Putra Sang Fajar adalah adalah julukan Soekarno yang diberikan oleh ibunya. Julukan itu karena Soekarno memang dilahirkan saat fajar mulai menyingsing.

Aku Tak Pernah Mengangkat Tangan untuk Memukul Mati Seekor Nyamuk. Ungkapan itu merupakan sikap dari Bung Karno yang begitu menghargai makhluk hidup dan sangat menghormati ciptaan Tuhan.

Sebagai orang dengan bintang Gemini, lambing kekembaran, ia memang sering menunjukkan dua sikap yang berlawanan. Di satu sisi, ia menunjukkan sikap tegasnya menjatuhkan hukuman mati ataupun memenjarakan seorang yang dianggap musuh Negara. Namun, di sisi lain ia tak sampai hati untuk membiarkan seekor burung terkurung di dalam sangkar.

“Pada suatu kali di Sumatera aku diberi seekor monyet, binatang itu diikat dengan raktai. Aku tak dapat membiarkannya! Dia kulepaskan ke dalam hutan,” demikian Bung Karno menyampaikan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Bung Karno kemudian menceritakan pengalaman lain ketika mendapatkan hadiah kanguru, di saat Irian Barat kembali ke pangkuan Indonesia. Binatang itu dikurung. Bung Karno lalu memerintahkan agar kanguru itu dibawa kembali ke tempatnya dan dikembalikan kemerdekaannya.

Sikap berlawanan dari seorang dengan bintang Gemini itu yang mempunyai dua sikap berlawanan itu, Bung Karno menggambarkan dalam ungkapan yang sederhana namun pesannya cukup kuat:

“Aku menjatuhkan hukuman mati, namun aku tak pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor nyamuk,”

Dan bila mendapati nyamuk di sekelilingnya, Bung Karno memilih untuk berbisik kepada sang nyamuk: Hayo, nyamuk, pergilah, jangan kau gigit aku.

Demikianlah, Bung Karno, seorang penyayang, sekalipun terhadap binatang. (RS)