Bung Karno Kagumi Mohammad Abdouh dan jalaluddin El Afghani

Soekarno Kagumi Abdouh dan Afghani. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno memiliki pengetahuan sejarah yang luas, termasuk sejarah tentang perjalanan umat muslim dunia. Bung Karno bisa menyebut dengan jelas setiap mssa dalam sejarah islam. Baik itu mulai masa Nabi Muhammad, Khulafaurrosyidin, kekhalifahan dan dinasti, hingga perjuangan para pembaharu di dunia Muslim.

Diantara Pembaharu Islam yang secara khusus mendapatkan perhatian Bung Karno adalah Sheikh Mohammad Abdouh dan Seyid Jamaluddin El Afghani.

Abdouh merupakan salah satu tokoh yang pernah menjadi rector Universitas Azhar, sebuah kampus besar di Kairo Mesir yang sampai saat ini menjadi rujukan pemikiran Islam dunia. Sementara El Afghani merupakan aktivis politik, nasionalis Islam, pencetus, perintis Islamisme dan Pan Islamisme pada abad ke-19.

El Afghani ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang berusaha memecah tembok eksklusif kaum Muslimin dan membawa mereka memasuki dunia lebih terbuka. Afghani tetap optimis meskipun menghadapi realitas adanya kemajemukan bangsa, budaya dan agama.

Dalam tulisannya yang berjudul ‘Memudahkan Pengertian Islam’ yang dimuat dalam Buku ‘Di Bawah Bendera Refovusi’ Bung Karno mengumpamakan Abdouh dan El Afghani ini adalah ‘fajar’ sehabis malam yang gelap-gulita. Bung Karno menyebut, setelah masa kegelapan dunia Islam, muncul di abad ke-19 dua orang pendekar yang namanya tak akan hilang tertulis dalam buku-riwayat Muslim. Mereka berdua adalah dua panglima Pan-Islam-isme yang telah membangunkan dan menjunjung rakyat Islam di seluruh benua Asia.

“Walaupun dalam sikapnya dua pahlawan ini ada berbedaan sedikit satu sama lain – Seyid Jamaluddin El Afghani lebih radikal dari Sheikh Mohammad Abdouh – maka merekalah yang membangunkan lagi kenyataan-kenyataan Islam tentang politik, terutama Seyid Jamaluddin, yang pertama-tama membangunkan rasa-perlawanan di hati sanubari rakyat­-rakyat Muslim terhadap pada bahaya imperialisme Barat; merekalah terutama Seyid Jamaluddin pula, yang mula-mula mengkhotbahkan suatu barisan rakyat Islam yang kokoh, guna melawan bahaya imperialisme Barat itu,” tulis Bung Karno

Bung kano menyebut bahwa sampai wafatnya di tahun 1896, El Afghani tetap semangat dengan perjuangannya. Bahkan Bung Karno menyebutnya sebagai “harimau yang gagah-berani” yang bekerja tiada berhenti, menanam benih ke-Islam-an di mana-mana, menanam rasa-perlawanan terhadap pada ketamaan Barat, menanam keyakinan, bahwa untuk perlawanan itu kaum Islam harus “mengambil tekniknya kemajuan Barat, dan mempelajari rahasia-rahasianya kekuasaan Barat”.

“Benih-benih itu tertanam! Sebagai ombak makin lama makin hebat, sebagai gelombang yang makin lama makin tinggi dan besar, maka di se­luruh dunia Muslim tentara-tentara Pan-Islamisme sama bangun dan bergerak dari Turki dan Mesir, sampai ke Maroko dan Kongo, ke Persia, Afghanistan … membanjir ke India, terus ke Indonesia … gelombang Pan-Islamisme melimpah ke mana-mana!,” kata Bung Karno.

Demikian, Soekarno Kagumi Abdouh dan Afghani.