Presiden Soekarno berpidato dalam perayaan Natal di Gereja Protestan Yogyakarta, Desember 1947/Ipphos-Perpustakaan Nasional

Perayaan Natal di Indonesia menjadi salah satu hari raya penting yang mendapat penghormatan resmi dari Negara. Hal itu sudah hal yang rutin sejak Indonesia Merdeka di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno (Bung Karno). Apalagi, Bung Karno juga bersahabat dengan sekian banyak pejuang dari umat kristiani, baik Katolik maupun Protestan. Beberapa dari mereka juga kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Perjalanan perjuangan Bung Karno memang tumbuh dalam lingkungan Islam bersama HOS Tjokroaminoto, berguru pada pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan, berkonsultasi dengan KH Hasyim Asy’ari dan berdiskusi dengan A Hassan Persis, serta bersahabat dengan KH Mas Mansur Muhammadiyah dan KH Abdul Wahid Hasyim NU.

Namun, hal itu tidak menggerus jiwa kebangsaan Bung Karno, baik dalam laku keseharian hingga dalam laku perjuangan dan kebangsaan.

Baca juga: https://bungkarno.id/2020/12/24/17-fakta-penting-kemerdekaan-indonesia-yang-bikin-merinding/

Sahabat dengan Pastor di Ende

Contohnya adalah ketika Putra Sang Fajar itu menjalani masa pembuangan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 1934. Di Ende Bung Karno bersahabat dengan seorang rohaniwan Katolik bernama Gerardus Huijtink SVD.

Di Ende, Huijtink adalah teman berdiskusi mulai tentang  cara pandang kehidupan hingga tentang kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno. Di Ende pula, Bung Karno dekat dengan orang-orang Katolik di Ende.

Karena kedekatan itulah, pada perjalanannya di masa pembuangan itu Bung Karno bisa mendapatkan izin menyewa gedung gereja milik Paroki Ende sebagai tempat mementaskan tonil-tonil karyanya. Melalui pementasan itu, Bung Karno menanamkan nilai-nilai perjuangan.

Baca juga: https://tirto.id/sukarno-di-antara-natal-sinterklas-hitam-dan-vatikan-cbBG

Singkat cerita, ketika Bung Karno sudah menjadi Presiden, pada tahun 1951 berkunjung lagi ke Ende. Dan dalam kunjungan itu, Bung Karno dalam pertemuannya lagi dengan Pastor Huijtink menyampaikan pertanyaan.

“Dulu, aku datang ke Ende sebagai tahanan dan orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali ke Ende sebagai presiden. Apa yang Pater Huijtink minta dari presiden?,” tanya Bung Karno.

Huijtink lalu menjawab:

 “Tuan Presiden, saya tidak meminta apa pun yang lain. Saya hanya punya satu keinginan: menjadi warga negara Indonesia,” ungkap Huijtink.

Atas jawaban itu, Presiden Soekarno lalu mengatakan:

“Sejak saat ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia memutuskan untuk memberikan kewarganegaraan kepada Pater Huijtink. Hal-hal yang menyangkut urusan administratif akan diatur di kemudian hari,” kata Bung Karno.

Pancasila untuk Semua

Pada pidatonya 1 Juni 1945, pidato yang kemudian hari menjadi rujukan Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, Bung Karno sudah dengan tegas menyampaikan bahwa kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!

Makna dari yang Bung Karno pidatokan itu memang kemudian dipegang teguh, ketika ia sudah menjadi Presiden. Lihat saja bagaimana Bung Karno tetap menghadiri perayaan Natal pada Kamis, 24 Desember 1947, di Gereja Protestan Yogyakarta. Padahal, kala itu dari sisi keamanan juga sangat berisiko di tengah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Sementara gereja itu letaknya tidak jauh dari Istana Negara Gedung Agung, saat Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.

Persatuan Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada 3 Januari 1946, Bung Karno yang menyadari situasi makin gawat, maka ia segera menggelar rapat guna memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Yogyakarta menurut Bung Karno lebih aman dari gangguan NICA dan fasilitas kota kecil itu memadai untuk menjadi ibu kota sementara.

Meski menyadari bahwa kehadirannya diawasi oleh Belanda, Bung Karno meyakini pentingnya menjalin hubungan baik dengan semua pihak, termasuk orang-orang Kristen, baik Protestan dan Katolik, guna ambil bagian dalam revolusi Indonesia. Apalagi, di lingkaran pemerintahan Presiden Soekarno juga ada beberapa tokoh Kristen seperti Johannes Leimena, Johannes Latuharhary, dan IJ Kasimo.

Dalam persayaan Natal yang digelar bersama umat katolik dan Protestan itulah, Bung Karno menyampaikan pidatonya.

Baca juga: https://koransulindo.com/soekarno-yogyakarta-dan-perayaan-natal/

Bung Karno hadir selaku pemimpin segenap Bangsa Indonesia, yang di dalamnya terdapat beragam suku dan agama. Karena Indonesia dengan Dasar Negara yaitu Pancasila, adalah satu untuk semua, dan semua untuk satu.

Dalam kondisi yang masih tidak menentu dari sisi kemananan, Pemimpin Besar Revolusi itu menunjukkan bagaimana pentingnya Persatuan Indonesia, terlebih ketika itu saat menghadapi agresi Belanda, dengan NICA yang tindakannya sering merajalela. (Penulis: Rahmat Sahid)