Bung Karno saat di Perguruan Cikini (Foto: https://serbasejarah.files.wordpress.com/2011/03/tonys-190.jpg)

Granat yang dilemparkan pasukan Kartosuwiryo di Perguruan Cikini adalah salah satu upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno. Upaya yang sudah beberapa kali dilakukan sebagai realisasi atas perintah dari Kartosuwiryo, pimpinan kelompok yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia.

Kejadian itu terjadi tanggal 30 November 1957, saat Bung Karno menghadiri malam dana amal di Perguruan Cikini, tempat kedua anaknya sekolah.

Saat Bung Karno hendak meninggalkan acara yang dihadiri 500 undangan dan ribuan penonton itu, di sekelilingnya masih terdapat kerumunan anak, dan mobil yang hendak dinaiki sudah dalam posisi terbuka. Bahkan, Komandan Psukan Pengiring juga memberi aba-aba hormat. Namun, sebelum Bung Kaarno memasuki mobil, granat pertama meledak, memecah susana hening kala di sekeliling Bung Karno sedang memberikan penghormatan. Saat itu waktu sekitar pukul 08.55 WIB.

Kemudian, dari sebelah kiri gedung dilemparkan lagi granat, dan menyusul granat yang lain dari sisi kanan.

“Pertama-tama yang terlintas dalam pikiranku ialah untuk melindungi anak-anak. Aku merunduk untuk menyembunyikan mereka ketika soerang pengawal menolakkanku ke bawah dengan keras, ke bawah kendaraan,” ungkap Bung Karno dalam otobiografinya: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno menggunakan kendaraan sebagai perisai sampai di saat sebuah granat yang dilemparkan dari jarak lima meter menembus mesin, menghancurkan kaca depan, menyobek-nyobek bagian dalam mobil menjadi serpihan dan meledakkan dua buah ban.

“Yang keempat (granat) dilemparkan dari seberang jalanan meremukkan sisi yang sebelah lagi dari kendaraan,” ungkapnya.

Pada saat itu, anak-anak berteriak dan berlari ketakutan memasuki gedung sekola. Tamu-tamu berguling ke bawah kendaraan atau masuk sekolah. Puluhan orang kena, ratusan terbanting ke tanah.

Kemudian setelah mobil diledakkan menggunakan granat oleh anak buah Kartosuwiryo, ajudan Bung Karno,  Mayor Sudarto menarik tangannya untuk lari menyeberangi jalan. Dalam suasana kegelapan dan panik itu, Bung Karno terjatuh karena tidak bisa melihat jalan yang gelap. Sang ajudan kemudian mengangkat sambil mendekap rapat badan Bung Karno, lari memasuki sebuah rumah.

Namun, ternyata rumah yang dimasuki itu milik orang Belanda, sehingga Bung Karno dan ajudan kembali lari keluar untuk mencari perlindungan rumah yang lain.

Bung Karno Selamat

Pada pukul 22.00 WIB, kendaraan cadangan membawa Bung Karno kembali ke Istana. Tidak lama kemudian, tepatnya pukul 23.00 WIB, Bung Karno langsung berpidato di corong radio untuk menenangkan rakyat dan meyakinkan meraka.

“Bahwa dengan lindungan Tuhan Yang Maha Penyayang aku masih hidup dan tidak luka sedikitpun,” terang Bung Karno.

Usai kejadian upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno itu, pada tengah malam, pihak kemanan sudah bisa meringkus empat orang pasukan Kartosuwiryo, orang-orang yang akibat fanatik agama kemudian menentang kebijakan politik Bung Karno dengan cara kekerasan.