Syarikat Islam membentuk karakter Bung Karno muda

Syarikat Islam membentuk karakter Bung Karno muda. Tidak ada keraguan lagi bagaimana kedekatan Bung Karno dengan Syarikat Islam (SI), karena ia sudah lama tinggal bersama pendirinya, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Bung Karno belajar banyak hal kepada HOS Tjokroaminoto sebagai pribadi dan organisasi SI.

Tidak seperti organisasi berlabel ‘Islam’ lainnya yang lebih banyak menitik beratkan pada pemikiran, SI justru terlihat bergerak dalam hal praktis, namun sejatinya memiliki hendak mengejewantahkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

SI yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) ini awalnya adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda.  Setelah berubah menjadi SI, organisasi ini memiliki cakupan yang lebih luas, tidak hanya terkait masalah pedagang Islam, namun juga ke arah politik dan Agama. Organisasi ini menyumbangkan semangat perjuangan Islam yang kemudian berkobar di pemeluknya.

Dalam buku ‘Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945’ karya Nasihin menyebutkan SI mengusung Sosialisme Islam. Dan tampaknya ini sangat berpengaruh pada pemikiran Bung Karno. Sehingga PNI pun terlihat mengusung Sosialisme Islam, walaupun ide nasionalis terlihat lebih kental.

Pada akhir dasa warsa 1930-an, perkembangan pergerakan Indonesia, di akhir dasa warsa 1930-an, Sosialisme Islam ala Partai Sarekat Islam (PSI) ini kemudian mendapat saingan dari Partai Nasional indonesia (PNI) pimpinan Soekarno.

Dari berinteraksi dengan SI dan Tjokroaminoto juga, Bung Karno meyakini ada kesamaan antara markisme, nasionalisme dan islamisme. Dalam tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” yang ditulis dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Bung Karno menyebutkan bahwa Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme merupakan asas yang dipeluk oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia saat itu.

“Inilah faham-faham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia itu. Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia-kita ini,” tulis Bung Karno pada atahun 1926.

Tjokroaminoto adalah Cermin Bung Karno

Bung Karno mengakui bahwa kematangannya pemikirannya tentang Islam mulai mengalami pematangan sekitar tahun 1926. Berarti sekitar usia 25 tahun. Itu adalah usia ketika ia baru selesai ‘mondok’ di rumah Tjokroaminoto dengan SI-nya dan baru-baru tinggal di Bandung.

“Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan yang menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama,” kata Bung Karno sebagaimana terekam dalam buku ‘Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” (1966).

Dan bagi Bung Karno, SI yang pimpinan Pak Tjokro adalah salah satu tempat ia belajar dan mendapatkan gemblengan. Sebagaimana KH Arman Arroisi tulis dalam bukunya Pengembalaan Batin Bung Karno. Tokoh pergerakan yang Bung Karno kagumi dan sekaligus menjadi gurunya dalam ilmu agama dan politik adalah Pak Tjokro. Sebaliknya, kala itu anak muda yang paling Pak Tjokro sayangi dan ia ramalkan bakal menjadi pemimpin bangsanya di kemudian hari adalah Karno. (RS)