Jasa besar Bung Karno dalam memerdekakan bangsa ini pada akhir hayatnya bagaikan air susu dibalas air tuba. Sampai wafatnya, ia masih mendapatkan label fitnah terlibat dalam gerakan komunis.

Hal itu terjadi akibat permainan politik sekelompok pecundang saat itu dengan membingkainya menggunakan isu gesekan ideologi.

Memang benar, bahwa Hingga kemerdekaan Indonesia dan proklamasi kemerdekaan, gesekan itu tetap nyatanya masih ada. Di era kepemimpinan Presiden Soekarno misalnya, gesekan ideologi bahkan disertai dengan gesekan fisik (pemberontakan).

Padahal, harusnya ketika sudah disahkan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia, bangsa ini adalah untuk semua kelompok, suku, dan agama. Semua untuk satu, satu untuk semua.

Sebagaimana makna Pancasila yang dipidatokan Bung Karno pada 1 Juni 1945, lima prinsip dasar Indonesia merdeka yang disebut Pancasila, yakni Kebangsaan, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Itulah yang kemudian disepakati secara aklamasi sidang BPUPKI, dan kemudian sila-sila itu dirumuskan dengan hasil seperti yang sila-silanya tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Rumusan itu adalah hasil dari Tim Delapan, dan berikutnya dibentuk Tim Semblian, yang mana Bung Karno juga ada di dalamnya. Awalnya, rumusan itu mengasilkan konsensus Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, dan pada 18 Agustus 1945 menetapkan sila-sila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Dengan posisi sebagai penggali Pancasila dari nilai dan budaya luhur bangsa, dan juga terlibat langsung dalam perumusannya, sangat miris ketika kemudian Bung Karno justru menjadi santapan fitnah oleh para aktivis transnasional yang dari sisi ideologi punya kepentingan untuk mengikis, atau bahkan mengganti Pancasila.

Putra Sang Fajar sebagai Bapak Bangsa kemudian difitnah terlibat dalam gerakan komunis (PKI) dalam peristiwa G30S/PKI, yang secara politik menjadi awal untuk menjatuhkan Bung Karno. Suatu logika sesat fitnah tersebut karena bagaimana mungkin Bung Karno terlibat suatu kudeta untuk mengkudeta dirinya sendiri?

Namun, sejarah telah mencatat, bahwa ada dari bagian anak bangsa yang tega memfitnah Bung Karno dengan identifikasi komunis. Mereka yang menjadi bagian dari fitnah itulah yang kemudian berhasil menjatuhkan kekuasaan Presiden Soekarno.

Dan sepertinya itu menjadi pelajaran berharga bagi para pecundang untuk melakukan suatu gerakan politik, bahwa siapapun akan bisa dijatuhkan dengan hantaman isu-isu komunisme. Lihat saja perkembangan saat ini, isu komunisme terus menjadi semacam senjata yang meluncur deras menghantam kekuasaan pemerintahan yang sah mana kala itu yang menjabat adalah ada keterkaitan ideologi dengan Bung Karno.

Presiden Jokowi adalah contoh nyata, yang dalam kepemimpinannya selalu mendapatkan hantaman isu komunisme dari sebagian lawan politiknya. Mereka tidak mau berpikir apakah isu itu logis atau tidak, yang terpenting bisa mempengaruhi publik tentang persepsi Jokowi yang meraka anggap sebagai penerus komunisme di Indonesia.

Bahkan, isu komunisme dengan terstruktur, sistematis, dan massif selalu dialamatkan ke Jokowi dan partai pengusung utamanya PDI Perjuangan sejak awal kompetisi Pemilihan Presiden 2014 lalu, hingga ketika kepemimpinan untuk periode keduanya sekarang ini.

Jika dicerna dengan akal sehat, sulit untuk tidak menarik benang merah bahwa isu komunisme itu memang menjadi desain dan alat politik untuk mendelegitimasi dan menjatuhkan penerus ajaran Bung Karno ketika berkuasa.

Padahal, betapa dedikasi Bung Karno begitu mulia untuk bangsa ini. Sebagaimana ia sampaikan melalui Dedication Of Life berikut ini:

Saja adalah manusia biasa.

Saja dus tidak sempurna.

Sebagai manusia biasa saja tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Hanja kebahagianku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah “dedication of life” ku.

Djiwa pengabdian inilah jang mendjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta mendjadi bekal-hidup dalam seluruh gerak hidupku.

Tanpa djiwa pengabdian ini saja bukan apa-apa. Akan tetapi dengan djiwa pengabdian ini, saja merasakan hidupku bahagia,- dan manfaat.

Soekarno, 10-9-66

(Penulis: Rahmat Sahid)