Mati syahid menurut Bung Karno adalah suatu kehidupan abadi menuju jalan Allah SWT atau fii sabilillah

Mati syahid menurut Bung Karno adalah suatu kehidupan abadi menuju jalan Allah SWT atau fii sabilillah.

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat “Jasmerah” adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Berbicara mengenai sejarah, Bung karno memang begitu menghargai para pahlawan bangsa, yang telah berjasa dalam berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Oleh Bung Karno, mereka yang gugur dalam perjuangan melawan penjajah diyakini sebagai orang-orang yang mati syahid, atau syuhada. Sebagai salah satu penghargaan untuk mengenang para syuhada, Bung Karno menginisiasi pembangunan Masjid di Yogyakarta yang kemudian diberikan nama Masjid Syuhada.

Menurut Bung Karno, mereka yang mati syahid itu, syuhadanya tidak mengenal waktu atau sampai akhir zaman, karena mereka sejatinya tetap hidup sebagai difirmankan oleh Allah SWT.

“Siapa yang mati syahid tetap hidup. Hal kesyuhada-an, hal pembangkitan jiwa kita kepada fi sabilillah, kepada jalan satu yang benar-benar, kepada segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT sebagai barang yang benar, termasuk di dalamnya cinta tanah air, membela negara sebagai yang telah dikerjakan pahlawan-pahlawan kita, yang sekarang telah beristirahat di Taman Semaki,” ungkap Bung Karno.