Hati tunduk, jiwa dan badan harus tegap. Itulah prinsip hidup Bung Karno yang selalu menjadi langkah dalam hidup dan perjuangannya. (Infografis/bungkarno.id)

Hati tunduk, jiwa dan badan harus tegap. Itulah prinsip hidup Bung Karno yang selalu menjadi langkah dalam hidup dan perjuangannya.

Nabi atas ajaran yang didapatkannya dari pada Tuhan, cinta sekali kepada kecantikan, cinta sekali kepada keindahan, cinta sekali kepada kegagahan dan ketabahan. Karenanya, jika mau meneladani Nabi Muhammad SAW, maka hati harus suci dan tunduk pada Allah SWT, tetapi jiwa dan badan harus sigap.

Demikian dikatakan Presiden Soekarno saat menyampaikan khotbah tambahan pada shalat Idul Fitri di halaman Istana Negara/Istana Merdeka, Jakarta, 18 Maret 1961.

“Saya ini sering membaca kitab-kitab syari’ah Nabi, biografi Nabi. Biografi itu yaitu buku yang menceritakan sejarah hidup Nabi kita SAW. Masya Allah, ada satu kitab yang mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah itu manusia yang paling gagah. Kadang-kadang meskipun ia duduk termenung di bawah pohon kurma dengan menyadarkan ia punya tubuh kepada pohon kurma itu, tetapi kelihatan dia punya kegagahan,” kata Bung Karno.

“Nabi kalau berjalan tidak thuyuk-thuyuk, kata orang Jawa, theklik-theklik kata orang Jawa, pelan. Tidak! Jalannya gagah, sigap, bahkan dikatakan cepat dia punya langkah,” imbuhnya.

Agama Islam, kata Bung Karno, menghendaki agar supaya Umat Islam menjadi orang-orang yang demikian itu. Oleh karena itu, janganlah orang Indonesia ini, yang sebagai besar umat Islam ini jiwa klemar-klemer.

“Tegakkan, gagahkan dengan hati yang suci, hati yang tunduk kepada Allah SWT, tetapi badaniah tegak, sigap. Bukan kurang ajar kataku, tidak, tegap, sigap,” tegas Bung Karno.

“Maka saudara-saudara, marilah kita, agar supaya kita bisa mencapai badaniah, material. Manusia yang demikian itu, tegap, sigap, gagah,” imbuhnya.

Dan sikap dan jiwa yang seperti itu, lanjut Bung Karno, sejalan juga dengan cita-cita dari pada Republik Indonesia yang dinamakan nation building, membangun bangsa, membangun satu bangsa yang tegap, sigap, kuat, sentosa, adil, dan makmur, dan tunduk kepada Allah SWT.

“Kunci dari pada usaha ini, hasilnya ialah, jikalau tiap-tiap manusia Indonesia benar-benar dalam hatinya ingin mengagungkan Tuhan, menyembah kepada Tuhan, tetapi juga ingin menjadi manusia tegap, sigap material badaniah, barulah kita saudara-saudara bisa mencapai apa yang dicita-citakan oleh Republik Indonesia, yaitu umat Indonesia, nation Indonesia yang benar-benar menjadi contoh bagi seluruh umat manusia di dunia ini,” ungkap Bung Karno.