Albert Einstein jadi rujukan Bung Karno bahwa Agama dengan tidak disertai ilmu pengetahuan adalah lumpuh, Ilmu pengetahuan tanpa agama, buta. (infografis/bungkarno.id)

Albert Einstein adalah salah satu ilmuwan yang menjadi rujukan Bung Karno dalam menggali apa yang ia sebut sebagai apinya islam atau ijtihad. Menurut Putra Sang Fajar itu, berbagai label yang melekat pada sosok ilmuwan Albert Einstein yakni atomic revolution atau bapak ilmu atom, bapak ilmu relativitas, dengan ia punya ilmu pemecahan atom, toh ia juga punya adagium yang sangat prinsip dalam hal ilmu dan agama.

“Prof. Dr. Albert Einstein, bapak nuclear science ini berkata, “Religion without sience is lame, science without religion is blind.” (Agama dengan tidak disertai ilmu pengetahuan adalah lumpuh). science without religion is blind. (Ilmu pengetahuan tanpa agama, buta),” ungkap Bung Karno, pada pidato pembukaan Fakultas Hukum Islam Perguruan Tinggi Nahdatul Ulama, Sala, 2 Oktober 1958.

Presiden Pertama Republik Indonesia itu mengungkapkan, dulu orang berkata bahwa atom tidak bisa dipecahkan lagi, de theori der ondeelbaarheid der atomen. Tetapi menurut Bung Karno, Robert Einstein berkata sebaliknya, bahwa atom pun masih bisa dipecah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi.

“Einsten berkata demikian. Bahkan agama dengan science, agama dengan ilmu harusnya satu, maka oleh karena itu saudara-saudara, baiklah Prof. Dr. Albert Einstein ini kita perhatikan. Jikalau memang ingin mendapatkan kembali api yang kita cari ini, harus kita perkawinkan dengan serapat-rapatnya agama dengan ilmu itu tadi,” ungkap Sang Proklamator.

Oleh karena itu, Bung Karno pada tiap-tiap kali harus berpidato pada pembukaan perguruan tinggi Islam, baik perguruan tinggi Islam yang di Yogyakarta, maupun Perguruan Tinggi Islam Cokroaminoto, maupun Perguruan Tinggi Islam Nahdlatul Ulama merasa bergembiri sekali karena bisa menjadi sarana untuk mewujudkan apa yang disampaikan Albert Einstein. Sebab Perguruan Tinggi dapat dan tempatnya untuk memperkawinkan agama dan ilmu pengetahuan ini.

“Dan sebagai tadi saya katakan hanya dengan perkawinan yang seerat-eratnya antara dua hal itulah kita dapat, bisa menemukan kembali api Islam yang harus kita cari,” tegasnya. (RS)