Konferensi Islam Asia Afrika memberikan gelar kepada Bung Karno sebagai Pahlawan Islam dan Kemerdekaan, atas jasa-jasanya. (infografis/bungkarno.id)

Kebangkitan umat Islam sedunia adalah lonceng kematian bagi seluruh nekolim. Demikian pernyataan tegas Presiden Soekarno pada rapat umum penutupan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 14 Maret 1965.

Pekik Merdeka yang gegap gempita mengawali amanat penutupan KIAA yang membuat seluruh warga Negara Indonesia merasa bangga karena konferensi Islam itu telah menghasilkan sukses-sukses yang amat besar. Suatu hasil yang menjadi lonceng kematian nekolim

“Siapa di antara rakyat-rakyat Muslimin Asia-Afrika bahkan di seluruh dunia yang tidak bahagia dengan berlangsungnya Konferensi Islam Asia-Afrika yang membawakan hasil yang demikian gilang-gemilangnya? Semua orang Muslimin-Muslimat di seluruh dunia ini merasa bahagia,” kata Bung Karno.

Menurut Bung Karno, mereka yang tidak bahagia dengan hasil dari KIAA adalah manusia-manusia nekolim, manusia-manusia imperialis, manusia-manusia penjajah, manusia-manusia penindas, manusia-manusia penghisap, manusia-manusia yang suka mengkungkung sesuatu bangsa.

“Manusia-manusia itulah tidak bahagia, bahkan mungkin di dalam hatinya gemetar, ketakutan, oleh karena sekarang telah ternyata bahwa seluruh dunia Islam telah bangkit, bangkit menentang imperialis, kolonialisme, neokolonialisme,” tegasnya.

Bung Karno sebagai orang Indonesia merasa amat bahagia bahwa kebangkitan itu dimanifestasikan di tanah air Indonesia, di kota Bandung dan sekarang di Jakarta pula. Suatu kebanggaan juga bahwa yang datang dari tiga puluh lima negara yang berkumpul di kota Bandung itu semuanya merasa di kalangan bangsa Indonesia ini seperti di kalangan saudara sendiri.

“Bahwa mereka telah melihat tanah air Indonesia, melihat bangsa Indonesia, melihat rakyat Indonesia, melihat keindahan dan kecantikan Indonesia, melihat keramahtamahan bangsa Indonesia. Melihat semangat yang berkobar-kobar dari pada rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Putra Sang Fajar itu kemudian menceritakan bahwa di sela pelaksanaan konferensi, ia bicara dengan beberapa utusan dan mereka semuanya merasakan, mengatakan, “Kami kagum, kagum, kagum karena kami melihat bahwa Indonesia, negeri Indonesia, negara Indonesia, rakyat Indonesia, bangsa Indonesia, sama sekali berlainan dari pada apa yang digambarkan oleh orang nekolim di luar negeri”.

Dalam kesempatan itu Bung Karno juga menyundir pers nekolim, yang menulis bahwa Indonesia negeri kacau dan rakyat Indonesia kelaparan. Bung Karno menegaskan, bahwa Indonesia bukan negeri kacau; dan rakyat Indonesia tidak kelaparan. Justru menurut Bung Karno, rakyat Indonesia dan negara Indonesia malahan ternyata satu rakyat, satu negeri, satu negara, satu bangsa yang kuat sentosa di muka bumi ini. Bangsa yang semangatnya menjadi lonceng kematian nekolim

“Nah, tidakkah kita, he rakyat Indonesia, merasa bangga dan merasa wajib mengucapkan syukur alhamdulillah ke hadirat Allah SWT, bahwa kita sekarang sesudah kita dijajah oleh imperialisme tiga ratusa lima puluh tahun telah menjadi satu bangsa, satu negeri, satu negara yang demikian itu? Marilah, saudara-saudara, kira renungkan sejenak bahwa kita dikaruniai oleh Allah SWT keadaan yang gilang-gemilang ini. Sebab sebagai yang kukatakan kepadamu berulang-ulang, tanah air Indonesia adalah amanat Tuhan kepadamu, tanah air Indonesia ini diberikan oleh Tuhan kepadamu agar supaya engkau memeliharanya, mengambil manafaat dari padanya sebaik-baiknya. Ini yang selalu aku ajarkan kepadamu, jangan lupa, jangan lupa satu menit pun, jangan lupa satu detik pun, bahwa tanah airmu adalah amanat Tuhan kepadamu,”.

Karena itulah, Bung Karno merasa terharu dan mengucap terima kasih telah di gelari oleh Konferensi Islam Asia-Afrika ini dengan gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Ia sebenarnya merasa tidak pantas atau belum pantas mendapat gelar yang demikian itu. Bung karno lalu menceritakan bahwa orang memberi julukan kepada dengan berbagai gelar. Ada yang memberi julukan Paduka Yang Mulia Presiden, dinamakan Presiden Republik Indonesia, dinamakan Perdana Menteri dari pada pemerintahan Republik Indonesia, dijadikan Mandataris dari MPRS, diberi kedudukan Panglima Tertinggi seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

“Jikalau umpamanya dada saya ini disobek, dibuka, maka di dalam dada saya hanya tertulis satu perkataan, yaitu: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dan jikalau, jikalau saya telah menyumbang barang sedikit kepada kebaikan Islam, jikalau saya telah menyumbang barang sedikit kepada kebangkitan Islam itu, ialah oleh karena aku merasa bahwa aku ini adalah hamba Allah SWT,”

Dan jikalau ia telah menyumbangkan sedikit kepada perjuangan kemerdekaan, lanjut Bung Karno,  ialah oleh karena dari dulu mula berkeyakinan bahwa tanah air adalah amanat Tuhan kepada kita sekalian, tanah air harus kita medekakan, tanah air jangan menjadi tempat hisapan orang, tanah air harus kita bebaskan dari semua penghisapan.

“Oleh karena itu berjuanglah mati-matian terhadap kepada imperialisme, kolonialisme, penjajahan, neokolonialisme dan lain sebagainya,”.

Bung Karno menyitir yang dikatakan oleh utusan Asia, dari Pakistan, yang bicara atas nama kaum Muslimin dan Muslimat Asia, memang sejak tiga ratus tahun yang lalu, semua bangsa Islam, rakyat-rakyat Islam di Asia dan Afrika ini dijadikan injak-injakkan dari pada imperialisme. Sesuai dengan apa yang berulang-ulang Bung Karno katakan, sejak dari Gibraltar, Jabar-el Tarik, Jibraltar sampai ke kanan kirinya Laut Tengah, sampai kanan-kirinya Terusan Suez, masuk ke kanan-kirinya Laut Merah, melewati Selat Aden, Bab-el Mandeb, masuk ke Lautan Indonesia, semua bangsa di Utara dari Lautan Indonesia itu, masuk ke Selat Malaka, kanan-kiri Selat Malaka itu, membelok ke utara di Selatan Singapura, ke utara masuk ke Lautan Cina, semua bangsa-bangsa di kanan-kiri apa yang ia namakan life-line of imperialism ini, diinjak dan dijajah oleh imperialisme. Maka oleh karena itu pada saat pembukaan Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung, Bung Karnomenyampaikan “Jikalau umat Islam ingin hidup kembali sebagai umat yang beragama, jikalau umat Islam ingin menghidupkan kembali Islam, membuat Islam subur kembali, hidup kembali sebagai satu agama yang memnag dikehendaki oleh Allah SWT, syarat mutlak yang pertama ialah hilangkan semua imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme dari muka bumi ini. Karena itu aku mengucap syukur, berulang-ulang mengucap syukur ke hadirat Allah SWT, bahwa Konferensi Islam Asia-Afrika ini mengambil resolusi-resolusi yang salah satu resolusi berbunyi dengan tegas, tegas-tegas, Islam harus mengadakan perjuangan habis-habisan terhadap imperialisme, kolonialisme, dan neokolonialisme”.

Dunia Islam bangkit, dunia Islam zaman sekarang bukan lagi dunia Islam seratus tahun yang lalu. Dunia Islam lain sekarang ini telah bangkit, bangkit dari Maghribi sampai ke Indonesia, sampai ke Mindanao, dunia Islam telah bangkit sampai di RRC, sampai di Uni Soviet, dunia Islam telah bangkit, bangkit menentang imperialisme, kolonialisme, dan neokolonialisme. Inilah lonceng kematian nekolim

“Huh, aku melihat disini di kalangan diplomatique corps, wakil-wakil negara-negara asing, saya minta mereka perhatikan benar-benar kebangkitan umat Islam sedunia ini, saya minta mereka perhatikan benar-benar kebangkitan rakyat-rakyat Islam menentang imperialisme kolonialisme dan neokolonialisme sekarang ini. Jangan diremehkan kebangkitan ini, jangan diperkecil artinya kebangkitan ini, jangan dianggap kebangkitan umat Islam sedunia ini sebagai sesuatu hal yang boleh dilupakan atau satu hal yang boleh dikesampingkan, tidak, tidak. Kebangkitan umat Islam sedunia ini adalah juga lonceng kematian dari pada seluruh, seluruh imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme. Jangan diperkecil ini. Jangan dikira kita ini main-mainan. Aku pernah berpantun: saya kira anak pangeran; Tidak tahu anak bupati. Jangan kira kita ini main-mainan; Ketahuilah, bahwa ini akan membawa lonceng mati! – kepadamu.” (ed/RS)