Bung Karno, Megawati, Guntur, Ibu Fatmawati

Malam itu, guntur seperti hendak membelah angkasa.

Cindy Adams dalam buku Bung Karno, Penyambung Li­dah Rakyat Indonesia menulis tentang suasana malam berguntur dan hujan deras dari langit Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Malam itu diingat betul oleh Soekarno. Yakni malam lahirnya Megawati Soekarnoputri.

“Aku takkan melupakan peristiwa malam 23 Januari 1947 itu. Malam itu, guntur seperti hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah disediakan rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam. Atap di atas kamar runtuh. Awan yang gelap dan berat melepaskan bebannya. Sontak, air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sungai. Dokter dan para juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga perkakas dokter, kain seprei. Pendeknya, semua basah. Di dalam kegelapan malam, hanya dengan cahaya pelita, lahirlah putri kami. Kami menamakannya Dyah Perma­ta Megawati Setiawati Soekarnoputri.” (Bung Karno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Suasana yang digambarkan Bung Karno itu, bisa ditafsirkan bahwa Ia dalam suasana kebathinan yang begitu dramatis sekaligus heroik. Maka, tidak mengherankan ketika banyak yang menafsirkan bahwa dari tanda-tanda alam kelahiran Megawati memang sudah dihadapkan pada tempaan yang luar biasa. Hingga dalam perjalanan hidup dan politiknya pun terus mendaptkan tempaan, yang membuatnya matang dan besar sebagai pemimpin dan politikus negarawan.

Dalam suatu kesempatan, Megawati pernah menceritakan, bahwa selain sosok Bung Karno, ada empat perempuan yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Pertama adalah eyang putrinya, yang tak lain adalah ibu Bung Karno.

“Beliau termasuk sosok yang sangat progresif di mana bisa mendobrak adat Bali waktu itu,” katanya.

Kedua adalah nenek dari pihak ibu, Fatmawati. Mega menceritakan, neneknya yang berasal dari Sumatera merupakan istri seorang guru yang kemudian menjadi pengusaha. Ketiga yang memengaruhi hidup Mega adalah ibu­nya sendiri, Fatmawati. Dia mengagumi Fatmawati atas kelembutan sekaligus ketegaran dan ketegas­an saat Bung Karno mencintai wanita lain.

Sosok perempuan keempat yang memengaruhi kehidupannya adalah pengasuhnya sejak kecil, Bu Citro. Dia menceritakan, Bu Citro tidak pernah mengatakan apa yang dia lakukan itu salah atau tidak benar.

“Dia selalu mendukung. Bu Citro selalu berpegangan pada kata-kata Bung Karno yang menyebut anak perempuannya itu akan menjadi orang besar di Indonesia. Beliau bilang percaya itu,” urainya. (Penulis: Rahmat Sahid)