Al-Qur'an dan Keris Pusaka selalu menjadi bawaan Bung Karno dalam setiap bepergian. Dua benda itu sudah menemani Bung Karno sejak ia dalam masa pembuangan di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 1934

Al-Qur’an dan Keris Pusaka selalu menjadi bawaan Bung Karno dalam setiap bepergian. Dua benda itu sudah menemani Bung Karno sejak ia dalam masa pembuangan di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 1934.

Tidak diketahui secara pasti kitab suci yang selalu dibawa Bung Karno itu dapat dari mana. Namun diperkirakan Bung Karno mendapatkannya saat diasingkan oleh Belanda di Ende, NTT. Adapun keris yang selalu dibawa Bung Karno adalah warisan dari Ibunya, yang diperoleh secara turun temurun dari leluhur sebelumnya yang merupakan rangkaian dari turunan Raja-Raja Singaraja, Bali. Danbketikabdiurutkan lagi rangkaiannya, maka keris pusaka itu bisa jadi merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit.

Guntur Soekarno dalam “Bung Karno & Kesayangannya” pernah menanyakan langsung kepada Bung Karno apakah mungkin keris itu dulunya merupakan pusaka Hayam Wuruk atau Patih Gajah Mada? Bung Karno hanya menjawab: mungkin saja!

Kebiassan Bung Karno membawa Al-Qur’an kemana pun ia pergi memang sudah seperti membudaya. Maka tak heran, Bung Karno kerap merangkai doa-doa dan mendalilkan ayat Al-Qur’an dalam setiap pidatonya. Karena bagi Bung Karno, Al-Qur’an memang sangan menginspirasi perjuangannya. Kerja keras dalam perjuangan tak lain adalah spirit yang Bung Karno pahami dari Al-Qur’an.

Ia juga selalu kembali pada Al-qur’an mana kala kegelisahaan meliputinya. Seperti saat mendengarkan kabar hendak ditembak mati saat dalam pembuangan di Brastagi bersama KH Agus Salim. Maka Bung Karno bergegas mengambil air wudhu, lalu sholat, dan membaca Al-Quran dengan maknanya. Setelah itu, Bung Karno merasa hatinya lebih kuat lagi dan berserah sepenuhnya bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya. Maka, informasi tentang ia akan ditembak mati, tak perlu ditakuti karena sesungguhnya ada Allah Yang Maha Menentukan dan Allah tempat segala perlindungan.

Terdapat banyak pidato dan rangkaian doa yang mana Bung Karno menyitir ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan, yang paling fenomenal adalah manakala Bung Marno menyitir ayat Al-Qur’an keyika menyampaikan pidadato di Sidang Umum PBB.

Lalu mengenai keris pusaka yang selalu dibawa Bung Karno dalam bepergian, apakah itu karena faktor kesaktian? Bung Karno sendiri mengungkapkan bahwa sebenarnya bukan soal keris pusaka itu sakti atau tidak. Melainkan karena sejarah dari keris tersebut, yang sudah menemani pejuang terdahulu dalam melawan Komoeni Belanda.

“Kalau soal selamat atau cilaka, itu urusannya Tuhan, bukan keris,” ungkap Bung Karno ketika menjawab pertanyaan Guntur.

Itulah, Al-Qur’an dan Keris Pusaka yang selalu menemani Bung Karno saat bepergian. (RS)