Nuzulul Qur’an selalu diperingati secara resmi kenegaraan oleh Presiden Indonesia pertama, Insinyur Soekarno. Dalam peringatan Nuzulul Qur’an tahun 1960, Bung Karno menyampaikan pidatonya dengan tema: Islam Agama Amal. (infografis/bungkarno.id)

Nuzulul Qur’an selalu diperingati secara resmi kenegaraan oleh Presiden Indonesia pertama, Insinyur Soekarno. Dalam peringatan Nuzulul Qur’an tahun 1960, Bung Karno menyampaikan pidatonya dengan tema: Islam Agama Amal.

Berikut teks amanat Presiden Soekarno pada peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Jakarta, 15 Maret 1960.

Saudara-saudara sekalian, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, malam ini kita berkumpul disini, pada malam Nuzulul Qur’an dan menyaksikan penyerahan Qur’an pusaka, melewati tangan Yang Mulia Menteri Agama, kepada Presiden Republik Indonesia. Insya Allah saudara-saudara, saya akan simpan dan pelihara Qur’an pusaka ini dengan sebaik-baiknya dan disinilah tempatnya pula saya mengucapkan salut kehormatan dan terima kasih kepada semua saudara-saudara yang telah membantig tulang, bekerja keras untuk membuat Qur’an pusaka ini, terutama sekali kepada Haji Abu Bakar Aceh.

Saudara-saudara Qur’an pusaka yang terbuat di dalam tiga bagian, yang bagian awalnya terletak di sana, bagian kedua dan ketiga, di dalam peti itu, sebagai saudara-saudara mengerti dan saudara-saudara mendengar sendiri dari uraian saudara Haji Abu Bakar Aceh ini adalah sekadar tumpukan kertas-kertas dengan tulisan-tulisan di atasnya. Tumpukan kertas-kertas dengan tulisan diatasnya, yang malahan saya mengucap syukur ke hadirat Allah SWT, saya ikut-ikut menuliskan beberapa huruf dari pada tulisan-tulisan itu.

Tetapi bagaimanapun juga saudara-saudara, ini adalah sekadar kertas dengan aksara-aksara, tulisan-tulisan di atasnya. Tetapi sebagai saudara-saudara mengerti, apalagi sesudah mendengarkan uraian Yang Mulia Menteri Agama dan Yang Mulia  Menteri Djojomartono; Yang hebat, yang abadi, yang menguasai jiwa kita sekalian ialah isi, makna dari pada tulisan-tulisan itu. Dan memang tulisan-tulisan yang tertera di atas kertas itu, membawa makna. Dan makna itulah saudara-saudara, sebagai saudara-saudara telah mengerti makna itu adalah abadi, makna itu adalah berisikan petunjuk yang hebat sekali kepada seluruh perikemanusiaan.

Berulang-ulang saya di sini mensitir ucapan Thomas Carlyle, sebagai tadi juga disitirkan oleh saudara Muljadi Djojomartono akan beberapa ucapan Thomas Carlyle yang antara lain berkata, “Bahwa justru makna dari pada kata-kata, aksara-aksara yang tertulis di dalam kita Qur’an itu, membuat padang pasir yang tadinya sekadar pasir, meledak. Dan api ledakannya itu dilihat oleh kemanusiaan di tujuh penjuru dunia.”Saudara Muljadi mensitirkan Thomas Carlyle, yang menggambarkan bahwa oleh kekuasaan isi kata dari Qur’an ini, bangsa Arab yang tadinya bangsa biadab, tadinya bangsa yang suka berkelahi, tadinya bangsa yang pemabuk, tadinya bangsa yang suka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan, bangsa yang tadinya bangsa penipu, di dalam satu abad telah mendirikan satu kerajaan yang megah, antara Andalasuia dan Delhi.

Dan sekarang saudara-saudara malahan isi dari kalimat-kalimat Qur’an tersebar di seluruh muka bumi. Saya sering mensitir ucapan Thomas Carlyle yang mengatakan. “En het zand der woestijn bleek geen zand te zijn, het bleek kruit te zijn, het ontplofte en den ontploffing werd gehoord door der de gehele mensheid.” Arttinya. Pasir dari pada pasir ini, di padang pasir ini, ternyata bukan sekadar pasir. Ternyata pasir ini adalah mesiu. Mesiu ini kena cetusan api dari pada Qur’an dari pada agama Islam. Mesiunya meledak dan ledakannya didengarkan oleh seluruh perikemanusiaan.

Saudara-saudara, kita semuanya tadi mendengarkan pembacaan surat pertama Al-Fatihah, yang malahan sering dikatakan oleh ulama-ulama Islam, bahwa di dalam surat Al-Fatihah ini tersimpul segenap isi Al-Qur’an. Ber-Al-Fatihah yang pada pokoknya bukan saja memuji kepada Allah SWT yang dikatakan yaw middin. Tuhan dari pada hari kemudian, bahwa kita memohon kepadanya petunjuk, mohon diberitahu jalan yang benar. Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in, ih dinash sirathal mustaqim sirathal ladzina an amta alaihim, ghairil magh’dhubi alaihim, waladhalin mohon di beritahu jalan yang benar, jalan yang dikaruniai oleh Tuhan, bukan jalan yang dimurkai oleh Tuhan.

Perhatikan saudara-saudara, kita di dalam surat Al-Fatihah itu, dengan mengucapkan kalimat-kalimat dari surat Al-Fatihah itu memohon petunjuk, memohon diberitahu oleh Allah SWT akan jalan yang benar, bukan jalan yang dimurkai. Dan Tuhan memberitahu jalan, Tuhan memberi tahu jalan itu, antara lain seluruh Al-Qur,an itu tiap-tiap surat, tiap-tiap kalimat, tiap-tiap kata dari pada Qur’an itu adalah petunjuk, ini, ini adalah jalan yang benar, ini adalah jalan yang benar, ini adalah jalan yang benar, ini adalah jalan yang benar, itu adalah jalan yang salah, itu adalah jalan yang salah itu adalah jalan yang salah. Sekadar petunjuk saudara-saudara. Tetapi kita, apakah kita cukup dengan kita mendapat petunjuk, itulah jalan yang baik? Tidak! Saudara-saudara kita harus berjalan di atas jalan itu, sesudah kita mendapat petunjuk dari Allah SWT akan jalan yang benar. Kita tidak hanya cukup dengan, sekarang kita akan mendapat pahala, sekarang kita akan mendapat kenikmatan hidup duniawi dan akhirat. Kita harus berjalan melalui jalan yang benar itu, jangan melalui jalan yang tidak benar. Dus kita harus berjalan, dus kita harus berbuat, dus, kita ini beramal, tidak cukup kita dengan hanya mengetahui mana jalan yang benar.

Kita memohon di dalam surat Al-Fatihah diberikan petunjuk jalan yang benar, tetapi tidak cukup bagi kita, untuk atau hanya mengetahui jalan yang benar. Kita harus menajalan jalan yang benar itu. Oleh karena itu tepatlah perkataan beberapa ahli agama, ulama-ulama agama, yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama amal. Bukan sekadar agama untuk mengetahui jalan yang benar, tetapi agama amal, the gospel of action.

Dikatakan bahwa kitab Al-Qur’an itu, demikianlah perkataan seorang ahli agama Islam dari negara Asing dengan perkataan asing, yang mengadakan “Islam is the gospel of action”, “Islam is het evangelic van de daad”. Islam adalah satu agama amal, perbuatan. Sebagaimana kita tadi juga di dalam surat Al-Fatihah mendengar pujian kita kepada Allah SWT, yang disebutkan Tuhan itu arrahman arrahim yang tempo hari sudah saya terangkan kepada saudara-saudara, perbedaan antara perkataan rahman dan rahim, perbedaan antara perkataan rahmaniah dan rahimiah, Rahmaniah; Tuhan memberi kenikmatan kepada kita, sekadar sebagai cinta Tuhan kepadamu tanpa kita beramal apa-apa, demikianlah kataku tempo hari. Seorang anak bayi procot keluar dari gua garba ibunya, sudah mendapat rahmaniah dari Allah SWT, oleh karena dia bisa melihat, oleh karena dia bisa menghirup udara yang segar, oleh karena dia bisa menetek air tetek yang manis, oleh karena di lahirkan diatas bumi yang kaya. Padahal sang bayi itu saudara-saudara, belum berbuata apa-apa, tetapi oleh karena rahmaniah Allah SWT dia diberi hidup, dia diberi nikmat. Tetapi rahmaniah Allah SWT saudara-saudara, demikianlah kataku tempo hari, adalah ganjaran atas amal.

Saya berkata tempi hari, jikalau kita menanam padi, menggarap kita punya tanah bekerja mati-matian untuk menanam padi, menanam padi, menanam padi, untuk membawa hasil padi, membawa hasil beras yang bisa kita makan, yang bisa kita berikan kepada kita punya istri, kepada kita punya anak, yang bisa kita jual supaya kita bisa mendapat uang agar supaya kita bisa membeli pakaian. Itu adalah rahmaniah dari Allah SWT. Upah, ganjaran atas amal-amal kita.

Oleh karena itu saudara-saudara, maka tepat sekali jikalau di dalam agama Islam pokoknya Al-Qur’an, dinamakan “The Gospel of Action”. “Het Evangelic van de Daad”, agama dari pada amal, perbuatan.

Pada malam ini kita berkumpul di Istana Negara ini saudara-saudara, untuk memuliakan Nuzulul Qur’an. Pada malam ini kita berkumpul di Istana Negara untuk menyaksikan penyerahan Qur’an pusaka. Pada malam ini, kita semuanya harus mencamkan di dalam kita punya hati. Marilah kita selalu beramal, selalu beramal, selalu beramal. Hanya dengan amal kita dapat menolong diri sendiri. Hanya dengan amal kita dapat menolong bangsa kita. Hanya dengan beramal kita bisa menolong tanah air kita. Hanya dengan amal kita bisa menolong bangsa kita. Hanya dengan beramal kita bisa mencapai cita-cita rakyat Indonesia, yaitu untuk negara yang merdeka dan berdaulat penuh, masyarakat yang adil dan makmur di dalamnya.

Tadi pagi ketika memberi amanat kepada Angkatan ’45 saya katakan, tiap-tiap manusia Indonesia sekarang ini, boleh dikatakan setuju dengan Manifesto Politik. Manifesto Politik adalah saudara-saudara, seperti satu petunjuk. Isinya jalan untuk mencapai kemakmuran. Itu jalan untuk mencapai kebahagian. Itu Undang-Undang Dasar 1945. Itu sosialisme a la Indonesia. Itu ekonomi terpimpin. Itu jalan kepada kemakmuran. Itu jalan kepada kepribadian kebudayaan Indonesia sendiri.

Tetapi, tidak cukup kita sekadar mengetahui jalan itu, tidak cukup kita sekadar mengetahui bahwa ekonomi terpimpinlah jalan untuk mencapai kemakmuran ekonomi. Tidak cukup kita hanya mengetahui bahwa demokrasi terpimpinlah membawa kita kepada pengerahan tenaga yang sebaik-baiknya, untuk menyelesaikan kita punya revolusi.

Kita harus beramal, kita harus berjalan, kita harus – di dalam istilah saya-harus membanting tulang, mengulurkan kita punya tenaga, memeras kita punya keringat mati-matian.

Hidup selamat duniawi, hidup selamat ukhrawi, hanyalah kita capai buat sebagian besar, karena amal, tidak dengan cara berdiam diri sekadar “Ins, Blaue Hinein”, membiarkan segala keadaan berjalan sendiri.

Sekian saudara-saudara, amanat saya, dengan ini saya mengucap beribu-ribu terima kasih sekali lagi, kepada semua pekerja yang membuat Qur’an pusaka ini. Dan sebagai tadi saya katakan, Insya Allah SWT. Qur’an pusaka ini akan saya pelihara dan saya simpan dengan cara sebaik-baiknya.

Terima kasih.