Foto: repro buku Bung Karno Pengambung Lidah Rakyat Indonesia

Bung Karno Saat Kecil Punya Kekuatan Gaib dan Bisa Mengobati Orang Sakit. Itulah kisah yang ia ceritakan sendiri dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, karya Cindy Adams.

Lahir dengan nama kecil Kusno, ia sering sakit-sakitan. Oleh bapak dan ibunya dijuluki Putra Sang Fajar, karena kelahirannya saat fajar mulai menyingsing. Namun karena sering sakit-sakitan itulah, ayah Kusno mengganti nama putranya dengan Karna, atau dalam logat Jawa Karno, dengan awal nama depan Su, yakni Sukarno. Kala itu, ejaan lama masih menggunakan oe untuk huruf U, sehingga namanya tertulis Soekarno

Karno adalah nama yang diambil dari tokoh wayang yakni Adipati Karna, yang juga bergelar Surya Putra karena memang merupakan putra dari Batara Surya yang menanam benih lewat rahim Dewi Kunti.

Meski lahir dalan keluarga miskin yang serba kekurangan, Karno kecil sudah diyakini oleh bapak dan ibunya bahwa kelak putranya itu akan menjadi orang (pemimpin rakyat yang dimulyakan). Terlebih, kelahiran Kusno juga disambut dengan letusan Gunung Kelut sebagai tanda alam bahwa ia kelak memang ditakdirkan bisa menghadapi sutu ancaman atau bahaya besar.

Mitos yang berbaur kejawen mengiringi tumbuhnya Putra Sang Fajar. Ia dianggap sebagai bocah yang punya kekuatan gaib, yang tidak dimiliki bocah pada umumnya.

Sebagaimana cerita yang disamoaikan Bung Karno. Sewaktu Karno berumur sekitar empat atau lima tahun sempat tinggal di Tulungagung, ikut nenek dari pihak bapak yang memintanya. Tempat yang tidak terlalu jauh dengan Mojokerto, dimana orang tua Karno tinggal di rumah kontrakan kecil.

Nenek Bung Karno adalah pedagang batik, sehingga meskipun tidak kaya, setidaknya biaa memberikan ia makan yang cukup.

Hal yang justru kakek dan neneknya lihat dari sosok Karno kecil adalah kekuatan gaib yang dimiliki. Menurut kakek dan neneknya, Karno kecil punya kekuatan gaib dan punya kemampuan mengobati orang sakit.

Jilatannya Ampuh

“Bilamana ada orang sakit di kampung itu, atau mendapat kuka yang terasa sakit, nenek selalu nemanggilku dan dengan lidah aku menjilat bagian dimana terasa sakit. Anehnya, sakitnya menjadi sembuh,” kenang Bung Karno.

Selain itu, neneknya juga percaya bahwa Karno kecil saat itu punya kemapuan melihat sesuatu yang gaib.

“Akab tetapi lintasan-lintasan penglihatan gaib itu menghilang ketika aku mulai menemukan kekuatan pidatoku kepada rakyat. Nampaknya, apa yang disebut kekuatan ini kenudian tersalur ke arah lain. Pendeknya, sesudah berumur 17 tahun aku tak pernah lagi memperoleh penglihatan secara ilmu kebatinan,” demikian penjelasan Bung Karno. (Ditulis oleh Rahmat Sahid)