Bung Karno, Megawati, Guntur, Ibu Fatmawati

Presiden perempuan di mata Bung Karno adalah suatu keniscayaan. Revolusi telah mewujudkan kemerdekaan bagi perempuan, termasuk untuk menjadi pemimpin, baik itu pemimpin organisasi hingga pemimpin suatu Negara.

Menurut Bung Karno, terjadinya revolusi telah menempatkan perempuan tidak lagi menjadi warga Negara kelas dua dalam dunia baru ini.

“Di Indonesia seorang wanita bahkan dapat menjadi Presiden dari Negara Republik kami,” demikian ungkapan Bung Karno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Putra Sang Fajar itu kemudian menguraikan sejarah di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dimana terdapat perempuan sebagai panglima.

“Dan beberapa ratus tahun setelah itu gadis Indonesia di desa-desa  kembali menjadi srikandi-srikandi yang gagah dan garang seperti di zaman nenek moyangnya,” kata Bung Karno.

Presiden Pertama Republik Indonesia itu menggambarkan bagaimana perempuan di era perjuangan dengan tampilan rambut dijalin, bercelana panjang, dan bersenjata tommygun dalam pertempuran. Di masa itu, gadis-gadis berjalan pakai rentengan peluru senapan mesin yang diselempangkan ke badan.

“Perhiasan wanita beralih dari intan permata kepada senapan yang mengkilat,” bebernya.

Mengacu pada apa yang Bung Karno sampaikan mengenai peran perempuan, termasuk pelungnya sebagai seorang pemimpin, pada perkembangannya memang terbukti. Di Indonesia, putrid Bung Karno sendiri yakni Megawati Soekarnoputri yang telah membuktikan dalam sejarah bisa menjadi perempuan pemimpin. Ia menjadi Presiden Perempuan Pertama di Republik Indonesia.

Selain itu, terdapat sekian banyak peran perempuan dalam kepemimpinan, baik di organisasi kemasyarakatan, politik, hingga lembaga pemerintahan. (RS)