Berjiwalah mi’raj. Demikianlah tema pidato Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, di Surabaya, 7 Februari 1959. (infografis/bungkarno.id)

Berjiwalah mi’raj. Demikianlah tema pidato Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, di Surabaya, 7 Februari 1959.

Berikut pidato lengkapnya:

Saudara-saudara, sekalian. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudara sekalian, sebagai dikatakan tadi oleh yang Mulia Menteri Agama, maka saya sekarang dalam perjalanan pulang dari Bali. Mula-mula, pada tanggal 29 bulan yang lalu, saya pergi ke Yogyakarta untuk menyerahkan bintang gerilya kepada beberapa pahlawan. Kemudian ke Sala. Kemudian ke Bali untuk menyerahkan Fakultas Sastra Udayana kepada Universitas Airlangga. Kemudian setelah beristirahat untuk beberapa hari sekarang saya berada di sini dan mengucap syukur ke hadirat Allah dapat menghadiri peringatan perayaan Isra Mi’raj bersama-sama dengan saudara-saudara. Besok pagi insya Allah saya akan berziarah ke makam Ibunda di Blitar. Lusa menghadiri kongres PMII. Setelah itu insya Allah kembali ke Jakarta.

Saudara-saudara, Isra dan Mi’raj kita rayakan pada malam ini kita peringati pada malam ini, dan saya diminta untuk mengadakan sambutan, bahkan untuk memberikan amanat. Apa yang harus saya katakan sebagai orang yang daif di dalam agama Islam sesudah kita mendengarkan uraian-uraian yang lebar dan mendalam? Apa yang harus saya katakan? Isra dan MI’raj tertulis di atas ini. Isra, kepergian jauh dari masjid ke lain masjid. Kemudian Mi’raj naik ke angkasa, dan sebagai dikatakan oleh Pak Muljadi Djojomartono itu tadi memang “Mi’raj” artinya “tangga”.

Beliau berkata tangga dari emas 24 karat. Lebih cepat lagi barangkali dikatakan tangga dari nur tetapi emas. Cahaya emas, dan bukan tangga yang kecil selebar jarak dari Mikrofon yang satu ke Mikrofon yang lain ini, tetapi satu tangga yang meliputi seluruh pandangan mata. Tangga yang menakjubkan, dan sebagai dikatakan oleh saudara Muljadi Djojomartono itu tadi, setiap orang akan melihat tangga itu. Dan memang kalau saya tidak salah Nabi kita Muhammad saw. Pernah berkata, “Sudahlah engkau melihat pandangan matanya orang yang hendak melepaskan napasnya yang penghabisan? Sudahkah engkau melihat pandangan matanya yang takjub? “Ia yang punya pandangan mata yang takjub itu ialah oleh karena ia melihat Mi’raj yang dahsyat, dan memang sebagai tadi dikatakan oleh Yang Mulia Menteri Agama, tiap-tiap agama mempunyai tempat untuk melepaskan permohonan, yang dinamakan sembahyang. Tiap-tiap agama mempunyai anggapan kedahsyatan. Kita sebagai orang Islam dahsyat, kagum, jikalau kita membayangkan di dalam kita punya pikiran dan ingatan, akan Mi’raj, tangga dari pada sinar Nur Emas yang hebat naik ke langit. Orang-orang dari agama lain mempunyai juga hal-hal kedahsyatan. Saudara-saudara, tetapi tidak sedahsyat, dahsyatnya Mi’raj. Di zaman dulu misalnya saudara-saudara orang dari Skandinavia percaya kepada dewa-dewa dan raja dari pada dewa orang Skandinavia, dinamakan Thor. T-H-O-R, Thor, dewa dari pada gludhug dan geledek.

Orang Skandinavia, merasa jiwanya dahsyat jika ia mendengar gludhug dan geledek. Jadi dalam ingatannya dilihatnyalah raja Thor itu mengendarai kendaraan yang hebat, turun dari satu awan ke awan lain, dari satu mega ke lain mega dan tiap-tiap kali rodanya mengenai puncak mega terdengar gludhug dan geledek. Itu adalah kedahsayatan rakyat Skandinavia tatkala mereka masih mengagumi Dewa Thor, atau mereka katakan juga Kung Thor. “Kung” itu dalam bahasa Inggrisnya “King”, Kung Thor, Raja Thor, Kung Thor yang kita namakan “guntur” saudara-saudara. Tetapi kedahsayatan Kung Thor saudara-saudara, tidak sedahsyat Mi’raj dalam anggapan kita. Ambil orang-orang dari agama Hindu, mereka mempunyai dewa-dewa dan mereka mempunyai kepercayaan bahwa pada suatu ketika, di zaman dahulu dewa-dewa itu telah ngudheg (mengaduk) samudra, “het karmen van de zee de tijds”. Samudera diudheg saudara-saudara, dahsyat. Tidak sedahsyat Mi’raj di dalam anggapan kita. Ya saudara-saudara, Mi’raj, tangga, tangga batin kepada kita, memberi kekuatan batin terutama sekali direct kepada Muhammad Saw. Pak muljadi mengatakan, Muhammad saw. Dengan Isra dan Mi’rajnya itu mengatakan studiereis. Demikian pula Kapten Said menamakannya pelajaran, pernah saya katakan ya, kalau ditinjau dari satu sudut, memang pelajaran, pengajaran. Tetapi kalau dari lain sudut (hal itu adalah penguatan batin) saudara-saudara. Satu hiburan satu consolation. Satu peneguhan keyakinan.

Dengarkan cerita ini saudara-saudara. Tadi pun sudah mulai dionceki (dikupas) oleh Kapten Said, terjadilah Isra dan Mi’raj itu kapan. Bukan pada tahun pertama kenabian Muhammad, bukan pada tahun kedua, bukan pada tahun ketiga, tahun keempat dan seterusnya tetapi pada tahun kesebelas kenabian Muhammad. Tatkala Nabi Muhammad, sudah 11 tahun bekerja mati-matian, ngestokaken dhawuhnya pangeran, 11 tahun membanting tulang dan menderita, mengulur ia punya tenaga, memerasa ia punya keringat, hasil hanya sedikit sekali, bahkan halangan dan rintangan dari kanan dan kiri banyak sekali. Tiap-tiap nabi saudara-saudara, sebagaimana halnya dengan tiap-tiap manusia, pernah mengalami saat-saat yang sedih, tiap-tiap nabi pernah menangis sebagaimana tiap-tiap manusia yang suci jiwanya pernah menangis. Besok pagi Insya Allah, saya akan pergi ke makam Ibu. Nabi Muhammad pernah menangis di makam Ibunya. Tatkala seorang sahabat menanyakan kepada nabi. “Ya Rasul Allah, kenapa Rasul Allah menangis?” Rasul menjawab. “Aku menangis karena Ibuku wafat sebelum agama Islam ini datang.” Tiap-tiap nabi pernah menangis, Nabi Isa pernah menangis, Nabi Muhammad pernah menangis, Nabi Isa di dalam siksaan yang sehebat-hebatnya pun juga. Ia bukan disalib, sebab menurut agama kita, ia tida pernah disalib. Tetapi ia dinaikan malahan ke langit, diarafkan oleh Tuhan. Yang disalib itu bukan Isa tetapi pengganti Isa. Isa diselamatkan oleh Tuhan, dinaikkan, diarafkan, oleh karena itu Tuhan kadang-kadang disebutkan “Raffiku”. Tidak tahu ini, ilmu bahasa benar atau tidak, yang menaikan Raf. Tetapi Isa pernah mengalami saat-saat yang paling sulit, paling pahit, paling getir, Isa menderita. Pada saat Isa menderita, ia merasa dirinya ditinggalkan oleh Tuhan. Dan ia mengucapkan ia punya keluhan jiwa yang terkenal, “Eli, Eli lama sabakhtani?” (Ya Tuhan, Ya Tuhan, mengapa engkau meninggalkan akan daku?) demikianlah rintihan jiwanya pada saat-saat ia menderita. Karena demikian menderitanya, ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan.

Dengarkan saudara-saudara, Muhammad 11 tahun ia bekerja mati-matian, membanting ia punya tulang kataku, memeras keringat, mengulurkan ia punya tenaga tetapi hasilnya tidak banyak. Padahal jiwanya jiwa besar, jiwa Muhammad yang tempo hari menyinari alam. Dan memang ia tidak berjiwa betet, ia termasuk manusia-manusia yang berkata, “Jalan sendiri jikalau perlu, terbang sendiri kalau perlu.” Saudara ingat ucapan saya di dalam bahasa asing, “Eenden zwemmen in troepen, maar de edelaar vliegt allen.” (Bebek selalu berbondong-bondong tetapi burung elang rajawali terbang sendiri di angkasa yang tertinggi). Muhammad jiwanya adalah jiwa yang demikian. Ya, tiap-tiap nabi jiwanya jiwa yang demikian. Budha, mulai ia punya agama, menyiarkan ia punya agama dengan 20 sahabat, 20 sahabat saja saudara-saudara. Agama Budha sampai sekarang masih ada. Isa menjalankan ia punya mission dengan 12 sahabat. “Jezus en de 12 Apostelen”. Muhammad mulai ia punya mission dengan seorang sahabat saja, istrinya sendiri, sesuai dengan jiwa elang rajawali yang berani terbang di angkasa sendiri, tidak sebagai jiwa betet yang selalu berkawan-kawan, en toch, manusia yang demikian ini saudara-saudara tidak luput dari rintihan, tidak luput dari tangis.

Ia menangis di kuburan ibunya. Ia menangis pula tatkala ia melihat bahwa sesudah 11 tahun bekerja keras, hasil ia punya mission hanyalah segundukan manusia yang telah masuk Islam. Dan bukan saja hasilnya kecil, bukan saja jumlah manusia yang ia bisa masukkan ke dalam agama Islam hanya kecil tetapi rintangan saudara-saudara. Sudah saudara-saudara kenal semuanya, seperti ancamakan akan dibunuh dan lain sebagainya. Dan sekarang dia punya rintihan jiwa kepada Tuhan.

Ia tidak berkata, Eli, Eli lama sabakhtani?” (Ya Tuhan, Ya Tuhan, mengapa engkau meninggalkan akan daku?) ia merebahkan ia punya diri, mengadukan ia punya diri kepada Tuhan. Tuhan, engkau telah membuat aku Rasul, Tuhan engkau telah memberi kewajiban kepadaku untuk mengembangkan agama Islam, hasil hanya seperti ini. Ya, Tuhanku, aku mengadukan diriku kepadamu. Aku mohon kepada-Mu agar supaya engkau memberikan aku lebih tambah kekuatan. Agar supaya aku bisa menjalankan darma baktiku ini dengan jalan yang lebih baik. Ia merintih, menangis, memohon kepada Tuhan, mengadukan dirinya kepada Tuhan. Dan sebagai jawaban atas rintihan ini saudara-saudara, datanglah Isra dan Mi’raj. Laksana Tuhan memberi hiburan kepadaya, “Ya Muhammad, jangan engkau kecil hati, ya, Muhammad, jangan engkau sedih hati, ya, muhammad, jangan engkau putus asa, mari aku tunjukkan kepadamu bahwa aku ini ada. Mari engkau kubawa dari Masjid ini ke Masjid sana dengan disertai Jibril dan Mikail, saksikan sendiri kebesaran-Ku. Sesudah nanti datang ke Masjid itu, ayo naiklah Mi’raj, naiklah Mi’raj, datanglah sampai ke Mustawan, sampai ke Sidratul Muntaha, dan engkau akan melihat akan Nurku sendiri, meyakini sendiri akan adanya aku. Jikalau begitu sudah tiba di Sidratul Muntaha, engkau tidak lagi ainul yakin atau ilmul yakin akan Tuhan tetapi engkau akan Hakkul yakin akan adanya Tuhan. Hakkul yakin akan kebenaran yang tersinar dari pada Tuhan itu. Dan engkau akan kuat engkau akan batin, engkau tidak akan putus asa. Engkau akan teruskan kewajibanmu. Dengan hati yang lebih tetap.

Demikianlah saudara-saudara kita bisa melihat kisah Isra dan Mi’raj ini sebagai penguatan batin kepada orang yang merasa dirinya kurang cukup untuk menjalankan suatu darma dan tugas dan memohon kepada Tuhan. Ya, Allah, berikan kepadaku tambahan dari pada kemampuan dan kekuatan. Saudara-saudara, sesudah Muhammad mendapat keyakinan akan adanya Tuhan, akan perintahnya Tuhan, akan Nurnya Tuhan, akan segala-galanya Tuhan, di Sidratul Muntaha itu Muhammad turun kembali. Tentang saatnya, berapa jam berapa menitnya, ya, ada macam-macam cerita Pak Muljadi Djojomartono tadi mengatakan, dari Isya sampai Subuh. Ada juga cerita lain, tapi ini cerita daif, daif artinya lemah. Siti Aisyah pernah cerita, – tetapi ingat, ini lemah, daif – , pernah cerita, bahwa nabi pernah berkata kepadanya, hal Isra dan Mi’raj ini, “Tatkala aku diambil oleh Jibril, diajak berjalan Isra dan kemudian Mi’raj, saking gugupku, aku nyenggol (menyentuh) guci yang terletak di satu tempat tepi meja. Aku ikut Jibril dan Mikail ke masjid yang jauh itu terus Mi’raj ke Sidratul Muntaha dan kembali lagi. Dan tatkala aku datang kembali dirumahku, isi guci itu belum menyentuh tanah. “Jadi betul-betul sak cleretan, seperti dikatakan Pak Muljadi Djojomartono itu tadi. Bagaimanapun juga saudara-saudara, ini adalah sautu Mukjizat. Mukjizat dalam arti “a wonder a miracle”, satu kejadian yang diluar ingatan manusia, kok orang bisa pergi ke tempat yang jauh, naik ke langit, turun lagi, kembali lagi, baik di dalam waktu antara Isya dan Subuh ataupun sekadar sak cleretan tersenggolnya guci sampai saat belum kenanya guci itu ke tanah.

Dan Nabi selalu berkata, ini harus aku ceritakan kepada umat. Kapten Said tadi berkata seperti examen, ya lebih tepat jika dikatakan bukan seperti examen tetapi seperti satu testing. Sebab tepat sekali seperti dikatakan oleh Kapten Said tadi, akan datang lah masa yang lebih sulit, akan datanglah satu masa bahwa umat Islam benar-benar akan diuji akan keIslamannya, akan imannya, akan keberaniannya, akan keteguhan batinnya. Akan datang suatu saat nanti agama Islam akan bertempur di medan peperangan. Dengan lawan-lawan dari pada umat Islam itu untuk masa yang demikian itu diperlukan umat yang kuat batinnya. Maka oleh karena itu sengaja cerita Isra dan Mi’raj ini oleh Nabi diceritakan kepada kawan-kawannya. Percayalah siapa yang mau percaya, kalau tidak percaya apa boleh buat. Tetapi bagi orang yang percaya, ini adalah suatu testing bahwa batinnya, benar-benar batin yang kuat.

Saudara-saudara, kita pun sekarang ini menghadapi zaman yang dahsyat. Dahsyat tetapi gilan-gemilang, dahsyat tetapi seperti selalu aku katakan kepada pemuda dan pemudi Indonesia, kita pantas mengucap syukur kepada Allah subhanahuwataala bahwa kita dilahirkan zaman sekarang ini. Manakala orang-orang tua kita tidak mengalami kejadian-kejadian yang hebat, kita sekarang ini mengalami kejadian-kejadian hebat. Kita melihat peta dunia sama sekali berubah. Kita mengalami Perang dunia yang pertama, kita mengalami Perang dunia yang kedua, kita mengalami revolusi-revolusi luar negeri, kita mengalami kejadian-kejadian gugur, hancur lebut di dalam debu, kita mengalami Republik-republik dibangunkan, kita mengalami sebagian besar dari Asia merdeka, kita mengalami satu sejarah yang hebat sekali, mengalami tanah air dan bangsa kita menjadai merdeka, mengalami bangsa kita berjuang mati-matian untuk mempertahankan kemerdekaan itu.

Di dalam waktu yang demikian itu saudara-saudara, baik sekali kita merenungkan akan intisari Isra dan Mi’raj itu tadi, penguatan batin kita. Tidak ada suatu bangsa dapat berjuang, hebat, jikalau batinnya tidak terbuat dari pada Nur iman yang sekuat-kuatnya. Bangsa yang menjalankan revolusi apalagi revolusi kita ini yang sehebat-hebatnya, revolusi itu sendiri adalah selalu berganti-ganti. Naik-naik tingkat, naik-naik Mi’raj saudara-saudara, dari pada revolusi bersenjata menjadi revolusi pembangunan, revolusi untuk mencapai segenap cita-cita bangsa kita. Bagi bangsa yang menjalankan revolusi yang demikian saudara-saudara, maka kekuatan batin adalah syarat yang mutlak. Dan ambillah, ambillah, pengertian dari Mi’raj itu, kenaikan ke atas, naik ke atas, naik ke atas, upwards, jangan turun. Kita ini berjuang untuk apa saudara-saudara? Tak lain tak buka untuk naik ke atas. Supaya kualitas bangsa kita naik ke atas, supaya negara kita naik ke atas, supaya kebudayaan kita naik ke atas. Pendek kata supaya mutu kita sebagai bangsa, sebagai manusia naik ke atas.

Bangsa yang tidak mempunyai adreng, adreng untuk naik ke atas, bangsa yang demikian itu, dengan sendirinya akan gugur pelan-pelan dan hilang dari muka bumi. Beberapa kali saya sudah gambarkan candra sengkala-nya, gugurnya Majapahit.

Sirna ilang ketaling bumi, sirna ilang kertaning bumi, sirna ilanga dreng-nya masyarakat waktu itu. Itu membawa gugurnya Majapahit. Majapahit gugur sebelum orang Belanda datang ke sini, gugur sebelum Cornelis de Houtman menjatuhkan ia punya sauh di Teluk Banten. Di dalam abad ke 15, Majapahit telah gugur. Apa sebab? Sirna ilang kertaning bumi. Sirna ilang kerta dari pada ia punya jiwa. Sirna ilang ia punya kehendak, gadap, untuk naik, naik, naik, naik,

Sirna hilang ke Mi’raj-an saudara-saudara. Jikalau kita bangsa Indonesia ingin kekal, kuat, nomor satu jiwa kita harus selalu jiwa yang ingin Mi’raj, ingin Mi’raj, ingin Mi’raj. Kita sekarang ini membelalak, membukakan mata kita laksana tepekur jika kita mendengarkan perkataan Sputnik, atau Explorer, atau satelit Matahari. Orang atau bangsa yang jiwanya jiwa Mi’raj saudara-saudara berkata, ya, sekarang Sputnik dipegang oleh orang lain, sekarang satelit dipegang oleh orang lain, sekarang Explorer dipegang oleh orang lain. Lain hari bangsa Indonesia akan mempunyai ia punya satelit. Demikianlah saudara-saudara. Bibit utama keberhasilan revolusi kita ini ada di dalam dada kita. Tetapi sebaiknya, jika revolusi kita mempunyai jiwa yang demikian itu, sirna ilang kertaning bumi kita. Kita dengan sendirinya, makin lama makin turun, makin lama makin merosot.

Saudara-saudara sekalian, saya sudah ngoceh setengah jam lebih. Terima kasih, moga-moga segala yang saya katakan ini  membawa manfaat kepada diri saya sendiri, dan kepada saudara-saudara.

Assalamualaikmu warahmatullahi wabarakatuh.