Kesaksian Bung Karno tentang Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim sejati yang taat serta begitu mengagumi sosok nabi terakhir itu.

Kesaksian Bung Karno tentang Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim sejati yang taat serta begitu mengagumi sosok nabi terakhir itu.

Berikut pernyataan Bung karno dalam pidatonya terkait dengan kekagumannya kepada Muhammad bin Abdullah, pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, 2 Desember 1964.

Presiden Soekarno begitu fasih dalam menjelaskan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Saat menyampaikan amanat pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, 2 Desember 1964, Bung Karno mengatakan bahwa peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad tidak lepas dari perjalanan 11 tahun Sang Nabi menjalankan perintah Al-Khalik untuk menyebarkan ajaran Islam sejak mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira. Dalam 11 tahun itu, Muhammad sudah menjalankan kewajiban sangat baik, penuh dengan ketaatan dan segala kecintaan. Muhammad berkeliling untuk dakwah, ternyata banyak sekali penentangan, mendapat cercaan, bahkan mendapat siksaan.

Dan dalam 11 tahun perjuangan yang penuh tantangan itu, Nabi Muhammad mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Talib, yang selalu melindungi keponakannya.

Tapi pada satu saat Abu Talib meninggal dunia, musuh Nabi Muhammad semakin berani, termasuk dalam menjalankan segala siksaan-siksaan kepada Muhammad. Dan lebih pedih lagi, tiga hari sesudah Abu Talib meninggal, istri Nabi Muhammad yang tercinta, Khadijah pun meninggal.

Padahal Khadijah inilah kawan perjuangan Nabi Muhammad yang paling akrab, paling setia. Khadijah itulah yang selalu memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad, Khadijah ini manusia pertama yang menerima ajaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu. Khadijah ini yang selalu ikut juga di dalam melindungi Nabi Muhammad, membersarkan hati Nabi Muhammad, dan selalu membantu.

Dalam situasi yang demikian, Nabi Muhammad keluar dari Mekah bersama Zaid, ke Ta’if,  dengan harapan mencari ketentraman. Namun, di Tha’if pun orang-orang juga mencerca Nabi Muhammad. Dan di anggapnya sebagai pendusta, di maki, bahkan di lempari batu sampai berdarah. Dan ketika kemudian pulang ke Mekah, Nabi Muhammad tetap dicaci.

Lalu, di Ka’bah, Nabi Muhammad menangis kepada Tuhan seraya minta ampun karena dalam menjalankan perintah-Nya selalu mendapatkan rintangan. Dengan telah menjalankan perintah Tuhan begitu kerja keras, tetapi akibat adanya tentangan dari masyarakat kemudian hasilnya sangat kecil, Nabi Muhammad pun minta pengampunan pada Tuhan.

Coba, alangkah jiwa besar Nabi Muhammad, yang mohon di ampuni oleh Tuhan, mohon di beri kekuatan oleh Tuhan. Sesudah Nabi Muhammad minta ampun dan minta kekuatan, Nabi Muhammad pulang.

Isra Mikraj

Setelah di rumah, dan malam tiba, di saat Muhammad berbaring, datanglah Malaikat Jibril membawa Buraq dan meminta Muhammad untuk ikut. Di situlah mulai Isra dan Mikraj, di bawa ke Yerusalem dengan Buraq, di bawa naik ke langit ketujuh, ke Sidratul Muntaha.  Di situlah, Nabi Muhammad menerima perintah sembahyang lima waktu.

Sesudah di Sidratul Muntaha, Muhammad haqqul yaqin, merasakan adanya Tuhan dan Muhammad besar hati lagi. Tadinya ia menangis, tadinya ia merintih, tadinya ia berbaring di atas dia punya pembaringan, memikirkan sulitnya perjuangan. Tadinya boleh di katakan. Muhammad, ya, hampir-hampir putus asa. Tetapi di bawa oleh Tuhan ke hadirat-Nya, haqqul yaqin, merasakan adanya Tuhan.

Aku Tuhan memerintahkan kepadamu ini, Aku Tuhan menggambarkan, melihatkan kepadamu adanya surga, Aku Tuhan menggambarkan kepadamu, melihatkan kepadamu adanya neraka, Aku Tuhan yang memberi hukum ini, kerjakan perintah ini. Muhammad lantas kembali dari Isra dan Mikraj penuh dengan kekuatan batin lagi, penuh, dia lalu meneruskan perjuangan. (RS)