KH Saifuddin Zuhri merupakan menteri agama periode 1962-1967, atau menteri agama terakhir di masa kepemimpinan Bung Karno. Saat diangkat menjadi Menteri Agama, usia KH Saifudin Zuhri 43 tahun. Ia adalah ayah dari Menteri Agama Kabinet Kerja, Lukman Hakim Saifuddin (infografis/bungkarno.id)

KH Saifuddin Zuhri merupakan menteri agama periode 1962-1967, atau menteri agama terakhir di masa kepemimpinan Bung Karno. Saat diangkat menjadi Menteri Agama, usia KH Saifudin Zuhri 43 tahun. Ia adalah ayah dari Menteri Agama Kabinet Kerja, Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam buku KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta: LKIS,2013: halaman 627, dijelaskan bagaimana pertimbangan Bung Karno menunjuk Saifudin sebagai Menteri Aagama. Bung Karno pun mengaku telah mengikuti sepak terjang Saifuddin, baik sebagai wartawan, politisi, dan pejuang.

“Penunjukan Saudara sudah saya pikir masak-masak. Telah cukup lama saya pertimbangkan. Sudah lama saya ikuti sepak terjang Saudara sebagai wartawan, politisi, dan pejuang. Saya dekatkan Saudara menjadi anggota DPA. Saya bertambah simpati. Baru-baru ini Saudara saya ajak keliling dunia, dari Jakarta ke Beograd, Washington, lalu Tokyo. Saya semakin mantap memilih Saudara sebagai Menteri Agama,” ujar Bung Karno ketika itu.

Baca lebih lengkap di: https://bungkarno.id/

Sejak saat itu, mantan Sekretaris Jenderal PBNU dan juga Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat ini dekat denga Bung Karno. Mereka bahkan tidak hanya dekat dalam hal urusan ‘keagamaan’ dan acara-acara besar agama-agama, namun juga berbagai kegiatan lainnya. Bahkan Saifuddin merupakan sosok yang mengusulkan nama Gelora Bung Karno untuk stadion terbesar yang saat ini masih di lingkungan Senayan Jakarta.

Nama Gelora Bung Karno

Masih merujuk buku Berangkat dari Pesantren, pada suatu pagi sambil minum kopi, beberapa orang menteri berkumpul di serambi belakang Istana Merdeka. Di antara mereka hadir Menteri Olahraga Maladi, Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, Menteri Agama Saifuddin Zuhri, dan beberapa pejabat sipil dan militer. Mereka tengah membicarakan nama untuk kompleks olahraga yang terletak di Senayan untuk penyelenggaraan Asian Games IV. Mereka sepakat memberi nama Pusat Olahraga Bung Karno, namun Saifuddin tidak setuju.

“Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga,” kata Saifuddin dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Semua mata tertuju kepadanya.

“Mengapa?” tanya Sukarno.

“Kata ‘pusat’ pada kalimat ‘Pusat Olahraga’ itu kedengarannya kok statis tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga,” jawab Saifuddin.

“Usulkan nama gantinya kalau begitu,” kata Sukarno.

“Nama ‘Gelanggang Olahraga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” kata Saifuddin menjelaskan. “Nama Gelanggang Olahraga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno. Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga.”

“Wah, itu nama hebat. Saya setuju!” Sukarno menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sukarno memerintahkan Maladi untuk mengganti nama Pusat Olahraga Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno. Pada 21 Juli 1962, Sukarno meresmikan Gelora Bung Karno yang berkapasitas 110.000 orang.

infografis/bungkarno.id

Dalam rangka desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Pada 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan nama Gelora Bung Karno.

Dalam hal personal, Saifudin Zuhri juga punya hubungan baik dengan Bung Karno. Sebagaimana Bung Karno ceritakan Bung Karno saat pidato pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, di Istana Negara, Jakarta, 1 Juli 1966. Bahwa dalam ucapan ulang tahun yang disampaikan Saifuddin Zuhri kepada Bung Karno pada ulang tahun 6 Juni 1966,  melalui surat, Saifuddin Zuhri memberi nasihat kepada Bung Karno.

“Suratnya sampai begini panjang. Pokok nasihat Saifuddin Zuhri ialah, jikalau Bapak di dalam kejayaan, bersyukurlah kepada Tuhan. Jikalau Bapak di dalam kesulitan, di dalam rintangan….. Wah, ini nasihat Saifuddin Zuhri betul-betul saya perhatikan. Sambil aku melihat, Muhammad dulu kala mengalami kesulitan, sabarnya bagaimana?,” beber Bung Karno.