Negaaara Nasional dan Cita-cita islam punya nilai dan semangat yang sama (infografis/bungkarno.id)

Diskursus Bung Karno dan Ketua Umunm HMI Dahlan Ranuwihardjo tentang Negara Nasional dan Cita-cita Islam relevan untuk kita simak lagi sebagai asupan bergisi dalam khasanah intelektual Islam. Suatu hal yang sangat berharga manakala Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno terlibat langsung dalam sebuah diskursus mengenai kajian dan nilai-nilai Islam dengan civitas akademika, khususnya kalangan Himpunan Mahasiswa Islam.

Diskursus itu dimulai dari surat Ketua Umum HMI kepada diri pribadi Bung Karno, tertanggal Jakarta, 13 April 1953. Bung Karno pun merasa amat gembira atas surat yang dikirimkannya itu Menurut Bung Karno, bukan saja surat itu berisi maksud yang baik, maksud yang pantas di hargai dan di junjung tinggi, tetapi surat itu memberi kesempatan pula kepada Bung Karno untuk terutama sekali di dalam kalangan mahasiswa menguraikan sekadarnya hal-hal yang mengenai “Negara Nasional dan Cita-Cita Islam”.

Respon Bung Karno atas surat Ketua HMI itu adalah dengan hadir langsung pada kuliah umum di Universitas Indonesa, Jakarta, pada 7 Mei 1953, dan menyampaikan ceramah panjang lebar mengenai Negara Nasional dan Cita-cita Islam, sebagaimana isi surat yang disampaikan Ketua Umum HMI.

Bung Karno bahkan meminta kepada Presiden Universitas Indonesia untuk mengadakan undangan kepada semua Fakultas, bukan saja hanya kepada Fakultas Hukum.

Sebelum masuk pada substansi ceramahnya, Bung Karno terlebih dahuli menyampaikan isi surat yang dikirimkan Dahlan Ranuwihardjo.

Berikut isi lengkap surat Ketua Umum HMI Dahlan Ranuwihardjo:

Jakarta, 13 April 1953

Kehadapan Diri Pribadi Bung Karno,

Presiden Republik Indonesia

Di Jakarta

Bung Karno yang kami muliakan! Assalamu’alaikum wr.wb!

Berhubung dengan peringatan Isra dan Mi’raj yang akan diadakan di Istana malam ini, dimana di dalam amanat Bung Karno nanti akan disinggung persoalan sekitar Negara Nasional dan Negara Islam, izinkanlah kiranya kami turut mengemukakan pikiran kami mengenai soal ini.

Pada hemat kami di dalam persoalan ini tersangkut tiga buah probleemstelling pokok, yang masing-masing menghendaki jawaban dan penjelasan.

Probleemstelling yang pertama, ialah mengenai pengertian-pengertian Negara Nasional dan Negara Islam. Pada hemat kami di dalam masyarakat kita masih terdapat kekacauan pengertian tentang keduai istilah ini seolah-olah yang satuadalah lawan dari lainnya. Di kalangan Islam ada yang beranggapan bahwa Negara Nasional adalah lawan dari ide Negara Islam yang mereka cita-citakan, sehingga adanya Negara Nasional dianggapnya sebagai suatu hal yang tidak sesuai dengan cita-cita mereka itu.

Di kalangan bukan Islam ada yang beranggapan bahwa ide Negara Islam adalah bertentangan dengan adanya Negara Nasional, sehingga cita-cita menuju Negara Islam diartikan sebagai cita-cita hendak menghapuskan Negara Nasional yang telah berdiri.

Demikianlah pada pokoknya kekacauan pengertian mengenai kedua istilah ini.

Alangkah akan berfaedah sekali jika Bung Karno malam nanti memberi penjelasan secukupnya mengenai pengertian kedua istilah ini, meskipun di dalam kunjungan Bung Karno Ke Aceh baru-baru ini Bung Karno telah memberi penjelasan sekadarnya.

Probleemstelling yang kedua, ialah mengenai hubungan antara: ideologi Pancasila dengan ideologi Islam. Di samping adanya pendapat bahwa Pancasila adalah tidak bertentangan dengan Islam, ada pula pendapat bahwa juga Islam tidak bertentangan dengan Pancasila.

Selain itu pula ada pula pendapat, bahwa Islam dan Pancasila yang satu terhadap yang lain adalah bertentangan, dan yang di kehendaki ialah atau Pancasila atau Islam.

Lepas dari soal bagaimana hubungan antara Pancasila dan Islam ini, ingin kami kemukakan, bahwa soal ideologi ini adalah soal politik dan soal politik adalah ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan atas negara, hal mana akan ditentukan oleh hasil pemilihan umum nanti. Pemilihan umum sebagai perwujudan dari pada tata demokrasi yang kini dipraktekkan oleh bangsa Indonesia.

Probleemstelling yang ketiga, ialah apakah bangsa Indonesia di dalam hal partai-partai, bersedia memikul segala konsekuensi dari pemakaian tata demokrasi itu, in concreto jika dengan melalui tata demokrasi itu sesuatu golongan memperoleh kemenangan di dalam pemilihan umum, sehingga dengan demikian memegang kekuasaan yang sah atas negara dan dengan berdasarkan kekuasaan yang sah itu menjadikan ideologinya sebagai ideologi negara dan melaksanakannya melalui saluran-saluran ketatanegaraan. Jika hal ini terjadi, apakah golongan-golongan  lainnya akan konsekuen menerima atau aanvaarden hal itu? Apakah akan ada golongan yang menentangnya dan jika golongan yang menentangnya itu. Apakah rechtvaardiging untuk itu? Dengan memajukan pertanyaan secara lain untuk memakai istilah-istilah yang populer, sudah berapa jauhkah golongan-golongan politik di Indonesia sudah mempunyai kesadaraan bernegara dan kesadaran berpemerintah untuk menghormati dan menaati yang mereka telah sama-sama setuju untuk memakainya di dalam lalu lintas ideologi di tanah air kita?

Sebenarnya probleemstelling- probleemstelling di atas tidak khusus hanya berlaku bagi ideologi Islam saja, melainkan juga bagi ideologi-ideologi lain, seperti ideologi sosialisme, komunisme, nasio-sosio demokrasi dan lain-lain sebagainya. Sehingga soalnya bukan saja tentang Negara Nasional dan Negara Komunis, Negara Nasional dan Negara Sosialis, Negara Nasional dan Negara Sosio-Nasio demokrasi dan lain sebagainya.

Di samping satu soalnya juga tidak hanya mengenai hubungan dengan Pancasila dan Islam, melainkan juga mengenai Pancasila dan Sosialisme, Pancasila dan Komunisme, Pancasila dan Sosialisme Demokrasi dan seterusnya.

Demikianlah kami mengemukakan probleemstelling-probleemstelling di atas dan kami akan bersyukur sekali jika Bung Karno suka memberikan jawaban penjelsannya di dalam pertemuan memperingati Isra dan Mi’raj malam nanti, mudah-mudahan dengan itu akan tersingkaplah tabir salah-paham dan ketagangan antara Bung Karno dan beberapa kalangan Islam dewasa ini.

Wassalam

Hormat dan takzim kami

Dahlan Ranuwihardjo

Dan berikut penjelasan Bung Karno dalam ceramahnya mengenai Negara Nasional dan Cita-Cita Islam:

_________

Demikianlah suadara-saudara, surat dari saudara Dahlan yang kami amat hargai tinggi dan sebagai tadi saya katakan, di atasnya saya mengucap banyak-banyak terima kasih.

Tepat dikatakan oleh Saudara Dahlan, bahwa memang banyak salah paham tentang pengertian nasional, pihak nasionalis banyak yang salah paham tentang pengertian Islam. Maka oleh karena itulah aku merasa berbahagia mendapat kesempatan untuk mengupas ala kadarnya soal-soal, beberapa soal yang mengenai Negara Nasional dan Cita-cita Islam.

Apakah ada cita-cita Islam? Marilah aku mulai mengupas dari belakang beberapa soal mengenai Negara Nasional dan Cita-cita Islam.

Apakah ada cita-cita Islam, saudara-saudara? Dengan tegas jawabnya ialah: ya ada. Islam mempunyai cita-cita. Islam mempunya macam-macam cita-cita. Cita-cita mengenai ketatanegaraan punya, cita-cita mengenai kehidupan rohani khususnya sudah barang tentu punya. Di tentang hal ini, saudara-saudara, terutama sekali di dalam kalangan kaum intelektual masih banyak kesalahpahaman. Masih sering kita mendengar ucapan, “Janganlah dibawa, agama di dalam urusan negara, janganlah di bawa urusan agama di dalam hal politik.” Ini adalah tidak sesuai dengan Islam. Islam bukanlah apa yang dinamakan orang satu privaat zaak. Islam tidak mengenal batas antara apa yang biasa disebutkan “agama” dengan kehidupan kemasyarakatan, hidup kenegaraan. Islam bukan satu urusan Istana, Islam adalah satu hal yang menurut pemeluknya, menurut nabinya, menurut kitab sucinya AL-QUR’AN, satu hal yang mengenai, boleh dikatakan segala hubungan antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan manusia. Ucapan agama adalah privaat zaak, sebagai tadi kukatakan, tidak sesuai dengan Islam. Islam adalah bukan sekadar satu cara hidup melulu untuk itu. Tidak. Di dalam bahasa asing dikatakan bahwa di dalam bahasa asing, tetapi di dalam peringatan Islam dikatakan, bahwa Islam adalah satu way of life, Islam is not merely a religion bukan sekadar satu agama – but Islam is a way of life. Satu hal yang mengenai hidup dari pemeluk-pemeluknya seluruhnya. Maka oleh karena itu, saudara-saudara yang menuntut ilmu, hal Islam – kalau memakai perkataan Saudara T.M Usman – menuntut ilmu “Islamologi”, maaf bagi saya istilah “Islamologi” kurang tepat, bagi saudara-saudara yang menuntut ilmu mengenai Islam. Maka saudara-saudara mengetahui bahwa di dalam Islam, agama Islam banyak sekali hal-hal yang mengurusi sesuatu keadaan. Ada yang mengenai kehidupan rohani, ada yang mengenai kepercayaan, tetapi ada pula yang mengenai bagaimana caranya mengurus perkawinan, bagaimana caranya mengurus utang-piutang, bagaimana caranya mengurus kemasyarakatan. Jikalau kita menyelidiki hidupnya Nabi Muhammad Saw. Malahan kita bisa membuat garis yang terang antara dua periode yang tertentu. Periode tatkala Nabis Muhammad Saw, masih tinggal, berdiam di Mekkah. Di dalam periode mekkah, tatkala Nabi terutama sekali berhadapan dengan orang-orang yang tidak beragama Islam, yang belum mempunyai pengertian tentang Tuhan yang satu. Yang Esa, belum mempunyai iman sebagai yang dimaksud oleh Qur’an dan Nabi. Di dalam periode mekkah ini terutama sekali ikhtiar, usaha Nabi Muhammad Saw. Ialah untuk mengisi khalayak ramai ini dengan hal-hal yang mengenai kepercayaan, yang mengenai iman. “Percayalah pada Tuhan dan bahwa Tuhan itu adalah satu”. “Percayalah bahwa engkau nanti akan dituntut di dalam satu Mahkamah Agung yang terakhir.” Soal kepercayaan terutama sekali yang dititik beratkan.

Tetapi tatkala datang di dalam periode Madinah, tatkala masyarakat sebagian besar telah beragama  sebagai yang dikehendaki oleh iman itu tadi, maka Nabi telah mencurahkan ikhtiarnya dan usahanya kepada memberi hukum kemasyarakatan. Mengatur hal keduniawian, mengatur hal perkawinan, mengatur hal utang-piutang, mengatur peperangan dan lain-lain sebagainya. Oleh karena itu, saya ulangi terutama sekali kepada saudara-saudara yang belum paham tentang hal ini, mengertilah bahwa bagi Islam: Godsdienst is geen privaat zaak. Godsdienst Islam is a way life. Cara hidup manusia terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia, meliputi, mengenai tiap-tiap hal di dalam hidupnya manusia itu. Maka oleh karena itu saudara-saudara, apa yang kita lihat di dunia Barat yang dinamakan “De scheiding tussen Kerk en Staat”, perpisahan antara Kerk dengan negara, gereja dan negara, tidak bisa diterima oleh Islam. Memang Kerk tidak terpisah dari StaatKerk di dalam arti kegamaan – bukan dalam arti technisch organisatorisch, sebagai di dalam dunia Kristen. Tidak. Teori atau pendirian: scheiding, perpisahan, antara Kerk dan Staat tidak diterima oleh Islam dan tidak ada di dalam hukum Islam. Demikian pula saudara-saudara, sering di dalam kalangan kaum Nasionalis mengatakan, “Kalau orang Islam berkuasa, nanti diadakan satu pemerintahan teokratis”. Ini pun tidak diterima oleh Islam. Islam tidak mengenal teokrasi, walaupun Islam adalah satu agama. Yang biasa diartikan dengan perkataan teokrasi, ialah pemerintahan kepadrian. Terutama sekali di dalam gereja Katolik melihat persusunan kepadrian. Ada Uskup, bahka ada Paus/Santo Bapa, ada Kardinal, ada Uskup-Uskup ada Pater-pater. Di dalam Islam tidak ada hal itu, Islam tidak mengenal Priesterdom. Islam tidak membutuhkan seseorang padri untuk hubungan langsung antara manusia dengan Tuhan zonder perantaraan padri atau priester. Maka oleh karena itu teokrasi tidak dikenal oleh Islam. Oleh karena itu pula scheiding van kerk en staat tidak ada di dalam Islam.

Saudara-saudara, maka oleh karena itulah tadi aku menjawab, meskipun kita pada hari ini hari terutama sekali mencurahkan pikiran kita tatap terhadap kepada ketatanegaraan, jikalau ditanya adakah Islam bercita-cita terutama sekali pula di atas lapangan ketatanegaraan. Jawabnya ialah dengan tegas: Ya, Islam mempunyai cta-cita ketatanegaraan, walaupun Islam buka menghendaki teokrasi. Walaupun di dalam istilah Islam tidak bisa diterima scheiding tussen kerk en staat. Tetapi Islam mempunyai cita-cita kemasyarakatan, hanya istilahnya lain dari pada kita. Kita memakaki perkataan negara. Negara Nasional, Negara Komunis, Negara Nazi dan lain-lain sebagainya. Entah apa sebab aku tidak menjumpai perkataan “negara” itu dalam kamus Islam. Barangkali karena aku adalah orang awam, sebagai kukatakan kurang mahir di dalam ilmu Islam, malahan sama sekali tidak mengerti Bahasa Arab. Di dalam istilah Islam, saya minta kepada saudara-saudara para alim ulama, kalau ucapan saya ada yang salah, saya harap jangan segan-segan: Bung, salah Bung! Aku cari di dalam kitab-kitab, di dalam perpustakaan yang mengenai Islam, baik yang ditulis oleh orang-orang ilmu fikih, baik yang ditulis oleh orang-orang yang tidak beragama Islam di dalam Bahasa macam-macam, Inggris atau Prancis atau Jerman atau Belanda, aku belum menjumpai perkataan negara tetapi itu tidak berarti bahwa Islam tidak mempunyai cita-cita yang mengenai kemasyarakatan dan kenegaraan yang aku jumpai ialah perkataan misalnya “Daru” “Daru’l Islam”, ada juga perkataan “Daru as salam”, Darus Salam” atau perkataan “Daru el Bawar”, “Darul Bawar”, jadi yang aku jumpai bukan “negara”, entah apa bahasa Arabnya.

Saudara Moh. Kafrawi menjawab, “Addaulah.”

Addaulah itu negara? Bukan souvereiniteit? Aku kadang-kadang menjumpai juga perkataan “jumhuriyah”, artinya: Republik. Tetapi perkataan istimewa untuk negara sebagai bahasa Inggris: negara is a state, bahasa Prancis l’etat, bahasa Jermania untuk negara ist eine staat, di dalam istilah Arab atau Islam aku belum menjumpai. Alhamdulillah, saudara Kafrawi mengatakan, bahwa perkataan buat negara ialah addaulah. Apa ada perkataan addaulah Islam? Tetapi kenapa yang biasa dipakai ialah perkataan Darul Islam? Kata saudara Kafrawi untuk membedakan antara Darul Islam dan Darul Harb. Darul Islam artinya – kalau tidak salah Daru berarti tempat, Darul Islam berarti tempat Islam. Darul Harb – berarti tempat perang atu tempat permusuhan. Jadi disini adalah Darul Islam, disana adalah Darul Harb. Tetapi menurut pendapat saya, ini belum berarti atau mengemui-bahasa Jawa ini mengemui arti negara sekadar tempat Islam, di tempat berlakunya hukum Islam, itu adalah Darul Islam. Tempat tidak berlakunya hukum Islam, tetapi malah tempat berlakunya pertentangan atau permusuhan, adalah Darul Harb.

Aku tadi menyebutkan lain perkataan, yaitu Darul Bawar, neraka. Itulah disebut Darul Bawar. Kalau engkau berbuat maksiat, awas engkau nanti masuk dalam Darul Bawar, tempat “van Verdeomenis, tempat ketenggelaman. Dan saya kira itu tidak staat Verdeomenis, tidak, atau negara Verdeomenis, tidak, sekadar tempat Verdeomenis, ini yang saya dapatkan saudara-saudara. Sampai kepada 10 menit yang lalu, yang saudara Kafrawi mengatakan padaku, bahwa ada perkataan yang spesial untuk negara, yaitu: addaulah. Tetapi aku ulangi perkataan tadi, meskipun tidak memakai perkataan negara atau state atau jumhuriyah atau l’etat, cita-cita Islam mengenai kemasyarakatan, kenegaraan ada. Malahan isi dari pada kenegaraan yang dicita-citakan Islam itu terang pula tertulis di dalam beberapa pokok AL-QUR’AN, di dalam ucapan-ucapan Nabi (Hadis) di dalam riwayat-riwayat. Misalnya tidak salah jikalau dikatakan, “Hai orang yang tidak beragama Islam, janganlah takut kepada Negara Islam.” Itu tidak salah. “Hai orang-orang Kristen, di dalam negara Islam atau di dalam Darul Islam engkau boleh hidup menuntut agamamu.” Itu tidak salah. Memang ada dengan tegas dikatakan, bahwa terjemailah perkehidupan rohani warga negara yang tidak beragama Islam, yaitu yang dinamakan “ahli dzimmi”. Ini tegas. Islam adalah pula suatu agama yang di dalam cita-cita kenegaraan dan kemasyarakatannya menghendaki cara musyawarah, cara yang biasa disebutkan “cara demokrasi”. Tegas di tulis di dalam Qur’an, tegas ada ucapan nabinya, tegas ada cerita-cerita riwayatnya. Akau ceritakan hal ini pada saudara-saudara terutama sekali aku tujukan kepada saudara pihak nasionalis supaya jangan salah paham atau mempunyai pengertian yang salah terhadap Islam atau cita-cita Islam.

Dan saudara-saudara, tatkala aku berdiri di Amuntai menghadapi pertanyaan: Bung Karno, minta penjelasan:negara nasionalkah atau negara Islamkah? Pada waktu itu aku berdiri disana sebagai Presiden Republik Indoensia, tidak sekejab mata apu mempunyai lubuk pikiran di belakang kepalaku ini melarang kepada pihak Islam untuk menganjurkan mempropagandakan cita-cita Islam. Sama sekali tidak. Kita mempunyai undang-undang dasar yang dengan tegas berdiri di atas dasar Pancasila, yang salah satu dari padanya ialah dasar demokrasi. Aku sebagai Presiden pernah mengucapkan sumpah, sumpah presiden. Dulu aku ucapkan sumpah Presiden RIS kemudian oleh karena dianggap bahwa peralihan dari pada sistem federal kepada sistem unitaritis, peralihan dari RIS kepada RI. Kesatuan lagi, bahwa itu tidak mengenai pergantian negara, tapi sekadar “een internewijziging van sifat”. Maka aku pada waktu menjadi, atau dipilih lagi atau  dengan sendirinya menurut . . . jangan salah paham tentang perkataan “sendirinya” nanti ada lagi menyentil . . . Prof. Supomo ahli dalam hal itu mengetahui, bahwa di dalam permusyawaratan, perundingan mengganti RIS dijadikan lagi negara RI Kesatuan, Presiden RIS itu dijadikan pula Presiden Negara RI Kesatuan, ialah sebagai tadi kukatakn pergantian dari Serikat ke Persatuan itu tida dianggap sebagai satu negara dulu hilang, kemudian timbul satu negara baru sehingga perlu memilih Presiden baru. Tetapi dianggap sekadar sebagai wisseling, pergantian dari interne structuur dari satu negara yang sudah ada. Maka oleh karena itu di dalam permusyawaratan lantas diputuskan Presiden RIS “dengan sendirinya” menjadi Presiden RI Kesatuan. Sehingga sumpah – ini mengenai sumpah – yang kuucapkan di Yogyakarta tatkala aku diresmikan menjadi Presiden RIS, di dalam pokok-pokoknya berlaku bagi saya sebagai Presiden RI kesatuan. Walaupun ada perubahan kata-kata sedikit, tetapi pokok-pokok isinya tidak berubah. Pokok isinya yang mengenai ini tadi: bahwa Presiden harus menjunjung tinggi, melindungi, verdedigen en ophouden de constitutie van de staat. Itu baik di dalam teks sumpah RIS, maupun di dalam teks sumpah RI Kesatuan, yaitu namanya Undang-Undang Dasar Sementara RI pokok-pokok itu tetap ada.

Jadi tatkala aku berdiri di Amuntai, berhadapan dengan khalayak ramai, warga –warga negara Indonesia dan mereka tanyakan kepadaku: ini negara demikianlah anggapanku, negara ini, entah negara kemudian, tetapi negara sekarang ini, negara sekarang ini, negara nasionalkah atau negara islamkah? Aku sebagai Presiden juga terikat kepada sumpah: melindungi, menjaga, menjunjung tinggi konstitusi. Aku menjawab juga dengan tegas: negara ini, negara sekarang ini, adalah negara nasional. Sebab tegas pula di dalam preambule (mukadimah) konstitusi itu, baik di dalam konstitusi, Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan sekarang ini tidak diubah akan sifat kenasionalan negara kita ini. Tetapi dalam aku berkata, Negara Republik Indonesia sekarang ini adalah negara nasional. Aku tidak mengurangi sedikit pun hak-haknya tiap-tiap warga Negara untuk mempunyai paham sendiri untuk mempropagandakan paham-pahamnya itu sendiri. Orang Islam, kataku di Amuntai, mempunyai hak penuh untuk mempropagandakan cita-citanya, sebagaimana pun organisasi komunis mempunyai hak penuh untuk mempropagandakan cita-citanya. Itu pun adalah satu anasir sumpah saya. Aku diwajibkan sumpah melindungi konstitusi. Di dalam konstitusi itu ternyata corak nasional dari pada negara, tetapi di dalam konstitusi itu ternyata terjamin hak-hak manusia. Oleh karena itu saudara-saudara, janganlah saudara-saudara mengira bahwa jikalau aku berkata negara ini adalah negara nasional, aku melarang engkau mempropagandakan negara komunis, paham komunis, ideologi komunis, atau engkau mempropagandakan paham Islam, ideologi Islam, cita-cita bahkan umpama di antara kita ini ada satu orang yang bercita-cita national-socialisme, nazidom, fascisme, hak penuh untuk mempropagandakan ideologi nazisme, itu komunis mempunya hak penuh untuk mempropagandakan ideologinya. Saudara-saudara ini bagian pidato saya yang tadi, untuk memberi pengertian sekadarnya kepada saudara-saudara kaum nasional tentang cita-cita Islam dan kepada saudara-saudara Islam tentang hak penuhnya untuk mempropagandakan ideologinya.

Marilah aku sekarang mengarahkan kataku kepada saudara-saudara pihak Islam. Juga kepada mereka itu ada salh paham tentang perkataan nasional sebagaimana di dalam kalangan kaum nasional ada salah-salah paham tentang cita-cita Islam. Apakah salah paham di kalangan pihak Islam tentang perkataan nasional dan perkataan arti nasional itu? Bukan sekarang saja salah paham. Bahkan sebenarnya lama sudah., sudah berpuluh-puluh tahun ada ini salah paham. Maka sebaiknya salah paham ini lekas-lekaslah kita lenyapkan dari bumi Indonesia. Salah paham malahan pernah menghangat runcing bukan sekarang saja. Di dalam tahun ’26. ’27, 25 tahun lebih yang lalu sudah peruncingan salah paham ini, bahkan di dalam kalangan saudara-saudara Islam sendiri ada pertentangan hebat antara soal kebangsaan itu, di dalam Islam boleh apa tidak. Nasional itu di dalam Islam boleh atau tidak? Bukan saja pertentangan antara nasional, orang nasional, kaum nasional, pihak nasional dengan orang-orang Islam, kaum Islam, pihak Islam, sudah nyata ada dua alam, tetapi di dalam kalangan Islam sendiri 25 tahun yang lalu itu ada pertentangan yang hebat.

Aku ingat pada waktu itu aku ada di Bandung, aku mempropagandakan persatuan nasional Indonesia. Aku menganjurkan kepada rakyat supaya mengisi dadanya dengan rasa nasionalisme yang berkobar-kobar. Tetapi aku berkata: awas jangan engkau punya nasionalisme adalah nasionalisme chauvinis. Jangan nasionalisme yang sempit, tetapi hendaklah nasionalisme yang merasa dirinya satu bagian dari seluruh perikemanusiaan.

Pada waktu itu, ya inilah mulai timbulnya yang kukatakan aliran nasional revolusioner di dalam gerakan kita yang nantinya menjelma di dalam bentuk Partai Nasional Indonesia. Pendidikan Nasional Indonesia Partindo, dan lain-lain sebagainya. Di dalam waktu itu di dalam kalangan Islam ada pertentangan yang hebat. Yang sepihak mengatakan, apa yang diperbuat oleh Bung Karno menganjurkan kebangsaan, rasa kebangsaan, kenasionalan tidak salah menurut Islam. Ada satu pihak yang mengatakan, itu adalah salah, oleh karena Islam tidak mau kepada kebangsaan.

Dua golongan di dalam dunia Islam itu saudara-saudara dan anak-anakku, malahan yang satu berupa satu pendirian yang bulat, dari pada hasilnya  Permi. Persatuan Muslimin Indonesia – engkau barangkali – belum lahir pada waktu itu – 27 tahun yang lalu, Permi, Persatuan Muslimin Indonesia yang terutama sekali mempunyai pengikut-pengikutnya terutama sekali di Sumatera Barat pemukanya ialah saudra Almarhum Haji Mochtar Lutfhi. Mochtar Lutfhi yang kemudian di digulkan, kemudian di zaman federal di Makassar dan kemudian ditembak mati di dalam keributan di Makassar beberapa tahun yang lalu. Saudara Djalaludin Tajib adalah seorang pimpinan pula dari Permi. Saudara Rasuna Said, yang sekarang terhormat menjadi Anggota Parlemen, adalah anggota dari Permi, saudara Rasimah Ismail, adiknya Abdul Ghafar Ismail adalah anggota dari Permi.

Terutama sekali Permi, saudara-saudara, mengatakan: Islam mengenal kenasionalan, Islam mengenal kebangsaan. Benar apa yang dianjurkan oleh Bung Karno. Benar pula Bung Karno mengatakan: Awas kepada chauvinistis nasionalisme. Yang Islam pun tidak menghendaki nasionalisme chauvinistis itu. Yang oleh saudara itu diterangkan di dalam Islam adalah menentang ashabiyah. Ashabiyah diharamkan oleh Islam. Jadi benar kalau Bung Karno berkata: jangan bernasionalisme sempit. Tetapi manakala Bung Karno berkata: hai bangsa Indonesia berkobar-kobarlah dengan rasa nasional, dengan rasa kebangsaan, cintailah tanah airmu ini, cintailah bangsamu ini, hiduplah dalam satu alam jiwa nasional! Bung Karno adalah benar tidak menyalahi Islam, demikian pendirian dari Permi, terutama sekali dengan corong mulutnya almarhum Mochtar Luthfi.

Adapun golongan Islam yang menentan: Bung Karno itu salah! Dan juga menghantam kepada Haji Mochtar Luthfi, kepada Djalaludin Tajib, kepada Rasimah Ismail, mengatakan bahwa pendirian Permi adalah salah. Ini golongan terutama sekali berpusat di Bandung di bawah pimpinan saudara A. Hasan. Saudara A. Hasan berasal dari Malaka turunan Keling. Saudara-saudara, jangan tertawa, saya Cuma mengatakan dengan Obyektif. Saudra A. Hasan adalah dari Malaka, beliau adalah keturunan Keling, kemudian bermukim di Bandung. Di Bandung beliau mendirikan perkumpulan yang dinamakan Persatuan Islam atau Persis.

Ini saudara-saudara, Permi golongan Islam kontra Persis golongan Islam. Mengenai apa? Mengenai hal nasionalisme dan nasional. Inilah pertentangan saudara, terhadap paham nasional dan nasionalisme rupanya masih doorsijpelen sampai sekarang, sehingga masih ada pengertian-pengertian salah di dalam kalangan kaum Islam tentang isinya perkataan nasional itu. Demikian pula sebagai tadi kukatakan bahwa di dalam kalangan nasional ada pengertian salah bin salah, maha salah terhadap cita-cita Islam. Jadi sama-sama mis verstand saudara-saudara. Baik ini kita hilangkan. Islam tidak bertentangan sebenarnya menurut pahamku dengan kenasionalan. Tetapi yang selalu disalah weselkan ialah kiranya jikalau engkau nasional, engkau anti agama. Jikalau engkau nasional, engkau memberhalakan tanah air. Tidak! Kalau aku cinta  kepada tanah airku, bukan aku memberhalakan tanah airku. Rasa nasional adalah lepas dari pada itu. Malahan aku berkata: aku pun anti kepada chauvinistis nasionalisme, nasionalisme sempit, jingo nationalism of gain and loss, yang selalu menghitung untung rugi, untung rugi, untung rugi. Itu kita tidak kenal. Kita emoh kepada nasionalisme, yang demikian itu. Maka oleh karena itulah saudara-saudara dari dulu, tatkala kita belum bernegara, aku telah lekas-lekas memformulasikan: Awas, nasionalisme kita bukan nasionalisme biasa, tetapi sosio-nasionalisme dan di dalam zaman republik pun dengan tegas dikatakan, dasar kita ialah Pancasila yang di dalam Pancasila itu bulat diakui perikemanusiaan, bahwa kita hidup di dalam alam nasional itu dengan pengertian, bahwa kita adalah berhubungan erat dengan seluruh perikemanusiaan dan kemanusiaan.

Saudara-saudara mahasiswa, engkau tentu telah mendapat dari mahaguru-mahaguru teori tentang apa yang dinamakan natie atau bangsa. Tidak perlu aku terangkan kepadamu oleh karena engkau terutama sekali dari Fakultas Hukum telah mengetahuinya. Sekadar kepada studen-studen mahasiswa-mahasiswa yang tidak dari Fakultas Hukum, aku anjurkan antara lain supaya membaca kitab-kitab, misalnya – ini yang aku paling senang – kitab Otto Bauer: Die Nationalitaten Frage und die Sozialdemokratie. Baca juga satu kita yang gampang dibeli di dalam book-shops, salinannya Ernest Renan, Prof. Sorbonne yang beberapa puluh tahun yang lalu mengupas soal apakah yang dinamakan natie dan jikalau mau sekadar untuk mengerti paham Bung Karno, bacalah: Lahirnya Pancasila. Di dalam kitab itu dikupas apa yang dinamakan natie. Ernest Renan berkata: natie adalah segerombolan manusia yang terikat satu sama lain oleh rasa ingin bersatu. Satu gerombolan manusia dengan le desire d’etre ensemble, keinginan untuk bersatu. Otto Bauer berkata: yang dinamakan natie ialah satu segerombolan manusia yang terikat oleh pengalaman-pengalaman yang satu Eine gemeinschaft. Jadi menurut Otto Bauer, natie adalah satu karakter-gemeenschap dan geboren is uit een gemenschap van lotgevellen. Satu karakter-gemeenschap, mengenai karakter watak, mengenai jiwa, mengenai batin, persamaan watak, persamaan batin, persamaan kedudukan jiwa yang dilahirkan oleh persamaan pengalaman, ini adalah definis Renan dan definis Otto Bauer.

Di dalam lahirnya Pancasila aku berkata, bahwa aku tidak 100% setuju kepada Renan dan tidak 100% setuju kepada Bauer. Renan sekadar mengingatkan kepada gerombolan manusia yang berjiwa ingin berkumpul: le desire d’etre ensemble; Otto Bauer juga mengenakan dia punya definis kepada Charaktergemeinschaft saja, tetapi tidak membicarakan besar kecilnya golongan manusia itu; tidak membicarakan tentang wilayahnya manusia-manusia itu. Sehingga aku berkata, jikalau kita sekadar berpegang pada Renan atau Otto Bauer saja, tiap-tiap golongan manusia, walaupun, tidak besar, walaupun kecil, asal dia mempunyai le desire d’etre ensemble, asal dia mempunyai Charaktergemeinschaft, erwachsen aus Schiksalsgemeinnschaft, maka itulah sudah bisa diebut natie. Tidak! Menurut pahamku natie memerlukan juga geopolitische eenheid. Geopolitis ternyata satu. Aku tuliskan di dalam Lahirnya Pancasila, bahwa misalnya ternyata tiap-tiap anak kecil bisa mengetahui, bahwa segenap Kepulauan Indonesia adalah satu unit, pulau yang beribu-ribu berpuluh-puluh ribu ini walaupun jumlahnya berpuluh-puluh ribu, tetapi nyata satu eenheid antara Asia, Australia, Lautan Teduh, dan Lautan Hindia, maka yang dinamakan natie ialah segenap rakyat yang berdiam di Kesatuan pulau ini dengan rasa le desire d’etre ensemble. India kelihatan tegas adalah daerah kesatuan, Jepang tegas adalah daerah Kesatuan, pulau-pulau Jepang yang beratus-ratus itu adalah satu kesatuan, maka kataku di dalam Lahirnya Pancasila, satu natie adalah gerombolan manusia dengan le desire d’etre ensemble dengan Charaktergemeinschaft. Tetapi yang berdiam di atas persatuan daerah, yang nyata geopilitis, nyata bahwa ini adalah satu kesatuan.

Inilah artinya nasional bagi saya. Tidak berisi paham antiagama, tidak berisi paham anti lain-lain hal; natie bagi saya adalah itu dari negara nasional, di dalam istilah saya ialah satu negara yang meliputi seluruh daerahnya natie, tidak tiap-tiap negara adalah satu negara nasional, walaupun merdeka, walaupun addaulah, tidak! Di zaman dulu kita kenal negara-negara di tanah air kita ini, yang satu persatu belum negara nasional, padahal berdaulat, padahal merdeka. Tetapi negara-negara itu belum negara nasional, oleh karena belum meliputi seluruh wilayah tanah air bangsa Indonesia.

Engkau dari sejarah tanah airmu mengetahui Singasari berdaulat, tetapi Singasari belum negara nasional. Engkau mengetahui dari sejarah tanah airmu Mataram II berdaulat, terutama sekali di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyakra Kusuma berdaulat, addaulah, tetapi belum negara nasional.

Engkau mengetahui akan negara-negara yang kecil-kecil, demikian pula dari sejarah dunia engkau mengetahui banyak negara-negara yang berdaulat, mereka berdiri sendiri, tidak di- “ereh” oleh bangsa lain, tetapi belum negara nasional. Negara nasional ialah suatu negara merdeka, berdaulat, tetapi meliputi seluruh sekujur badannya sesuatu natie.

Majapahit kataku, adalah dulu negara nasional. Maka jikalau kita menyelidiki akan hal yang demikian. Kita lihat di dunia ini banyak negara nasional, tetapi banyak pula negara-negara bukan negara nasional. Jangan dihubungkan dengan paham, jangan dihubungkan dengan ideologi pro atau ideologi tegen.

Aku berkata RRC sekarang adalah negara nasional, pahamnya, ideologinya komunis. Tetapi RRC adalah negara nasional, oleh karena meliputi seluruh wilayah natie Tionghoa. Aku berkata Soviet Rusia sekarang adalah negara nasional, ialah oleh karena meliputi seluruh wilayah bangsa Rusia, walaupun ideologinya komunis. Republik Indonesia menghendaki berdirinya satu negara nasional, tetapi negara nasional itu baru berupa satu proklamasi, tetapi belum terselenggara 100% di dalam kenyataan.

Saudara-saudara, sebaliknya banyak negara-negara merdeka yang belum negara nasional, oleh karena belum memenuhi syarat kenasionalan ini tadi di dalam istilah yang aku mengerti. Turki sudah negara nasional, Mesir kataku belum, sebab satu bagian dari wilayah natie Mesir, yaitu Sudan belum masuk di dalam teritorium. India, ya kalau tanya padaku, aku lebih senang India dengan Pakistan menjadi satu. Demikian pula, saudara-saudara aku berkata: Tunisia, jikalau umpamanya Tunisia di dalam perjuangannya sekarang terhadap Prancis bisa merdeka penuh, berdaulat penuh, tetapi Tunisia tida akan bisa bersifat negara nasional. Sebab natie yang berdiam disitu meliputi Tunisia, meliputi Maroko, meliputi Aljazair, selama maroko, Aljazair, Tunisia belum tergabung di dalam satu negara, di sana di Maghribi itu, belum satu negara nasional sebagai mana pula menurut istilah saya, selama Mesir dengan Sudan belum bersatu, belum berdirilah satu negara nasional di lembah Sungai Nil itu tadi. Demikian pula sekarang, seribu kali kita berkata, kita berkata oleh karena itu kita hidup di alam persuratkabaran dan perkabaran di waktu-waktu akhir-akhir ini, Laos misalnya diserbu, Laos aka kehilangan kedaulatannya sebagai negara. Aku berkata, meskipun Laos merdeka 100%, lepas dari Franse Unie, Loas tidak negara nasional, Kamboja tidak negara nasional, annam tidak negara nasional, Cochin China tidak negara nasional, oleh karena baik Laos maupun Kamboja, maupun Annam, maupun Cochin China hanya bagian-bagian dari wilayah natie yang sekarang menduduki jazirah yang kita kenal dengan nama Achter-Indie.

Saudara-saudara, saya harap dengan keterangan yang demikian ini terang bahwa paham nasional “heeft niests te maken met ideologie”. Tetapi hanya mengenai wilayah bangsa. Kita melihat di dalam sejarah dunia, saudara-saudara, terjadinya negara-negara nasional. Buka, buka kitab-kitab sejarahmu, apalagi jikalau saudara-saudara buka Otto Bauer tadi, membuka buku-buku sejarah dari Eropa di abad yang akhir ini. Di situ selalu dikatakan: de periode van het ontsteen van nationale staten.

Apakah dulu tidak ada nationale staten? Menurut itu tidak ada, belum ada, Pruisen belum nationale staat. Saksen belum nationale staat, Bejeren belum nationale staat ialah wilayah seluruh Jermania. Pada waktu itu terjadilah di Jermania itu satu nationale staat, in de periode van het onstaan van nationale staten. Italia di zaman sebelumnya Mazzini, Cavour Garibaldi staten. Italia terpecah-pecah. Sesudah dihimpun menjadi satu negara yang meliputi seluruh natie Italia, barulah boleh dikatakan Italia telah menjadi nationale staat.

Aku tulis pula di dalam kitab Lahirnya Pancasila, satu contoh di dunia Timur yaitu terjadinya apa yang dinamakan oleh bangsa Dai Nippon Teikoku, yang dulu sebelum Meiji Tenno, dulu seluruh wilayah bangsa Jepang ini terpecah-pecah di antara beberapa puluh negara yang dikepalai oleh Daimyo-Daimyo, tetapi di dalam pemerintahan Meiji Tenno semua daerah-daerah Daimyo-Daimyo, ini dipersatukan di dalam satu negara nasional yang disebut Dai Nippon Teikoku. Dengan keterangan ini terang bagi saudara-saudara apa yang saya maksudkan dengan perkataan “Negara Nasional”.

Saudara-saudara, maka dalam pada aku berkata, tiap-tiap orang warga negara Indonesia mempunyai hak sepenuhnya untuk mempropagandakan akan ideologinya, mengertilah hendaknya bahwa negara kita sekarang ini sebagai yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 disertai dengan Undang-Undang Dasarnya. Diikuti kemudian oleh Undang-Undang Dasar Sementara RIS, diikuti kemudian oleh Undang-Undang Dasar Sementara Republik. Kesatuan yang sekarang ini, bahwa negara kita sekarang ini adalah negara nasional, walaupun de facto belum 100% nasional kataku, oleh karena masih ada satu daerah yang belum masuk wilayah de facto kita, yaitu Irian Barat. Tetapi di dalam konsepsi kita, kita menuju kepada negara nasional di dalam arti itulah, tidak di dalam arti anti-Islam, anti-Kristen, anti-Budha, anti-Komunisme, kita tidak anti paham saudara-saudara.

Saudara-saudara, aku tadi berkata, “het ontstaan van nationale staten”. Bagi mahasiswa-mahasiswa adalah baik mengenal akan periode ini. Kapan di Eropa berdiri nationale staten? Yaitu pada bagian kedua abad ke-19, tatkala kapitalisme hendak berkambang biak betul-betul, maka pada waktu itu dianggap perlu untuk productive-verhoudingen di Eropa terjadinya kesatuan-kesatuan. Tidak bisa lanjut adanya tolbarieres antara prisen dengan beieren dengan mecklenburg. Dengan saksen dan lain-lain sebagainya. Maka oleh karena itu dirasakan untuk productive-verhoudingen dan productieontplooiing, ini untuk keperluan dagang, untuk keperluan kemasyarakatan dan lain-lain sebagainya, dirasakan perlu untuk membentuk negara-negara yang menjadi satu negara nasional. Terjadilah di bawah pimpinan Graaf Otto von Bismarck satu negara nasional yang pada waktu zaman Otto von Bismarck masih bersusun federal tetapi kemudian dijadikan susunan unitaristis oleh Adolf Hitler di dalam tahun 1934. Terjadilah negara Nasional di Italia, terjadilah juga di dunia Timur di Jepang kataku, oleh desakan dari pada econoraische levens-verhoudingen ini desakan oleh productive verhoundingen satu negara nasional, Dai Nippon Teikoku. Tetapi lihatlah disana di dunia asing yang lain-lain. Anak-anakku dan saudara-saudaraku, proses itu belum berjalan di waktu itu, tatkala Eropa telah membentuk negara Nasional, tatkala Dai Nippon telah membentuk negara nasional, Dai Nippon Teikoku: apakah nasibnya bangsa Asia yang lain? Malahan kehilangan kemerdekaannya, oleh karena kapitalisme yang di Eropa telah membentuk negara nasional ini lantas menjadi satu verzadigd kapitalisme, bahkan berganti corak menjadi monopolistisch kapitalisme. Maka, monopolistisch kapitalisme ini menganakkan menegaskan apa yang dinamakan imperialisme: mencari pasaran di luar batas negara-negara nasional itu. Maka menjalarlah imperialisme itu ke seluruh dunia Timur yang aku di dalam pidato-pidatoku – anak-anakku dan saudara-saudara telah mendengar – bahwa kukatakan garis dari Selat Gilbraltar melewati Laut Tengah, melewati Gentingan Suez, melewati Laut Merah melewati Selat Bab el Mandeb, melewati Samudra Hindia, melewati Selat Malaka, membelok ke utara lagi di Selatan Singapura, bahwa inilah selalu kukatakan “de levenslijn van het moderne imperialisme” yang tergaris sebagai suatu guratan yang berlumuran darah dari Selat Gilbraltar sampai ke dunia Timur bagian Utara. Maka bangsa-bangsa Asia yang berdiam di kanan kirinya levenslijn van het imperialisme ini, kehilangan kemerdekaannya, maka mereka pun kehilangan kehidupan priadi ekonominya. Kehidupan pribadi kebudayaannya, sehingga akhirnya tidak boleh tidak timbul rasa ingin merdeka, ingin lepas dari politieke en economische uitbuiting ini.

Inilah yang dinamakan oleh Herbert Spencer: het reactief verzet van verdrukte elementen. Timbullah yang dinamakan gerakan nasional di Aljazair, Maroko. Timbullah gerakan di Tunisia, di Mesir, di Turki, di India, di Burma, di Thailand, di Indonesia, di Filipina, di Tiongkok. Sebab di Tiongkok pun tidak lepas dari pengaruh imperialisme ini. Sehingga manakala Indonesia adalah koloni, manakala India adalah koloni, manakala Mesir adalah koloni, manakala Indocina adalah koloni. Sun Yat Sen menyebutkan Tiongkok itu adalah suatu hypo-kolonihypo adalah berarti onder, jadi hampir-hampir koloni – maka oleh karena keadaan yang demikian itu dan terutama sekali karena economische uitbuiting, political frustratien, kebudayaan hilang kepribadiannya. Imperialisme lantas mulai sadar, ingin kepada kemerdekaan, ingin kepada kehidupan pribadi, ingin kembali kepada zaman pribadi. Inilah yang dinamakan nasionalisme. En dat heeft niets te maken met anti-Islam, anti komunis, anti paham, tidak tetapi terutama sekali ialah ingin rasa, ingin kembali kepada kepribadian, ingin merdeka, ingin mematahkan rantai-rantai yang mengikat akan tangannya, ingin berdaulat sendiri, ingin menyusun kepribadian kebudayaan sendiri. Inilah nasional dan nasionalisme, saudara-saudara.

Sudah barang tentu tepat benar perkataan pemimpin bahwa gerakan ini bukan bikinanya pemimpin-pemimpin sebagai selalu kuucapkan di dalam rapat-rapat yang barangkali saudara-saudara bosan mendengar keterangan ini. Salah tuduhan bahwa misalnya gerakan Mesir adalah buatan Mustapha Kamil atau buatan Zachrul Pasha. Salah sama sekali. Demikian pula salah sama sekali, jika gerakan di Maroko dikatakan bahwa gerakan nasional di India adalah buatan Veroze Sachmeta atau buatan Dadaph Choenaoriji atau buatan Muhammad Ali atau buatan Syowet Ali atau buatan Sarojin Naidu atau buatan Pandit Jawaharlal Nehru atau buatan Mahatma Gandhi atau buatan Aruna Azhad Ali, atau buatan Abdul Kalam Azad salah sama sekali. Jikalau dikatakan bahwa gerakan nasional di Filipina buatan Mabini atau buatan Aquinaldo atau Quezon, tidak. Gerakan-gerakan ini timbul dari Objective verhoudingen yang dibangun oleh economische uitbuiting, oleh political frustration, oleh cultural frustration itu pula. Ini membangunkan Objective verhoudingen yang meskipun tidak ada pemimpin yang membangunnya, menurut Herbert Spencer, selalu tidak boleh tidak nanti akan timbul satu reactief verzet van verdrukte elementen.

Ini saudara arti nasionalisme, nasionalisme adalah laksana satu kancah, kancah ketidakpuasan, (nasionalisme negatif), kancah ikhtiar terhadap frustration- frustration itu, tetapi juga satu kancah usaha, kancah kedinamisan (kancah positif) dari ikhtiar bangsa-bangsa kembali, hendak kembali, ingin kembali, ingin kembali, kepada kepribadiannya, baik economisch maupuk politisch, maupun cultureel – entah saudara-saudara pernah mendengar, saya kira sudah dan bosan pula mendengarkan citaat saya dari multunya pemimpin Prancis Jean Jaures. Sudah? Belum? Bagus. Jean Jaures mengatakan, menggambarkan, bahwa gerakan ini bukan bikinan orang, tetapi timbul dari reactief verzet van verdrukte elementen, timbul dar pada objective verhoudingen. Jean jaures pernah melindungi (verdedigen) pemimpin-pemimpin Indocina yang dituduh oleh pemerintah Prancis, bahwa mereka itulah pembuat gerakan: bahwa mereka itulah opruires. Jean Jaures berkata demikian terhadap ministeraad yang menuduh pemimpin-pemimpin Indocina, bahkan Pemimpin-pemimpin yang dituduh, bahwa merekalah penghasut rakyat Indocina, sehingga rakyat Indocina bangun. Jean Jaures berkata kepada ministeraad ini:

Ach, mijne heren. Hoe zonderling verblind zijt gij door aan enkele mensen deze universele evolutie die zich in azie voltrekt toe te schrijven. Het is in tegenwoordigheid van deze algemene beweging die de aziatische volkeren meesleept de meest van elkaar stande volkeren in welk klimaat zij ook leven, van welk ras’zij ook zijn, dat gij spreekt van enkele op zichzelf staande opruirers. Maar gij doet hen die gij aldus noemt te veel eer aan. Gij schrift te veel macht toe aan hen, die gij opruirers noemt. Het is niet hun werk geweldige beweging te ontketenen. De zwake ademtocht van een paar mensenmonden is niet bij machte om deze gewelidigde orkaan der aziztische volkeren te doen losbarsten. Neen, neen, mijne heren. De waarheid is de waarheid is, dat deze beweging is voortgekomen uit de diepte der dingen zelf. Zif komtvoort uit de talloze lijdengevalen, die zich tot nogtoe nog niet bijeen voegden maar die in een verlossing roepende machtsspreukhun wachtwoord vonden. Het imperialisme is de grote opruier. Het imperialisme is de grote ophitser; brengt het imperialisme voor uwe politie en uwe gendarmen.”

Inilah kata Jean Jaures. Terang, bahwa gerakan ini bukan buatan manusia, tetapi ditimbulkan oleh karena objective verhoudingen, ada beberapa perkataan yang pelu saya terangkan artinya kepadamu.

Ia berkata: dat deze beweging is voortgekomen uit de diepte der dingen zelf. Zij kwam voort uit de talloze lijdensgevallen die zich tot nogtoe nog niet bijeen voegden, maar die in een verlos-singroepende machtsspreuk hun wachtwoord vonden.

Tadinya memang begitu saudara-saudara, lijdensgevallen, talloze lijden sgewallen die zich tot nogtoe nog niet bijeen voegden. Rakyat yang tertindas pada waktu itu, merasakan tindakan ini masih individueel; si anu merasa tertindas . . . si anu merasa tertindas . . . si anu merasa tertindas, si anu merasa tidak puas, si anu merasa sakit, nog niet voegden. Nog niet menjadi satu perasaan collectief.

Tetapi belakangan saudara-saudara, maar die in een verlossing roepende machtsspreuk hun wachtwoord vonden, apa verlossing roepende machtsspreuk itu? Terutama sekali nasionalisme hidup kembali kepada kemerdekaan, hidup kepada kedaulatan bangsa – kembali – kembali kepada pribadi, kembali kepada onzelf. Tatkala rasa telah masuk di dalam dadanya orang-orang itu. Tatkala itulah bukan lagi perasaan-perasaan individueel yang terpisah satu sama lain, tetapi perasaan-perasaan ini dirasakan sebagai satu perasaan penderitaan bangsa.

Perasaan penderitaan nasional dan sekali lagi, dit heeft niets te maken met agama ideologi. Sudah barang tentu bangsa-bangsa ini, bangsa Maghribi, Maroko, Aljazair, Tunisia, bangsa Mesir, Sudan, Turki bangsa-bangsa yang lain yaitu bangsa India, Birma, Filipina, Indonesia, Tiongkok sudah barang tentu mempunyai pribadi sendiri-sendiri. Mempunyai corak karakter sendiri-sendiri sebagaimana engkau tidak aman karakter dengan engkau. Sebagaimana tiap-tiap manusia satu individualistas, dengan watak sendiri, karakter sendiri, bahkan mempunyai rason d’etre sendiri-sendiri mempunyai mental trends. Sebagai manusia mempunyai individualitas sendiri-sendiri, maka mahaguru di dalam ilmu sosiologi pun telah memberitahu kepadamu bahwa bangsa-bangsa pun mempunyai karakter sendiri, individualitas sendiri, corak  jiwa sendiri. Maka oleh karena itu reactief verzet van verdrukte elementen yang dimaksudkan oleh Hebert Spencer ini meletusnya, uitingsvorm-nya, tidak sama. Caranya meletusnya di Maroko, Aljazair, Tunisia, lain dari cara meletusnya di Mesir, lain dari cara meletusnya di India. Lain dari cara meletusnya di Tiongkok, Indonesia, Filipina mempunyai karakter sendiri-sendiri, plus pengaruh dari binnenlandse verhoudingen sendiri-sendiri. Kalau binnenlandse verhoudingen misalnya sangat feodal, sudah barang tentu reactied verzet ini dihinggapi atau berbarengan dengan rasa anti feodalisme. Kalau binnenlandse verhoudingen banyak grootgrondbezit, sebaliknya banyak sekali orang-orang miskin tidak mempunyai tanah, sudah barang tentu reactief verzet ini dicampuri dengan rasa minta landreform dibawa karakternya sendiri-sendiri. Maka oleh karena itu jikalau saudara-saudara melihat gerakan-gerakan nasional di Asia ini, saudara-saudara melihat satu kaleidoskop yang indah sekali. Satu kaleidoskop ada yang merah, yang kuning, yang hijau, yang blau, yang ini, yang itu tetapi toh saudara-saudara, jikalau bisa pakai istilah Bung Karno: terbang sebagai elang rajawali di angkasa menelaah segenap sejarah. Saudara akan mengerti, oo kaleidoskop ini walaupun di situ kuning, walaupun disini merah, walaupun di situ hijau, walaupun disitu putih, walaupun disitu hitam, walaupun disitu biru, walaupun disitu ungu, walaupun disitu violet, ini adalah satu gerakan, satu kaleidoskop yang tidak terpisah satu sama lain, ialah oleh karena semuanya diakibatkan oleh imperialisme yang berasal dari satu itu tadi.

Saudara-saudara dan di dalam corak macam-macam ini saudara-saudara sering berjumpa ideologieen timbul: pokok dari pada segala gerakan ini adalah nasional. Kaleidoskop ini adalah satu national caleidoscoop. Tetapi kuningnya atau merahnya atau birunya atau hijaunya atau oranyenye atau violetnya kadang-kadang membawa gambar ideologi. Ada yang bercorak Islam, ada yang bercorak sosialisme, ada yang bercorak hinduisme ada yang bercorak nationaal puur nationalisme. Ini karena sebagai tadi itu pertama oleh karena individualitas bangsa-bangsa adalah berbeda-beda. Kedua oleh karena pengaruh binnenlandse verhoudingen itu. Lihat gerakan nasional di Mesir dari dulu coraknya itu corak Islam, dari dulu baca pidato-pidato Mustafa Kamil – dianggap salah. Jangan di-verwar dengan Mustafa Kemal – Mustafa Kamil Pasha. Baca pidato-pidato beliau. Beliau adalah penganjur nasional Mesir pertama. Tetapi ondertoon selalu adalah Islam. Islam, Islam, Islam. Baca pidato-pidato Zachlul Pasha, ondertoon Islam terasa. Apalagi jikalau saudara-saudara membaca pidato-pidato Jamaluddin el Afghani yang ahli di dalam ilmu Islam yang oleh sebagian umat Islam malahan beliau itu dianggap seorang Mujaddid Islam – mujaddid Islam yaitu satu orang een Godsgezonden, tetapi bukan Nabi yang laksana kalau sesuatu agama telah ndlewer, ya sudah melelahlah lantas memperbaiki lagi agama itu, mereparasi lagi agama itu. Itulah yang dinamakan mujaddid. Nah, ini Jamaluddin El Afghani. Walaupun asalnya Jamaluddin El Afghani ini dari Afghanistan  maka oleh karena itu beliau dinamakan el Afghani, Jamaluddin El Afghani, tetapi aktivitas beliau yang terbesar ialah di Mesir. Baca pidato-pidato tulisan-tulisa Jamaluddin El Afghani ini. Corak Islam sudah barang tentu terasa betul-betul, tetapi ondertoon pula nasional, ingin merdeka, ingin lepas dari penjajahan. Oleh karena itu imperialisme Inggris sangat sekali menentang kepada Jamaluddin El Afghani itu. Malahan Jamaluddin El Afghani dikeluarkan dari Afghanistan oleh karena dia menentang kepada Imperialisme Inggris. Kemudian mencari hasil di Mesir sebagai Abdul Karim El Magribi, sekarang hidup di Mesir pula. Abdul Karim pemimpin Maroko yang tatkala engkau belum lahir yaitu 30 tahun yang lalu saya ingat, yaitu tahun 1924, ini Abdul Karim mengadakan geraka Maroko menentang Prancis. Baca pidatonya Abdul Karim di dalam bahasa Prancis – oleh karena beliau itu memang fasih bahasa Prancis – sama sekali ondertoon nya adalah lain dari pada gerakan Mesir, lebih banyak nasionalisme. Tetapi beliau pun tidak lepas dari rasa-rasa Islam. Sebaliknya aku membawa engkau kepada India ini bermacam berlainan coraknya. Aku tadi menyebut namanya pemimpin Froza Zahmeta, sama sekali ini kehinduan, Hinduisme, Hinduisme, Hinduisme, ambil Mahatma Gandhi, dia sendiri berkata, “Aku adalah seorang Hindu tetapi ondertoon-nya anti-Inggris, cari merdeka mengerjar merdeka, berjuang mati-matian untuk kemerdekaan.”Ambillah umpamanya Dadap Hai Nairiji dimana digambarkan orang-orang yang dihisap dan tidak mempunyai tanah. Di sana sudah barang tentu timbul seorang pemimpin sebagai perasaan masyarakat sengasara ini yang menganjurkan sama rasa sama rata, sosialisme, landreform, dan lain-lain. Ini adalah isi pidato-pidato dan tulisan-tulisan Dadap Hai Nairiji, karena beliau sendiri adalah seorang fabian sosialist.

Saudara-saudara mengetahui bahwa dulu di London ada satu perkumpulan kaum intelektual sosialis yang menamakan dirinya fabian-socialist. Antara lain-lain anggotanya ialah Dadap Nai Nairiji, Bernard Shaw yang termasyhur ini juga fabian-socialist.

Ambil baladang kada Hartilak, pemimpin besar India, dia adalah anti-imperialis, pernah dimasukkan penjara 6 tahun lamanya, ant-imperialis, tetapi alasan-alasan untuk nasionalismenya ini dia ambil dari Sifaji cultuur, mengagungkan seorang pemimpin besar agama hindu yang 200 tahun yang lalu pernah memberontak.

Namanya Sifaji, sifaji ini diagungkan, diagungkan. Sifaji, dia pakai sebagai alasan untuk propaganda nasionalismenya. Saudara-saudara maka teranglah bahwa pada waktu itu di seluruh benua Asia ini drang naar vrijheid hidup. Kemudian berujung kepada terjadinya negara-negara merdeka. Terjadi Pakistan, terjadi India, terjadi Mesir, terjadi Birma, terjadi Indonesia, terjadi Filipina. Tetapi saudara-saudara proses membentuk nationale staten masih berjalan di Asian ini.

Kecuali barangkali RRC yang memang sudah nationale staat. Proses membentuk nationale staat masih berjalan dan belum selesai, sudah ada kemerdekaan Mesir, tetapi Mesir sonder Sudan, sudah ada kemerdekaan Indonesia, tetapi Indonesia belum dengan wilayah Irian Barat de-facto. Sudah berdiri negara-negara merdeka lain-lain, tetapi belum tergabung di dalam wilayahnya seluruh bangsanya masing-masing.

Maka oleh karena itulah, kita melihat ikhtiar menghubungkan diri antara kaum nasionalis atau kaum agama Tunisia, Aljazair, Maroko ingin mendirikan satu nationale staat. El Magribi Mesir ingin menggabungkan diri dengan Sudan menjadi nationale staat Mesir. Kita ingin mempunyai di dalam tangan kita suatu nationale staat Indonesia. Jadi proses untuk membentuk nationale staat itu masih berjalan. Engkau melihat Laos, Kamboja, Annam, Cochim China sekarang ini di dalam satu pergolakan yang hebat sekali untuk apa?

Untuk membentuk satu nationale staat yang namanya aku tidak tahu. Proses ini masih berjalan, manakala proses di Eropa telah selesai. Bahkan di Eropa sekarang ini meningkat lagi kepada satu proses baru. Proses lain malahan ingin menggabungkan nationale staat ini menjadi satu super-staat yang besar, oleh karena batas-batas antara nationale staaten dirasakan kurang manfaat bagi definisi ekonomi dan productive leven, timbul lagi ideologi baru yang ingi Eropa yang dianjurkan oleh Aristri de Griant, dianjurkan oleh Geudenhove Colergie, dan belakangan oleh Schuman dan lain sebagainya. Di Amerika pun aku melihat gerakan pan-Amerika menjadi. Sebaliknya di Asia saudara-saudara, proses vorming van nationale staten belum selesai. Maka kita melihat di dunia waktu sekarang ini berjalanlah apa yang saya namakan satu historisch paradox. Paradox adalah satu hal yang dalam batinnya mengandung suatu pertentangan.

Apakah historisch paradox yang sekarang berjalan di dunia ini?

Di Eropa orang hendak menghapuskan batas-batas national ingin mengadakan satu pan-Eropa. Disini orang ingin menanam batas-batas nasional. Ini adalah Indonesia, diluar itu adalah bukan Indonesia ini adalah Indocina, diluar itu bukanlah Indocina. Ini adalah Mesir, di luar itu bukanlah Mesir Besar. Ini adalah Magribi, di luar itu bukanlah Magribi. Proses nationale staten di sini berdiri, berjalan, mengadakan batas-batas. Tetapi ada historisch paradox di bagian lain dari dunia ini malahan ingin menghapuskan, menghilangkan batas-batas yang telah diadakan itu. Tetapi bagaimanapun juga aku minta kepada segenap bangsa Indonesia, baik yang Nasional, maupun yang Islam, maupun yang Kristen, maupun yang Budha maupun yang tidak beragama. Supaya menginsafi benar-benar periode di dalam mana kita sekarang ini hidup dengan tidak mengurangi hak asasi manusia, mempropagandakan ideologinya masing-masing dengan tidak melarang kepada kaum Islam mempropagandakan Islamnya, kaum komunis mempropagandakan komunisnya tiak, tetapi sekadar ingin menganjur-anjurkan, accenten leggen, ingat, accent leggen kepada periode yang kita alami sekarang ini.

Kita sedang di dalam proses kenasionalan. Memang di dalam sejarah adalah lalu dinamakan oleh seorang ahli sejarah yang dinamaknnya historische procesen dan historische haasten. Historische haast dan historische procesen. Apa Historische haast? historische procesen historische haasten apakah itu? Yaitu beberapa golongan kadang-kadang karena belum menyadari betul-betul akan periode hidup alamnya itu lantas tidak sabar lagi, sekarang sudah mau mengadakan satu gerakan lain. Ambil sejarah Franse Revolutie. Entah engkau baca siapa, engkau baca Tiers atau kau baca Jean Jaures, bukunya 4 deel yang tebal-tebal tentang La Grande Revolution, baca di dalam kitabnya Jean Jaures La Grande Revolution itu Historische haast yang diadakan oleh Babeuf di dalam proses pertumbuhan parlementer demokrasi dan negara nasional ini. Babeuf sudah mau mengadakan sociale evolutie. Tetapi apa nyata, ikhtiar Babeuf kurang resonansi di dalam kalangan rakyat, ialah karena memang alam jiwa rakyat pada waktu itu tidak di dalam alam sociale revolutie. Kita mengalami juga hal yang demikian itu, Madiun – affaire saudara-saudara adalah satu gambaran Historische haast. Ingin lekas-lekas mengadakan satu masyarakat komunis, sama rasa sama rata. Dianggapnya sudah datang waktunya untuk mengadakan sociale revolutie. Lupa bahwa kita masih hidup di dalam fase nasional, nationale revolutie.

Engkau melihat bahwa sambutan rakyat tidak sebagai yang diharapkan oleh mereka, ialah apa? Ialah oleh karena obyektif dan subyektif rakyat masih hidup di dalam alam nationale phase itu tadi. Maka oleh karena itu aku anjurkan kepada pemuda dan pemudi, mahasiswa, mahasiswi, pemimpin-pemimpin supaya sekali lagi, dengan tidak mengurangi haknya tiap-tiap golongan untuk mempropagandakan ideologinya mengerti benar-benar, akan periode, phase nationale leven kita sekarang ini. Hiduplah di dalam fase ini. Selesaikanlah nationale revolutie kita. Tidaklah kita ini semuanya mengatakan, bahwa kita punya revolusi adalah nationale revolutie? Baik orang nasionalis, maupun orang sosialis, maupun komunis, bahkan juga maupun orang-orang Islam atau orang-orang Kristen, semuanya mengatakan: Dit is de nationale revolutie. Ini adalah revolusi nasional. Dan apa tugas dari pada nationale revolutie? Tak lain tak bukan ialah mendirikan satu nationale staat. Selesaikan ini dulu. Accent letakkan disitu, selesaikan ini dulu, tekanan kita diletakkan ditekan disitu. Kita mengadakan proklamasi 17 Agustus 1945, apa sebab? Proklamasi itu disambut oleh segenap rakyat Indonesia yang 80 juta? Tidak ada satu orang pun yang terkecuali pada waktu itu, ialah karena proklamasi ini didasarkan kepada hal-hal cocok yang sesuai dengan fase. Didasarkan kepada nasional, didasarkan kepada Pancasila, didasarkan kepada demokrasi. Pada waktu itu kita bersatu padu. Semuanya menyambut ini proklamasi dengan gembira. Bahkan semuanya pada berjuang, bahkan semuanya pada sedia mengorbankan jiwa dan hartanya, terhadap keperluan proklamasi, ialah karena fase kita geresonneerd.

Saudara-saudara  maka jikalau kita diajak kembali kepada hal itu saya kira saudara-saudara mengerti, bahwa saya sampai kepada pokok uraian saya ini. Ditanyakan oleh saudara Ranuwihardjo, bagaimana hubungannya Pancasila dengan Islam.

Saudara-saudara tahulah. Pancasila ini sudah satu kompromis yang laksana meminta kita punya darah dan air mata. Siapa yang membuka sejarah kita terutama sekali pada bulan juli 1945, satu bulan sebelum proklamasi Indonesia berkumandang di angkasa. Siapa yang membuka riwayatnya kita punya pertikaian satu sama lain, bahkan kita punya pada waktu itu hampir menjadi kita punya kebencian satu sama lain, akan mengerti bahwa Pancasila sudah satu kompromis.

Pada waktu itu di dalam sidang Badan yang dinamakan Dokuritsu Zunbi Cosakai. Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia, pada waktu itu pemimpin-pemimpin Islam duduk dengan pemimpin-pemimpin nasional dengan pemimpin-pemimpin sosialis. Pada waktu itu mula-mula bicara tenang-tenang, pada waktu makin berkobar-kobar, pada waktu itu hampir-hampir pecah Persatuan Nasional kita. Pada waktu itu kalau pecah, tidak mungkin proklamasi 17 Agustus 1945, pada waktu itu aku ada, Kiai Maskur ada, Ki Bagus Hadikusumo ada, pemimpin-pemimpin Islam lain-lain ada, Saudara Abdul Kahar Muzakir ada, saudara Chairul Saleh ada, Muhammad Yamin ada, pemimpin-pemimpin seluruh Indonesia berkumpul membicarakan akan dasar-dasar negara yang diproklamirkan.

Alangkah berbahayanya situasinya pada waktu itu. Tetapi Allah SWT saudara-saudara memberi ilham, memberi taufik hidayat akan persatuan kita. Memberi, menjelma satu dasar yang bisa disetujui oleh semuanya yaitu dasar Pancasila, yang sampai di dalam tiga Undang-Undang Dasar RI tidak akan pernah terangkat. Undang-Undang Dasar Sementara RI, sekarang ini, Pancasila tetap terpegang teguh, ialah oleh karena Pancasila adalah sudah satu kompromis yang dapat mempersatukan golongan-golongan ini. Maka oleh karena itu saudara-saudara insaf dan sadarlah akan keadaan yang berbahaya di dalam bulan juli 1945 itu. Jangan kita, saudara-saudara mengalami lagi keadaan yang demikian itu. Jangan pecah persatuan kita. Dan jikalau kukata “pecah persatuan kita”, kalau aku berkata demikian, itu berarti pecah, gugur, meledak, musnah negara kita yang telah kita perjuangkan bersama ini dengan penderitaan dengan segenap penderitaan dan segenap korbanan yang hebat-hebat. Kembalillah kepada persatuan. Aku sam sekali – sebagai tadi berulang-ulang kukatakan – tidak pernah melarang sesuatu orang mempropagandakan ideologinya. Tetapi ingat, persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak, accenten leggen kepada persatuan. Jangan diruncing-runcingkan. Aku ingat kepada kaum kristen, kaum Kristen bukan satu, bukan dua, bukan tiga, bukan seratus, bukan dua ratus, ribuan kaum Kristen mati gugur di dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan ini. Apakah yang menjadi harapan kaum Kristen itu, saudara-saduara, yang kita pantas juga menghargai korban-korban mereka itu? Harapan mereka ialah bahwa mereka bisa bersama-sama dengan kita semuanya menjadi anggota kesatuan Bangsa Indonesia yang merdeka. Jangan memakai istilah minoritas, jangan kaum Kristen tidak mau disebut dirinya minoritas. Wij hebben gevochten niet om een minoritiet te worden. Kaum Kristen berkata, “Wij hebben onze zonen prijsgegeven niet om een minoriteit te worden.”

Apakah yang engkau kehendaki?

Yang dikehendaki ialah sama-sama menjadi enggota warga negara satu negara merdeka: Republik Indonesia Kesatuan. Sama dengan aku, sama dengan alim ulama, sama dengan pemuda-pemudi, sama dengan pegawai, semuanya sonder perkecualian: Warga negara Republik Indonesia, semua, sonder ada minoritas-minoritas atau mayoritas-mayoritas. Tidaklah Islam, saudara-saudara, malahan sebenarnya di dalam hal ini accenten leggen kepada “Musyawarah”. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara Dahlan Ranuwihardjo, “Bagaimana duduknya dengan demokrasi?”Kembali aku minta tolong kepada alim ulama. Aku belum pernah menjumpai perkataan demokrasi di dalam istilah Islam. Aku sekedar menjumpai “Musyawarah”. Apalagi aku tidak pernah menjumpai istilah stem-stem di dalam istilah Islam. Memang yang dianjurkan oleh Islam adalah Musyawarah, berunding. Tidak dianjurkan stemsteman, sehingga satu pihak berkata: ya, aku lebih besar jumlah, aku yang mesti menang, tidak!

“Demokrasi” memang sebenarnya – demokrasi yang kita maksud bukanlah graadmeter sesuatu waarheid. Demokrasi kita bukan sekadar de helf plus een een heeft altijd gelijk. Demokrasi bagi kita ialah musyawarah, kita mengadakan demokrasi untuk menginsafikan diri kita dengan terang ke dalam, bahwa kita tidak menghendaki otokrasi. Bahwa kita tidak menghendaki teokraasi, tidak menghendaki sesuatu golongan menghikmati, menguasai golongan lain. Di dalam istilah itulah kita memakai perkataan demokrasi. Bukan dehelft plus een heeft altijd gelijk, bukan dehelft plus een is altijd menang, tidak, tidak! Islam memerintahkan musyawarah. Musyawarah saudara-saudara, di dalam alam kebijaksanaan. Demokrasi bukan doel. Demokrasi adalah sekadar satu alat, alat kebijaksanaan; cara untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang bijaksana di dalam urusan kemasyarakatan dan kenegaraan. Satu cara dan cara yang kita kehendaki semuanya. “Demokrasi” kita, ialah sebagai sering kukatakan; Satu demokrasi met leiderschap. Satu demokrasi dengan kebijaksanaan, bukan sekadar stem-steman. Kalau sekadar stem-steman, buat apa diadakan musyawarah, buat apa diadakan debat-debatan. Lebih baik kumpulkan, kumpulkan! Sudah. Sekarang isunya misalnya, isunya Islam atau tidak? Stem! Itu : De helf plus een heeft altijd gelijk. Sekarang isunya komunisme, stem sonder bicara lagi, terus stem saja. Tetapi saudara-saudara, itu bukan yang dikehendaki oleh kita dan itu bukan pula yang dikehendaki oleh Islam. Islam menghendaki musyawarah, musyawarah di dalam alam persaudaraan, musyawarah agar mencapai apa yang kita kehendaki bersama dengan cara yang sebijaksana-bijaksananya dan dapat memuaskan segala pihak.

Inilah saudara-saudara apa yang saya maksud di sini borong-borong. Demokrasi bukan berarti mayorikrasi oleh karena kita diwajibkan bermusyawarah kita bukan berarti sekadar stem-steman, mana suara yang terbanyak adalah benar, inilah jawabanku kepada saudara Dahlan Ranuwihardjo mengenai kedudukan demokrasi tadi.

Tentang kedudukan Pancasila dan Islam, aku tidak bisa mengatakan lebih dari pada itu dan mensitir saudara Pemimpin Besar Masyumi Mohammad Natsir. Di Pakistan, di Karachi, tatkala beliau mengadakan ceramah di hadapan Pakistan Institute for Internasional Relation beliau mengatakan bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan satu sama lain.

Ditulis di dalam “Islamic Review”, March 1953.

Coba dengarkan. Saudara Natsir menjawab pertanyaan Saudara Ranuwihardjo:

Pakistan is a moslem country. So is my country Indonesia. But though we recognize Islam to be the faith of the Indonesian people. We have not made an expressed mention of it in our constitution. Nor have we excluded religion from our national life Indonesia has expressed its creed in the Pancasila, or the five principles, which have been adopted as the spiritual, moral and ethical foundation of our nation and our state. Your part and our is the same. Only it is differently stated.

Saudara-saudara, voila monsieur Mohammad Natsir apa saudara-saudara sekarang lidhing dongeng. Iktibar ceramah saya ini tidak lain tidak bukan, ialah agar supaya jangan kita salah paham satu sama lain. Dengan dihilangkannya salah paham itu kita bisa mengadakan understanding satu kepada yang lain yang lebih baik agar supaya bisalah tersusun kembali kita punya persatuan nasional yang seerat-eratnya untuk menyelesaikan revolusi nasional kita ini, yaitu mendirikan satu negara nasional yang meliputi segenap wilayah natie Indonesia seluruhnya dari Sabang sampai ke Merauke.

Sekian ceramah saya.

(Ed/RS)