Bung Karno saat menjadi murid H.B.S. di Surabaya tahun 1916

Bung Karno Dua Bulan Setengah Sakit Thypus dan Merasa Di Ambang Pintu Kematian. Itulah yang dialami bocah Karno ketika berumur 11 tahun. Lengap memang masa-masa sulit yang dialami Bung Karno, sejak ia kecil. Selain hidup dalam kemiskinan, ia juga sering sakit-sakitan.

Namun, kekuatan cinta dan suatu keyakinan dari orang tuanya lah yang kemudian menjadi doa penguat hingga Bung Karno tumbuh kembang dalam tempaan yang membuatnya jadi pribadi kuat dan pemimpin merakyat.

Sebagaimana Bung Karno menceritakan dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dalam keadaan sakit yang ia merasa di ambang pintu kematian itu, ia hanya bersandar pada kekuatan bapaknya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, yang terus memberikan dorongan semangat serta doa-doa untuk ia tetap hidup.

“Selama dua setengah bulan penuh bapak tidur di bawah tempat tidur bambuku. Ia berbaring di atas lantai semen yang lembab, dialas dengan tikar pandan yang tipis dan lusuh, tepat di bawah bilah tempat tidurku,” kenang Bung Karno.

Putra Sang Fajar itu mengungkapkan, sepanjang hari dan sepanjang malam selama dua setengah bulan, Raden Sukemi tidur di bawah tempat tidurnya. Hal itu dilakukan bukan karena tidak ada tempat untuk tidur di rumah kecil itu. Namun ayah Soekano melakukan itu murni karena kepercayaan mistiknya.

“Ia hendak mendoa terus, memohon siang malam agar aku diselamatkan dan mohon agar aku mendapat kekuatan-kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Akan tetapi supaya kekuatan mistiknya dapat memberikan manfaat secara penuh, yang dicurahkannya langsung dari badannya ke seluruh tubuhku, maka ia hatus berbaring di bawahku,” ungkap Bung Karno.

Tempat Raden Sukemi berbaring di bawah bocah Karno kala itu hanya beberapa kaki, gelap, lembab dengan udaranya yang tidak enak dan menyesakkan, siang dan malam sama saja. Dan di sana lah selama itu Raden Sukemi menelentang sampai anaknya sehat.

Begitu kuatnya tirakat orang tua, untuk mendoakan kesembuhan anaknya, dan tentunya doa-doa agar kelak anaknya itu menjadi orang, yakni menjadi seorang oemimpin rakyat. Karena anaknya itu adalah Putra Sang Fajar.