Tulisan ini untuk Mengenang Almarhum Bapak Taufiq Kiemas: 31 Desember 1942 – 8 Juni 2013

Taufiq Kiemas adalah salah satu tokoh politik nasional yang pernah dimiliki bangsa ini. Dalam pengalaman politiknya, Taufiq sudah pernah terlibat langsung sebagai pendukung kekuasaan saat Presiden Soekarno, lalu menjadi oposisi saat Presiden Soeharto, kembali menjadi penguasa saat istrinya Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden ke-5 RI, hingga kemudian menjadi oposisi lagi. Dan hebatnya Taufiq berhasil menjadi Ketua MPR pada tahun 2009 meskipun partainya yakni PDIP memosisikan sebagai oposisi.

Dalam buku yang ditulis Rustam F. Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan; Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas, dijelaskan panjang lebar bagaimana keterlibatan sosok yang ber­gelar Datuk Basa Batuah ini dalam kancah politik sejak masih remaja.

Digambarkan, Taufiq yang dilahirkan di era pergolakan melawan penjajahan Jepang dan dibesarkan di saat agresi militer Belanda II membuatnya tumbuh menjadi anak yang berani dan berjiwa nasionalis. Apalagi, meski dibesarkan dalam keluarga Masyumi, Taufiq selalu disekolahkan di sekolah sekuler, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang berkumpul sehingga memupuk jiwanya yang plural dan memahami betul apa arti kebhinnekaan.

Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas II Palembang, Taufiq malah membentuk geng anak muda yang diberi nama Don Quixotte. Sesuai namanya yang mengambil tokoh utama novel klasik Miguel de Cervantes, mereka bercita-cita menaklukkan dunia. Tapi kegiatan utama gengnya tak jauh-jauh dari pesta dan hura-hura.

Sampai suatu waktu, 19 Agustus 1960, Taufiq mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang menyatakan secara resmi membubarkan Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di hadapan pengurus dua partai itu.

Sejak itu, Taufiq malah penasaran dengan Soekarno dan pemikirannya. Buku-buku Bung Karno dilahapnya ketika masih duduk di bangku SMA. Tapi Taufiq hanya bisa mengagumi Soekarno diam-diam karena bapaknya sendiri adalah aktivis Masyumi.

Ketika Taufiq masuk Fakultas Hukum, kekagumannya pada Soekarno bertemu penyalurannya. Ketua perpeloncoan yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia, Djohan Hanafiah, mendengar cerita tentang Taufik yang populer dengan Geng Don Quixotte-nya.

Tanpa pikir panjang lagi, Taufiq bergabung dengan GMNI. Misi Taufiq sederhana, ingin suatu saat bisa memimpin PNI dan dekat dengan Soekarno yang diidolakannya.

Sementara di rumah, Tjik Agus Kiemas yang mendengar anaknya, Taufiq Kiemas, masuk GMNI kaget dan sedih. Aktivis Masyumi itu sempat menangis sedih mengetahui Taufiq bergabung dengan GMNI. Sang ayah tak habis pikir, mengapa anaknya memilih masuk GMNI, bukan organisasi kemahasiswaan yang berasaskan Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, Tjik Agus akhirnya memakluminya dan hanya berpesan agar Taufiq siap dengan pilihannya itu.

Hubungan ayah dan anak itu akhirnya membaik lagi. Setelah itu bahkan Taufiq menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul aktivis GMNI Palembang.

Setelah dibesarkan di tengah keluarga Masyumi yang kental keislamannya, Taufiq lalu “merantau” ke kalangan nasionalisme di GMNI. Namun, perantauan pengetahuan­nya belum berhenti di sana.

Pada Maret 1966, koran Noesa Poetra milik Partai Syarikat Indonesia yang dikenal dekat dengan partai yang telah almarhum, Masyumi, menurunkan berita Soekarno terlibat Gerakan 30 September. Partai Nasional Indonesia yang saat itu dipimpin Ali-Surcahman disebut berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Berita ini membuat aktivis-aktivis GMNI Palembang yang saat itu dipimpin Taufiq berang. Pagi-pagi, sebelum koran sempat diedarkan dari percetakan, mereka membakarnya.

Taufiq sebenarnya tak tahu-menahu kejadian itu. Tetapi, tiba-tiba Taufiq didatangi kader-kader GMNI yang menyatakan merekalah pelaku pembakaran. Taufiq yang merasa harus bertanggung jawab menyatakan siap menanggung ulah kawan-kawannya itu.

Pada akhirnya, Taufiq ditangkap aparat keamanan bersama sejumlah kader GMNI Palembang yang lain. Mereka dijebloskan ke dalam sel tahanan Corps Polisi Militer Kodam Sriwijaya, Palembang.

Awalnya mereka berdesak-desakan dengan ratusan tahanan PKI, namun setelah itu mereka ditempatkan dalam satu sel tersendiri.

Saat Taufiq ditahan, keluarganya terkena imbasnya. Bapaknya, Tjik Agus Kiemas, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Jawatan Perdagangan Sumatera Selatan dicopot dari jabatan. Adiknya, Santayana Kiemas, dikeluarkan dari sekolah.

Taufiq akhirnya dibebaskan dari penjara, namun dengan catatan, tak boleh lagi tinggal di Palembang. Saat itu, kebebasan Taufiq dijamin dua jenderal, Jenderal A.H. Nasution dan Letnan Jenderal Alamsjah Ratu Prawiranegara, yang merupakan kenalan ayahnya ketika aktif sebagai tentara.

Begitu bebas, Taufiq lalu merantau ke Jakarta. Namun, tak sampai setahun di Jakarta, pada 1967, ayahnya berpulang. Taufiq sebagai anak sulung kemudian mengambil alih posisi kepala keluarga. Bersama adiknya, Santayana, mereka menghidupi ibunya, Hamzatun Rusjda, tiga adik laki-laki dan lima adik perempuan.

Taufiq membanting tulang melakoni berbagai macam bisnis. Tapi sembari mencari uang, politik tak pernah hilang dari hidupnya.

Kondisi politik yang masih karut-marut setelah kekacauan tahun 1965 membuat Taufiq terus-menerus gelisah. Dia terus membina hubungan dengan mantan aktivis GMNI. Belakangan, dia membina hubungan dengan sejumlah perwira muda Soekarnois.

Namun jaringan ini bocor, Taufiq
lagi-lagi dijebloskan ke dalam penjara di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Di penjara yang dikatakan Taufiq bak Hotel Indonesia itu, dia berkumpul dengan tahanan-tahanan politik kaliber nasional dari berbagai aliran. Di situlah Taufiq berkenalan dengan tokoh-tokoh dari aliran Islam ekstrem, Soekarnois, dan kader-kader PKI dan organisasi massa underbouw-nya.

Satu setengah tahun mendekam di penjara itu membuat ilmu politik Taufiq semakin kaya. Taufik mendapatkan satu hal: “Kalau mau main politik, harus punya jaringan yang luas. Dan untuk membina jaringan politik itu, sikap apriori sedapat mungkin harus dihilangkan bahkan terhadap lawan
politik sekalipun.”

Itulah kenapa Taufiq menjadi politisi andal yang diakui semua kalangan. (Penulis: Rahmat Sahid)