15 masjid dengan jejak dan sejarah Bung Karno, di antaranya publik secara umum belum mengetahuinya. Sebagaimana foto saat Presiden Soekarno shalat di Amerika Serikat (infografis/bungkarno.id)

15 masjid dengan jejak sejarah Bung Karno, yang di antaranya publik secara umum belum mengetahuinya.

Kecintaan Bung Karno kepada Islam salah satunya terlihat melalui kedekatannya dengan masjid. Saat berkunjung ke berbagai negara, Bung Karno sering memberi perhatian pada masjid, atau setidaknya mengunjunginya untuk beribadah. Bahkan ada masjid yang karena peran Bung Karno, bisa berdiri tegak dan indah setelah sebelumnya hanya menjadi gudang.

Masjid menjadi salah satu tujuan Bung Karno saat berkunjung ke sebuah negara. Bahkan saat mengunjungi dua negara terbesar saat itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet, Bung Karno seakan mengajak pemimpinnya untuk memberikan perhatian pada masjid. Bung Karno seakan ingin menunjukkan kepada dua negara beda blok politik itu untuk memperhatikan masjid dan umat Islam pada umumnya. Dengan mendatangi masjid, Bung Karno seakan menunjukkan kepada dua negara itu bahwa ia adalah sosok pemimpin negara Islam yang besar.

Sebagai seorang artsitek dan seniman, Bung Karno juga mengetahui dan paham bagaimana seharusnya rumah ibadah itu berdiri dan dibangun. Dalam masa pemerintahannya, Bung Karno tidak hanya berkontribusi dalam menyetujui pembangunan masjid, namun juga memperhatikan arsitektur, seni dan kekohohan bangunan rumah ibadah itu.

Bung Karno bahkan juga pernah diminta untuk memberikan nama sebuah masjid, hal itu disanggupi oleh presiden Indonesia pertama tersebut. Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan yang luas, Bung Karno tentu tidak memberikan nama yang sembarangan. Nama yang diberikannya pun juga tidak sekadar indah, namun juga mempunyai filosofi yang cocok dengan masjid yang akan dibangunannya.

Nah, dalam sejarah hidupnya, terutama saat menjabat sebagai Presiden Indonesia pertama, ada sejumlah masjid tidak tidak bisa dilepaskan dari sosok atau peran Bung Karno. Dalam bab ini, penulis akan mengulas sejumlah masjid tersebut, dan seperti apa peran dan jejak Bung Karno di dalamnya. Berikut 15 masjid yang punya jejak dan sejarah dengan Bung Karno:

1. Masjid Istiqlal

Inilah salah satu masjid kebanggaan Umat Islam di Indonesia. Di tengah keterbatasan anggaran dana pemerintah saat itu, Bung Karno tetap bersemangat untuk membangun masjid megah ini. Masjid yang kemudian diberinama Istiqlal (kemerdekaan) tidak hanya dibangun megah, namun Bung Karno juga ingin bangunannya kuat dan bisa bertahan beberapa abad lamanya.

Bung Karno tidak hanya membangun fisiknya, namun juga terlibat dalam meletakkan nilai-nilai filosofisnya. Ia juga terlibat dalam menentukan lokasi masjid ini. Pada awalnya, masjid ini diusulkan untuk didirikan di daerah Thamrin Jakarta Pusat. Maklum, saat itu Thamrin termasuk kawasan permukiman yang dinilai cocok untuk menjadi tempat berdirinya suatu masjid yang besar.

Namun Bung Karno memilih membangunnya di lokasi yang saat itu masih berdiri taman Wilhelmina, di lokasi bekas benteng Belanda Frederick Hendrik yang dibangun Gubernur Jenderal Van Den Bosch pada tahun 1834. Uniknya, lokasi ini berdampingan dengan Gereja Katedral, rumah ibadah Umat Katolik. Sehingga Istiqlal dan Katedral bisa menjadi salah satu simbol toleransi.

Pemancangan tiang pertama masjid ini kemudian dilakukan oleh Bung Karno pada 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Soekarno memimpin pembangunan Masjid Istiqlal pada 1966. Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 78/1966, Soekarno mulai memimpin kepanitiaan. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik dan Jenderal AH Nasution tercatat sebagai wakilnya.

Sementara itu dari sisi arsitek, dipililah Frederich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen Protestan. Frederich dipilih melalui sebuah sayembara yang tim jurinya dipimpin sendiri oleh Bung karno yang juga seorang arsitek. Frederich mampu meyakinkan para juri sehingga karyanya yang dipilih sekaligus ia mendapapatkan medali emas seberat 75 gram dan uang tunai Rp 25.000.

2. Masjid Baiturrahim Istana Merdeka

Masyarakat umum tentunya tidak banyak mengetahui keberadan masjid ini. Maklum ‘Baiturrahmin’ ada di lingkungan Istana Merdeka Jakarta, yang tidak mudah bagi orang-orang untuk memasukinya.

Masjid ini dibangun atas prakarsa Presiden Soekarno, yang prosesnya berlangsung sejak 1959 hingga tahun 1961. Bentuknya mungil yaitu sekitar 605 meter persegi. Walaupun begitu, masjid Baiturrahian sudah cukup untuk menunjang berbagai aktivitas ibadah orang-orang yang beraktivitas di istana, termasuk persiden. Sejak didirikan, Masjid Baiturrahmin sudah dikapai untuk sembahyang Jumat dan sebagaimana layaknya sebuah masjid, terbuka untuk umum.

Lokasi yang dipakai untuk mendirikan masjid ini dulunya adalah lapangan tenis. Bung Karno menginginkan masjid ini sejajar dengan Istana Merdeka. Namun sebelum itu ia terlebih dahulu berkonsultasi dengan ayah dari Habib Abdurrahkam Al Habsyi Kwitang dan KH Sidiq Fauzi dari Kuningan. Kedua ulama itu kemudian membolehkan masjid tetap sejajar dengan bangunan istana yang sudah ada terlebih dahulu, namun arahnya harus sesuai dengan kiblat.

Bung Karno menunjuk R.M Soedarsono sebagai arsitek masjid tersebut. R.M Soedarsono sendiri merupakan arsitek yang pernah membangun monumen-monumen penting di Jakarta seperti Monumen Nasional (Monas) dan Museum Sejarah.

Pembangunan masjid ini juga langsung di bawah pengawasan Bung Karno. Bahkan Sang Presiden juga ikut mengambil bagian dengan menyusun nuansa struktur bangunan yang lekat dengan nuansa Jawa-Bali.

3. Masjid Salman ITB

Dalam sejarahnya, Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) mempunyai peranan besar dalam pergerakan keislaman dan kegiatan ibadah di kampus para insinyur tersebut.

Sebelum ada masjid di ITB, mahasiswa melaksanakan kegiatan ibadah berjamaah seperti sholat Jumat di gedung Aula Barat ITB. Baru pada 1964, mahasiswa ITB membacakan ikrar untuk membangun sebuah masjid di kampus mereka. Ide ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari Bung Karno, yang merupakan alumnus ITB.

Bahkan nama “Salman” sendiri merupakan pemberian Bung Karno. Tidak hanya menyetujui dan memberi nama, Bung Karno pada 1964 juga menerima tiga delegasi dari Panitia Masjid Salman di Istana Merdeka. Pada saat itu, Bung Karno menyatakan bersedia sebagai pelindung pembangunan Masjid Salman. Seusai pertemuan itu, Bung Karno langsung mengirim surat dengan kop kepresidenan ke rektor ITB yang menyatakan kesediaannya menjadi pelindung.

Nama ‘Salman’ dipilih Bung Karno karena terinspirasi oleh salah satu sahabat Nabi Muhammad, Salman Al-Farisi. Sahabat nabi yang satu ini memang dikenal ahli di bidang teknik. Ia yang merancang parit (khandaq) perlindungan Madinah yang digunakan saat perang yang kemudian disebut dengan Perang Khandaq.

Saat itu kekuatan kaum kafir Quraish Mekkah sangat besar dan siap menyerbu Madinah, tempat Nabi dan para sahabat bermukim. Namun dengan kejelian Salman, dia bisa membuat sistem perlindungan yang tidak bisa ditembus lawan. Sehingga karena frustasi, musuh terpaksa harus mundur kembali, dan Umat Muslim memenangkan peperangan tersebut. Kecerdasan Salman inilah yang diharapkan bisa menginspirasi semua civitas akademika ITB.

4. Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Syuhada yang terletak di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam yang terkenal di Yogyakarta. Popularitas masjid ini setara dengan masjid keraton yang tak terletak di jauh dari Keraton Yogyakarta, tempat Sultan Yogyakarta tinggal.

Sesuai dengan namanya, masjid ini didirikan untuk mengenang para pejuang atau para syuhada dalam Bahasa Arab. Pembangunannya pun memiliki sejarahnya sendiri. Kala itu, Jepang menyerah pada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, pada 17 Agustus 1945. Jepang tetap tak mau mau segera menyerahkan kekuasaan di republik ini, sehingga kemudian ada aksi pengambilalihan perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik, dan jawatan-jawatan yang semula masih di tangan asing. Puncaknya pada 7 Oktober 1945 pemuda-pemuda dan masyarakat Yogyakarta menyerbu Jepang di Kotabaru. Penyerbuan itu membuat para pejuang gugur. Maka untuk memperingatinya dibangunkan masjid Syuhada.

Bung Karno ingin memperingati gugurnya pada ‘Syuhada’ itu dengan adanya pembangunan masjid. Maka kemudian panitia dibentuk dan diketuai Mr. Sa’ad. Sementara lokasinya disetujui oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kemudian dihimpunlah sumbangan dana untuk pembangunan.

Hal yang sangat menggembirakan panitia adalah, selain ada sumbangan moril dari Bung Karno, juga ada sumbangan materiil. Sumbangan materiil yang dimaksud adalah uang sejumlah Rp 100 ribu untuk kemudian dibuat kubah persada. Acara peletakan batu pertama dilakukan pada 23 September 1950 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha dan diresmikan pada 20 September 1952. Bung karno bersama para menteri hadir dalam peresmian masjid itu. Hadir juga Duta Besar Mesir, ketua usaha antara lain Pakistan, kuasa usaha Saudi Arabia, presiden direktur Javanesche Bank Syafruddin Prawiranegara, dan lain-lain.

Masjid Syuhada merupakan masjid termegah di Yogyakarta saat itu. Dan sampai kini, masjid ini termasuk yang terbesar yang ada di Yogyakarta.

5. Masjid PERSIS Bandung

Bandung meninggalkan banyak kenangan bagi Bung Karno. Di kota ini, dia pernah kuliah dan mulai membangun gerakan kebangsaan. Di sini juga ia pernah dipenjara. Juga ada sepenggal kisah asmara dengan Inggit Garnasih.

Tidak heran jika sejumlah bangunan memiliki sejarah bagi Bung Karno di Bandung. Diantaranya adalah Masjid Persis (Pesantren Persatuan Islam) yang terletak Jl. Perintis Kemerdekaan.

Ini merupakan masjid yang dirancang sendiri oleh Bung Karno. The Sukarno Center Bali pun mengakuinya. Hal ini terlihat dari sebuah piagam “The President Sukarno Heritage List” yang dikeluarkan lembaga yang menyebutkan Masjid Persis adalah salah satu warisan Bung Karno.

Masjid yang didirikan pada 1935 ini termasuk masjid tertua di Bandung. Soekarno mendirikan masjid ini karena terispirasi dari Pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang tak lain adalah guru Bung karno. Ia ingin masjid ini bisa menuruskan perjuangan sang guru yang melahirkan banyak tokoh pendiri bangsa tersebut.

Memang saat masih berumus 15 tahun, Soekarno tinggal di rumah Tjokroaminoto sambil melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger Islam, Surabaya. Bersama tokoh tersebut, ia banyak belajar mengenai politik dan Agama Islam.

Masjid ini pernah mengalami renovasi besar-besaran pada 1955, namun juga tidak mengubah menara masjid. Menara itulah warisan Bung Karno untuk masjid ini.

Masjid Persis juga pernah direnovasi pada 1977, karena sudah tidak menampung banyaknya jemaah yang datang beribadah. Renovasi itu pun tidak mengubah menara masjid yang memang sudah menjadi cirinya dan warisan Bung Karno tersebut.

6. Masjid Jamik Bengkulu

Jika datang ke Bengkulu, tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Masjid Jami’ kota ini. Masjid yang terletak di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu ini memiliki nilai sejarah sendiri, karena merupakan masjid yang dirancang sendiri oleh Bung Karno, Presiden RI pertama.

Masjid ini pada awalnya dibangun di kelurahan Kampung Bajak, dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Masjid ini sebenarnya sudah berdiri sebelum Bung Karno diasingkan ke Bengkulu pada 1934. Bahkan masjid sudah berdiri di abad ke-18. Lokasi pada awal abad ke-19 kemudian dipindahkan Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu.

Pada masa pembuangan di Bengkulu itu, Bung Karno ikut merenovasinya dengan membuat rancangan bangunnya sendiri. Dapat dikatakan, bangunan Masjid Jami’ Bengkulu yang ada sekarang adalah hasil guratan tangan proklamator ini.

Bung Karno memanfaatkan betul waktu pengasingannya itu untuk berkontribusi untuk Bengkulu. Ia misalnya mengajar di Sekolah Muhammadiyah Bengkulu. Sementara sebagai seorang insinyur sipil, ia berinisiatif untuk merenovasi masjid tua yang sudah bocor dan sering becek pada musim hujan kala itu.

Biaya untuk renovasi dihimpun sendiri oleh masyarakat. Mereka juga bergotong royong mengambil material bangunan seperti pasir, batu dan lainnya dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara.

Bung Karno membuang semua bentuk lama masjid. Ada bagian yang dipertahankan yaitu dinding yang ditinggikan sekitar dua meter dan lantainya 30 cm

Bagian yang dirancang Bung Karno adalah bagian atap dan tiang masjid. Atap masjid berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan. Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.

Baca juga: http://duniamasjid.islamic-center.or.id/1039/masjid-jamik-bengkulu/

Masjid dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Di Bengkulu, Bung Karno tidak hanya membuat rancangan Masjid Jami, namun juga merancang empat rumah tinggal, tapi hanya dua diantaranya yang dibangun.

7. Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung kini menjadi salah satu tujuan wisata di Paris Van Java tersebut. Sejumlah renovasi pernah dilakukan untuk masjid yang didikan pertama kali di tahun 1810 tersebut.

Salah satu renovasi dilakukan pada 1955, atau menjelang digelarnya Konferensi Asia Afrika (KAA), sebuah peretemuan antara negara Non Blok yang sangat bersejarah di dunia. Saat itu ada perubahan bentuk kubah yang limas menjadi kubah persegi empat menyerupai bawang.

Sebagaimana uang dilansir dari situs Kemenag.go.id, perubahan tersebut merupakan hasil rancangan Presiden RI pertama, Soekarno. Saat itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Namun sayang, kubah berbentuk bawang rancangan Soekarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Saat tahun 1967 terjadi musibah angin kencang yang menimbulkan kerusakan, sehingga kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970.

Perubahan besar-besaran lagi terjadi pada 1973, saat itu berdasarkan SK GubernurJawa Barat tahun 1973, masjid ini diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Saat ini setelah adanya renovasi tersebut, Masjid Raya Bandung memiliki dua menara kembar di sisi kanan dan kiri masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap sabtu dan minggu. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 13.000 jamaah.

8. Masjid Raya Ganting

Masjid yang dibangun pada tahun 1805 di Kota Padang ini mempunyai sejarah perjuangan yang Panjang. Masjid yang oleh warga Minangkau biasa dilafalkan Gantiang ini di masa perjuangan memang bukan hanya menjadi tempat ibadah, namun juga markas perjuangan.

Sebagaimana yang dilansir dari situs Kementerian Agama, kemenag.go.id, Bung Karno pernah datang di tahun 1942. Kala itu, Jepang baru saja menduduki Indonesia, sementara Bung Karno masih berstatus sebagai tahanan yang dibuang ke Bengkulu dan akan diungsikan ke Kutacane, Aceh. Namun sesampainya di Painan, Padang, tentara Jepang sudah lebih dahulu menduduki Bukittinggi sehingga Belanda mengubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Soekarno di Painan.

Mengetahi peristiwa tersebut, pejuang Hizbul Wathan, yang saat itu bermarkas di Masjid Raya Ganting, menjemput Soekarno untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan pedati. Di Padang, Bung Karno tinggal di rumah salah satu pengurus masjid yang tak jauh dari tempat ibadah tersebut. Bung Karno sempat menyampakman pidato yang membakar semangat para pejuang di masjid Masjid Raya Ganting ini.

Di pekarangan masjid ini, Abdul Karim Amrullah atau yang kemudian dikenal dengan panggilan Hamka mendirikan sekolah Thawalib pada 1921. Di Masjid ini juga dijadikan lokasi jambore nasional pertama gerakan kepanduan Muhammadiyah Hizbul Wathan pada tahun 1932.

9. Masjid Raya Sengkang

Masjid Raya Sengkang, di Wajo, Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu ikon kota yang banyak dikungjungi wisatawan. Masjid ini mempunyai sejarah dengan Bung Karno, dimana peletakan batu pertama pembangunan dilakukan oleh Bung Karno langsung pada 12 Desember 1955. Bung Karno sendiri sengaja memilih angka unik dalam menentukan waktu peletakan batu, yakni jam 12.00 tanggal 12 bulan 12. Menariknya lagi, Bung Karno disebut menunjukkan Friedrich Silaban yang juga arsitek Masjid Istiqlal untuk merancang masjid tersebut.

Tidak heran, jika sekarang Masjid Raya Sengkang juga menjadi cagar budaya yang dilestarikan. Masjid yang selesai dibangun pada 1969 ini tetap memperlihatkan bentuk aslinya walaupun sejumlah renovasi telah dilakukan.  Masjid ini mempunyai kubah besar berwarna kuning. Ada dua menara tinggi yang juga menghiasinya. Banyak yang berpendapat jika dilihat kubahnya mirip dengan yang ada di Masjidil Aqso Palestina.

Saat ini masjid tersebut selalu menjadi lokasi ibadah utama di setiap hari besar Umat Islam. Pada saat Hari Raya Idul Fitri, jumlah jemaahnya sampai membludak hingga halaman yang ada di depannya. Sampai ini, masjid Raya Sengkang tetap menjadi banggaan warga sekitar. (disarikan dari berbagai sumber)

10. Langgar Merdeka Laweyan Solo

Bangunan bersejarah yang punya kaitan erat dengan Bung Karno memang sangat banyak, termasuk bangunan tempat Ibadah Umat Islam. Seperti Langgar Merdeka Laweyan, Solo, yang ternyata merupakan pesan dari Presiden ke-1 Republik Indonesia Soekarno.

Seperti dikutip dari viva.co.id dalam artikel berjudul Langgar Merdeka, Bekas Kios Candu Jadi Tempat Salat yang dipublikasikan pada Jumat, 12 Juli 2013, bangunan berlantai dua yang bagian bawahnya digunakan sebagai tempat usaha, itu terletak di Jalan Dr Radjiman No 565, Laweyan, Solo. Bangunan cagar budaya ini terletak di pertigaan jalan masuk menuju kawasan Kampoeng Batik Laweyan.

Langgar ini  memiliki luas bangunan sekitar  179 meter persegi ini dengan ketinggian sekitar 7  meter. Dijelaskan, bahwa pada jaman dulu tempat ibadah  ini merupakan bangunan milik warga keturuan Tionghoa yang digunakan sebagai toko yang menjual candu alias ganja. “Dulu kan belum ada UU tentang Psikotropika. Jadi kemungkinan candu bebas diperjualbelikan,” kata Ketua Yayasan Langgar Merdeka Kampoeng Batik Laweyan, Drs H Zulfikar Husain, seperti dikutip VIVAnews, Jumat, 12 Juli 2013.

Keberadaan dari kios tersebut membuat salah satu saudagar batik Laweyan, H Iman Mashadi prihatin. Ia pun membeli tempat tersebut dan berjanji akan menjadikannya sebagai tempat ibadah. Kemudian saudagar tersebut mewakafkan langgar tersebut.

“Bangunan dibeli sekitar tahun 1940. Kemudian pada tahun 1942 mulai dibangun. Pembangunan langgar berlangsung  sekitar 3 tahun dan selesai bertepatan dengan tahun kemerdekaan RI,” tutur Zulfikar.

Pemberian nama dari langgar ini tergolong bersejarah. Lantaran namanya diberikan oleh Presiden Soekarno. Presiden memberikan nama Langgar Merdeka sebagai representasi kondisi politik kebangsaan saat itu yang sedang merasakan euforia kemerdekaan. Selanjutnya,  peresmiannya  pun dilakukan oleh Menteri Sosial sekaligus ad interim Menteri Agama, Muljadi Djojomaartono.

11. Masjid Taqwa Parapat

Di hampir semua tempat pembuangan Bung Karno oleh Belanda selalu saja ada hal penting yang ditinggalkan, bahkan tidak sedikit peninggalan itu berupa masjid. Seperti peninggalan di tempat pembuangan Bung Karno di Sumatera Utara, tepatnya di Parapat.

Sebagaimana ditulis dalam buku otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, pada akhir Desember 1949, tiga pemimpin Republik Indonesia, yakni Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim, di buang Sumatera Utara. Awalnya mereka ditempatkan di Brastagi. Namun tak lama, ketiganya kemudian dipindahkan ke Parapat, kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di Parapat ketiganya menempati rumah bekas tempat peristirahatan orang-orang Belanda.

Dalam masa pembuangan itu, Bung Karno mengeluhkan karena di kota tersebut belum ada masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat.

“Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah,” ujar Bung Karno.

Dari apa yang dikeluhkan Bung Karno itulah, kemudian di tempat itu dibangun masjid, yang kini dikenal masjid Taqwa Parapat. Masjid Taqwa Parapat bermula dari surau kecil karya putra Batak bernama H. Abdul Halim Pardede, yang berminat mendirikan sebuah surau agar ketika ada tamu dapat shalat dan beristirahat.  Pesan Bung Karno agar di daerah itu dibangun masjid menjadi semangat bagi Abdul Halim Pardede. Dia disebutkan mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid, yang terealisasi pada tahun 1952, dimana peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri agama pada saat itu yakni KH Fakih Usman. Atas bantuan Presiden Soekarno, pembangunan masjid itu cepat selesai.

12. Masjid Raudhatus Sa’adah Musi Rawas

Masjid Raudhatus Sa’adah yang terletak di kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, adalah salah satu masjid yang punya keterkaitan sejarah dengan Bung Karno.

Seperti informasi yang ditulis laman Disbudpar Musi Rawas:

http://disbudpar.musirawaskab.go.id/masjid-raudhatus-sa-adah.html#ixzz5D8rAuBM8

Informasi tersebut menyebutkan bahwa masjid ini dahulunya dibangun pada tahun 1938 dan selesai dua tahun kemudian 1940. Disebutkan bahwa gambar desain masjid itu dibuat Bung karno saat masa pembuangan di Bengkulu.

“Menurut cerita dari masyarakat setempat arsiteknya adalah Presiden Soekarno ketika diasingkan di Bengkulu. Presiden  Soekarno saat itu menghadiahkan gambar masjid ini kepada Pangeran Roes,” demikian informasi yang disampaikan laman tersebut.

13. Masjid Ar-Rabithah Ende

Selama pengasingan di Ende, Bung Karno sering mengikuti shalat Jumat di masjid ini.  Saat ini, Masjid Ar-Rabithah sudah dilakukan revitalisasi, yang merupakan salah satu program strategis di bidang kebudayaan. Program itu berbarengan dengan Revitalisasi Kawasan Bersejarah Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, yakni Pelabuhan; Kantor Pos Militer; Rumah Pengasingan Bung Karno; Taman Rendo-Lapangan Pancasila; Katedral Christo Regi; Gedung Pertunjukan “Immaculata” (Pertecakan “Nusa Indah”); Rumah Pastoran; Eks Toko De Leew; dan Makam Ibu Amsi.

Baca juga: https://bungkarno.id/2021/01/02/jejak-keislaman-bung-karno-di-masjid-ar-rabithah-ende/

Untuk revitalisasi Masjid Ar-Rabithah, Masjid Ar-Rabithah, yang selama pengasingan di Ende, Bung Karno sering mengikuti sholat Jumat, dilakukan revitalisasi area masjid Ar-Rabithah sebagai ruang refleksi pengembangan religiusitas.

14. Masjid Biru Sankt Peterburg Rusia

Masjid Agung Leningrad (kini Masjid Agung St. Petersburg) mungkin tidak akan bisa dinikmati sekarang jika Bung Karno tidak datang ke Uni Soviet (kini Rusia) pada 1956 dilam. Sebab, berkat kedatangan Bung Karno saat itu, bangunan tersebut kembali difungsikan sebagai masjid, tidak jadi gudang lagi seperti saat Bung Karno datang.

Sebagaimana diceritakan dalam buku Sahabat Lama, Era Baru (60 Tahun Indonesia – Rusia) karya Tomi Lebang, terbitan Grasindo (2010), dan juga ditulis oleh Fauzan Al-Rasyid, kolumnis Russia Beyond The Headline (RBTH)- situs Rusia berbahasa Indoensia- dalam artikelnya berjudul: Masjid Biru Sankt Peterburg, Saksi Sejarah Manisnya Hubungan Indonesia-Soviet di Era ’50-an.

Pada saat itu Bung Karno mengunjungi Leningrad, sebuah kota yang menjadi rebutan banyak pihak karena memiliki banyak bangunan dnegan arsitektur menarik. Bahkan bangunan-bangunan di Leningrad tidak kalah dengan Kora Paris Prancis, apalagi terletak di tepi deltas sungai Neva. Saat itu, di Leningrad banyak berdiri pabrik dan pergudadangan. Namun diantara sejumlah bangunan yang ada, Bung Karno tertarik pada sebuah gudang berkubah saat melintasi Trinity Bridge. Melihat dari bentuknya, Bung Karno yakin jika itu adalah masjid. Jika berfungsi baik, masjid itu menurut Bung Karno bisa menampung lebih 3000 jamaah.

Melihat bangunan itu, Bung Karno membatalkan beberapa agenda untuk mengetahui lebih lanjut. Dua menara kembar ditambah sebuah kubah meyakinkan Bung Karno bahwa itu adalah sebuah masjid. Presiden Indonesia itu kemudian meminta rombongan untuk mendatangi bangunan itu.

“Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Soekarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan,” cerita Mufti Besar Sankt Peterburg Zhafar Ponchaev.

Dugaan Bung Karno benar adanya. Gudang itu sebelumnya adalah sebuah masjid yang difungsikan sebagai tempat peralatan medis sejak pecah Perang Dunia II. Dan memang pada Pengan Dunia II, bukan hanya masjid yang dijadikan gudang di Uni Sovyet, namun juga gereja.

Soekarno kemudian bertemu Nikita Khrushchev, sang pemimpin Soviet dan membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi. Pemimpin Rusia kemudian mewujudkan permintaan Bung Karno tersebut. Kini Masjid Sankt Peterburg banyak dikunjungi dan menjadi tempat ibadah ribuan orang. Bahkan jemaahnya pun sering membludak hingga ke luar masjid. Dan dapat dikatakan, Masjid Biru ini menjadi simbol kedekatan Indonesia dan Rusia.

“Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid,” kata Ponchaev.

Dilihat dari sejarahnya, masjid itu dibangun pada 1910. Saat itu warga muslim di Rusia diperkirakan hanya berjumlah 8.000 jiwa. Mereka  adalah pekerja yang berasal dari Selatan Uni Soviet yaitu Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan yang bekerja karawan perusahaan Peter The Great yang memproduksi kapal-kapal.

Masjid ini kembali ke fungsi seperti semula setelah 10 hari Bung Karno meninggalkan Rusia. Ini menunjukkan bahwa bagaimana pemerintah Rusia saat itu menghormati Bung Karno sebagai salah satu pemimpin dunia.

15. Masjid Agung Moskow

Kunjungan Presiden Soekarno ke Masjid Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet yang dikenal dengan nama Masjid Katedral Moskow (Moscow Cathedral Mosque) pada 1959 dianggap sebagai sejarah yang pantas diabadikan oleh pengurus masjid.  Hal ini terlihat saat peresmian yang dihadiri oleh Presiden Vladimir Putin pada 24 September 2015 lalu.  Saat itu, pada peresmian, pengurus masjid menayangkan film dokumenter sejarah masjid yang diantaranya menghadirkan kunjungan Presiden Soekarno ke masjid itu pada 1959. Penayangan video ini membuktikan bahwa Bung Karno sangat spesial bagi masjid tersebut. Memang Bung Karno sendiri saat itu dikenal sebagai pemimpin yang dihormati pemimpin negara yang kala itu bernama Uni Soviet.

“Saya sangat terharu dan bangga karena tadi selama sekitar 15 (menit) sempat diputar film kunjungan Presiden Sukarno ke masjid ini. Semua hadirin termasuk Presiden Putin juga menyaksikan tayangan tersebut,” kata Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun, dalam keterangan resmi yang dirilis Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow, Kamis, 24 September 2015.

Djauhari mengungkapkan, semua hadirin termasuk Putin, terpaku menyaksikan tayangan itu.

“Ini membuktikan bahwa jejak-jejak Presiden Sukarno ternyata masih ada dan dihargai di sini”.

Masjid Agung Moskow didirikan pada tahun 1904, direstorasi sejak 2005 dan menjadi masjid terbesar di Eropa. Masjid yang diresmikan Putin itu mampu menampung 10 ribu jemaah dan didirikan tepat menjelang umat muslim merayakan Idul Adha.

“Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Moskow dan setelah direkonstruksi menjadi salah satu yang terbesar di Eropa dengan penampilan yang sangat modern dan menjadi kebanggaan bangsa Rusia yang multi etnis dan multi religi,” ungkap Putin saat pidato peresmian.

Dalam peresmian itu, hadir antara lain Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Menurut Putin, Islam sangat berperan dalam sejarah negara beruang merah itu. Karenanya, Masjid Agung Moskow diharapkan Putin dapat menyebarkan ide-ide humaniter.

“Islam sesuai hukum Rusia merupakan salah satu agama tradisional di Rusia,” ujar Putin.

“Setulusnya saya ucapkan selamat atas pembukaan Masjid Agung Moskow. Ini merupakan peristiwa penting bagi umat Muslim Rusia,” ungkap Putin. (RS)