Siapa Sosok Sarinah yang Menjadi Inspirasi Bung Karno? Ia adalah pengasuh Bung Karno pada masa kanak-kanak yang mengajari soal cinta kasih.

Siapa Sosok Sarinah yang Menjadi Inspirasi Bung Karno? Bagi yang belum pernah membaca buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, mungkin akan menganggap itu hanya sekadar nama perempuan. Atau bisa jadi ada yang berasumsi bahwa itu hanyalah tokoh fiksi yang Bung Karno ciptakan.

Maka, penting ulasan secara siangkat ini perihal sosok Sarinah, yang banyak disebut oleh Bung Karno, baik dalam pidato maupun tulisan-tulisannya kala itu.

Sama seperti nama Marhaen yang merupakan nama dari seseorang, demikian juga nama Sarinah.

Ia adalah seorang gadis yang membantu keluarga Raden Sukemi dan Ida Ayu Nyoman Ray ketika Soekarno masih kecil. Sejak bocah Karno masih dengan nama Kusno. Di keluarga itu, Sarinah yang membantu keluarga bukanlah dalam pisisi sebagai pelayan. Tetapi, itulah budaya gotong royong yang adabdi masyarakat Nusantara ini.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami,” kenang Bung Karno, dalan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, karya Cindy Adams.

Sarinah orang yang membantu membesarkan Karno, tinggal dan makan di rumah keluarga itu. Namun, Sarinah tidak mendapatkan bayaran sepeserpun, karena itu murni budaya gotong royong. Bagi Bung Karno, sosok Sarinah sangat berjasa dalam membentuk karakternya. Sebab, Sarinah lah yang mengajarkan bocah Karno soal cinta kasih kala masih muda.

“Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” ungkapnya.

“Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato,” sambungnya.

Bung Karno lalu mengutip apa yang Sarinah pidatokan itu: “Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya,”.

Nama Sarinah, menurut Bung Karno, memang lah nama biasa. Akan tetapi Sarinah yang sosoknya menjadi inspirasi Bung Karno itu bukanlah perempuan biasa. Ia adalah salah satu kekuatan dalam hidup Bung Karno.

Jadi Nama Buku

Begitu besarnya sosok Sarinah dalam kehidupan Bung Karno, materi “kursus wanita” yang Bung Karno lakukan di Yogyakarta dan kemudian dikumlulkan dalam bentuk buku ia beri judul Sarinah. Buku Sarinah itu kini masih menkadi bacaan banyak rakyat Indonesia.

“Saya namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia mbok saya. Ia membantu ibu saya, danbdari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak oelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiri pun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar” demikian Bung Karno dalam pengantarnya di buku Sarinah, 3 November 1947. (Rahmat Sahid)