NU, Bung Karno, dan Kemerdekaan Indonesia adalah rangkaian jejak sejarah yang tak terpisahkan. (infografis/bungkarno.id)

NU, Bung Karno, dan Kemerdekaan Indonesia adalah rangkaian jejak sejarah yang tak terpisahkan.

Beberapa tokoh Nahdhatul Ulama adalah guru bagi Bung Karno, baik dalam hal keagamaan maupun dalam hal kenegaraan. Kepada para kiai-kiai NU lah Bung Karno sering minta pertimbangan. Bukan hanya untuk mendapatkan pertimbangan tentang agama, namun juga tentang bangsa dan politik.

Di masa perjuangan kemerdekaan, Bung Karno bahu membahu dengan tokoh NU untuk mengusir penjajah dan juga merumuskan dasar-dasar negera. Bahkan untuk hal menentukan hari yang tepat untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia Bung Karno mengutus utuan untuk meminta saran KH Hasyim Asy’ari. Pada masa mempertahankan kemerdekaan pun Bung Karno banyak dibanntu oleh para ulama NU, hal ini misalnya sangat terlihat pada 10 November 1945, dimana fatwa ulama NU yakni Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober telah mengobarkan jihad membuat rakyat rela mati syahid untuk ibu pertiwi.

Maka tak heran ketika disimpulkan bahwa NU, Bung Karno, dan Kemerdekaan Indonesia adalah rangkaian sejarah yang tak terpisahkan.

Di masa pemerintahannya pun NU banyak sejalah dengan garis politik Bung Karno. Misalnya saat Bung Karno mengusung Nasakom, ada NU yang menjadi perwakilan agama disampung PNI nasionalis, dan PKI, perwakilan komunis.

Cinta NU

infografis/bungkarno.id

Tak heran, panjangnya relasi hubungan Bung Karno dan NU ini membuatnya sangat mencintai organisasi yang didirikan oleh KH Wasyim Asy’ari tersebut. Kecintaan Bung Karno secara verbal disampaikan saat menghadiri muktamar NU ke 23, 28 Desember 1962.

“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!”

Dalam kesempatan itu juga, Bung Karno menyampaikan tentang peran NU yang cukup besar bagi bangsa ini.

“Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara,” ujar Bung Karno saat itu.

NU juga dikenal mempunyai banyak kyai yang kharismatik dan mempunyai keilmuan yang sangat tinggi. Tidak heran jika Bung Karno mengaku menjadi sangat nyaman di ‘pelukan’ para kyai. Ia menemukan teman sejati dalam perjuangan. Teman yang tidak mengharapkan yang ada dalam suka dan duka. Bahkan rela menjadi tameng atau bengteng bagi berbagai kebijakan Bung Karno yang kadang ditetang oleh kelompok Islam yang lain.

Bahkan dalam sejarah ada tokoh NU yang rela menjadi benteng hidup saat Bung Karno diserang oleh musuh politiknya, ia adalah KH Zainul Arifin.  Ulama kelahiran Barus Tapanuli Tengah yang pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (1960 – 1963), dan Wakil Perdana Menteri (1953 –1955) ini meninggal setelah ada tragedy Shalat Idul Adha di tahun 1962. Saat itu ada teroris yang menembak ke Bung Karno, namun Kyai Zainul ini menjadi perisai hidup, sehinga peluru mengenai badannya.

Sebagaimana diceritakan dalam buku ‘KH. Zainul Arifin : Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri’, yang ditulis Ario Helmy dan diterbitkan Pustaka Compass (2015), disebutkan bahwa Kyai Zainul juga pernah mendampingi Soekarno melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan bersejarah sepanjang tahun 1956. Salah satunya adalah ketika berkunjung ke Uni Soviet, dimana Indonesia lewat upaya diplomasi tingkat tinggi berhasil membuat pemerintah komunis di Moskow membuka kembali sebuah masjid yang kiji dikenal dengan Masjid Biru sering kali diulas sebagai Masjid Soekarno.

Tidak dapat dielakkan bahwa NU adalah salah satu organisasi yang menyokong Bung Karno dalam mewujudkan cita-citanya untuk Indonesia Merdeka dan meletakkan dasar-dasar negara ini yang kokoh.

Waliyul Amri

infografis/bungkarno.id

Dan sejarah mencatat, Presiden Soekarno pada tahun 1954 diangkat sebagai Waliyy Al-Amr Al-Daruri Bi Al-Syaukah oleh NU.

Desri Juliandri, Maskun dan Syaiful M, dalam tulisannya: Tinjauan Historis Pengangkatan Soekarno sebagai Waliyy Al-amr Aldaruri Bi Al-syaukah oleh NU (FIKIP Unila) mengungkapkan, pemberian atau pengangkatan gelar itu tidak lepas atau tidak bisa dipisahkan dari rangkaian Konferensi Alim Ulama pertama pada tanggal 12-13 Mei 1952 di Tugu, konferensi kedua dilakukan Menteri Agama dengan para Alim Ulama pada tanggal 4-5 Mei 1953 di Bogor dan dipertegas kembali pada tanggal 3-6 Maret 1954 di Cipanas. Tujuan pengangkatan Presiden Soekarno adalah agar rakyat Indonesia terutama umat Islam wajib mentaati perintahnya sesuai syariat Islam.

“Proses pengangkatan Soekarno sebagai Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah oleh NU adalah proses yang panjang dan dan tidak mudah. Berawal pada muktamarnya NU ke-15 yang diselenggarakan bulan Juni 1942 (muktamar terakhir masa kolonial Belanda) dan semakin menguat setelah ditetapkannya kebijakan Menteri Agama tentang tauliyah wali hakim bagi wanita yang tidak memiliki walih nikah untuk daerah-daerah di luar pulau Jawa dan Madura pada tahun 1952.”

“Selanjutnya dikuatkan oleh Konferensi Alim Ulama pertama pada tanggal 12-13 Mei 1952 di Tugu, konferensi kedua dilakukan Menteri Agama dengan para Alim Ulama pada tanggal 4-5 Mei 1953 di Bogor. Dan dipertegas kembali pada tanggal 3-6 Maret 1954 di Cipanas, Bogor konferensi ketiga. Ke putusan ini dikuatkan lagi oleh musyawarah dekan-dekan IAIN di bawah pimpinan Prof. R.H.A. Soenarjo (tokoh NU) di Purwokerto pada 6-7 Oktober 1962. Tujuan NU memberikan gelar Soekarno sebagai Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah adalah untuk mengakhiri dualisme kepemimpinan nasional. Yakni antara Kartosuwiryo yang mengaku dirinya sebagai imam umat Islam dengan gerakan DI/TII-nya dan Presiden Soekarno pada pihak lain.” (Penulis: Rahmat Sahid)

Tagged: