota

Setelah kemerdekaan, ibukota Indonesia sempat pindah sebanyak 3 kali dalam waktu 4 tahun. Kota yang dijadikan sebagai ibukota Indonesia diantaranya Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948), dan Bukittinggi (1948-1949).