Putra Sang Fajar adalah adalah julukan Soekarno yang diberikan oleh ibunya. Julukan itu karena Soekarno memang dilahirkan saat fajar mulai menyingsing.

Putra Sang Fajar adalah adalah julukan Soekarno yang diberikan oleh ibunya. Julukan itu karena Soekarno memang dilahirkan saat fajar mulai menyingsing. Kalau di dalam pewayangan adalah Surya Putra, yakni Adipati Karna atau Prabu Karna. Dalam logat Jawa disebut Karno.

Namun demikian, dalam dunia pewayangan, Karno Putra Sang Fajar adalah pengagum tokoh Gatotkaca, tokoh yang dalam perang baratayudha mati oleh Prabu Karna.

Sama seperti Gatotkaca yang sejak lahir digembleng tempaan alam dan dimasukkan dalam kawah candradimuka, sebuah prasarana untuk bisa menjadi jagoan para dewa. Bung Karno juga lahir dengan tanda alam yang begitu dahsyat, yakni letusan Gunung Kelud. Dan Bung Karno sendiri dalam buku karya Cindy Adams mengungkapkan, orang yang percaya pada tahayul meramalkan bahwa letusan Gunung kalud merupakan penyambutan dari lahirnya bayi Soekarno.

Jika dalam dunia pewayangan Gatotkaca digembleng oleh para dewa untuk menjadi jago guna menghadapi  gempuran Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket. Maka Soekarno alias Putra Sang Fajar lahir dalam gemblengan alam guna memimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan.

Sama seperti Dewi Arimbi yang merestui Bayi Tetuko (nama kecil Katotkaca) menjadi jagoan para dewa, Ida Ayu Nyoman Rai ibunda Soekarno juga sudah memberikan restu. Bahkan, ia meramalkan jika putranya kelak akan menjadi orang mulia, seorang pemimpin rakyat.

Soekarno yang dilahirkan tanggal 6 Juni 1901 itu dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia itu menceritakan:

Ibu telah memberikan pangesty kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk di dalam gelap beranda rumah kami yang kecil, tiada bergerak. Ia tidak berbuat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang arah ke Timur, dan dengan sabar menantikan hari akan siang.

Aku pun bangun dan mendekatinya. Diulurkannya kedua belah tangannya dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya. Sambil mendekapkan tubuhku kepadanya, ia memelukku dengan tenang. Kemudian ia berbicara dengan suara lunak, “Engkau sedang memandangi fanar, Nak. Ibu katakana kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing”

Kepada Soekarno kecil, ibunya menyamaikan bahwa orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan bahwa orang yang dilahirkan saat matahari terbit nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu.

“Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar,” demikian pesan sang ibu sebagaimana Bung Karno ceritakan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. (RS)