Bung Karno Pengayom Agung Muhammadiyah. Kesediaan menerima gelar itu ia sampaikan karena begitu cintanya Bung Karno kepada organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu (infografis/bungkarno.id)

Bung Karno Pengayom Agung Muhammadiyah. Kesediaan menerima gelar itu ia sampaikan karena begitu cintanya Bung Karno kepada organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu.

KH Ahmad Badawi yang memimpin PP Muhammadiyah selama dua periode yakni melalui Muktamar ke-35 atau Muktamar Setengah Abad di Jakarta (1962) dan Muktamar ke-36 di Bandung (1965), punya hubungan yang cukup dekat dengan Presiden Soekarno. Bahkan, pasca Muktamar di Bandung Kiai Badawi datang di Istana Bogor menghadap Presiden untuk memberitahukan bahwa Muhammadiyah telah menyusun satu Pucuk Pimpinan baru, sekaligus Kiai Badawi membawa daftar nama anggota-anggota dari pada Pucuk Pimpinan baru itu, dan meminta Presiden untuk pelajari daftar nama-nama itu untuk memberikan penilaian.  Setelah melihat daftar nama-nama itu, Presiden Soekarno mengatakan bahwa  susunan Pucuk Pimpinan Muhammadiyah sudah sangat baik, dan Bung Karno pun memberikan restu.

“Juga pada waktu Kiai Badawi menghadap kepada saya beberapa hari yang lalu itu, saya menyatakan diri saya bersedia untuk menjadi Pengayom Agung Muhammadiyah yang saya cintai dan yang memang saya adalah salah seorang anggota yang setia dari padanya,” demikian cerita Presiden Soekarno saat mengawali pidato menyampaikan amanat ketika menerima gelar “Pengayom Agung Muhammadiyah” di Istana Bogor, 23 September 1965.

Bung Karno kemudian menceritakan kenapa ia cinta Muhammadiyah dan menjadi anggota organisasi itu, bahkan menjadi anggota setia. Sejaki muda, Soekarno dan Muhammadiyah sudah begitu lekat. Ia mengaku sudah sering mengikuti tabligh-tabligh Kiai Haji Ahmad Dahlan.

“Karena ajaran-ajaran yang diberikan oleh Kiai Ahmad Dahlan itu betul-betul sesuai dengan alam pikiran saya, dan mengunggah di dalam kalbu dan roh saya satu keyakinan yang teguh kebenaran agama Islam,” ungkap Bung Karno.

Jadi, Bung Karno dan Muhammadiyah adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan, baik itu dari sisi pemikiran maupun dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. (RS)