Syaikh Ahmad Sukarti Pendiri Al-Irsyad adalah salah satu Penopang Revolusi Bung Karno yang turut berperan dalam Kemerdekaan Indonesia (infografis/bungkarno.id)

Syekh Ahmad Surkati Pendiri Al-Irsyad Jadi Penopang Revolusi Bung Karno. Al-Irsyad merupakan merupakan salah satu organisasi Islam yang berdiri sebelum kemerdekaan Indonesia. Peran organisasi ini juga tidak sedikit dalam mewujudkan Indonesia merdeka, bersama organisasi lainnya seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad pada tahun 1914 adalah Syekh Ahmad Surkati.

Sebagaimana diungkapkan Umar Hubeis dalam bukunya Al-Irsyad Setengah Abda, bahwa pada masa Revolusi Indonesia Al-Irsyad ikut mengisi jiwa Bangsa Indonesia memperthankan Kemerdekaan Indonesia untuk melawan dan mengganyang imperialis-kolonialis Belanda. Hal ini dibuktikan, melalui pernyataan Bung Karno tentang peran besar Al-Irsyad ini saat hadir di Kongres Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Solo pada tanggal 19 April 1951. Menurut Bung Karno, Pergerakan Al-Irsyad dan Muhammadiyah telah dapat ikut mempercepat Revolusi Besar Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: https://bungkarno.id/2021/01/20/soekarno-dan-islam-dialog-pemikiran-modernisme-islam-di-indonesia/

Dalam buku ‘Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa’ yang ditulis Hussein Badjerei, terbitan Presto Prima Utama (1996) disebutkan, pada masa mengisi kemerdekaan, Al-Irsyad melalui salah satu badan otonomnya, Pemuda Al-Irsyad setia berada di belakang Bung Karno untuk mengusung agenda revolusi. Dukungan pada Bung Karno ini misalnya disampaikan organisasi tersebut saat berulang tahun -25 pada 1964.

Baca juga: https://www.expose.co.id/cerita-bung-karno-bagaimana-dahsyatnya-al-quran/

Dukungan nyata Pemuda Al-Irsyad ditunjukkan pada masa Dwikora, yaitu saat terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia di awal dekade 1960-an. Politik konfrontasi yang dianut Pemerintah Soekarno menganggap Malaysia adalah bagian dari proyek Nekolim yang pembentukannya dipaksakan oleh Inggris guna mempertahankan kepentingannya di Asia Tenggara.

Pengakuan Bung Karno

infografis/bungkarno.id

Dukungan Al-Irsyad juga terlihat saat Presiden Sorkarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959, yang berisi pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian undang-undang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD 1945.

Dekrit ini mereka nilai sebagai upaya penyelamatan negara hasil proklamasi di tengah ketidakstabilan politik. Semua dukungan ini memperlihatkan bahwa al-Irsyad mempunyai hubungan yang erat dengan Bung Karno. Pada masa itu mereka saling percaya dan mendukung.