Bung Karno Yakini Al-Qur’an Petunjuk Hebat. Nuzulul Quran yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, pada 15 Maret 1960 salah satunya di tandai dengan penyerahan Qur’an pusaka, yang diserahkan melalui Menteri Agama KH M Wahib Wahab kepada Presiden Soekarno. Dalam sambutan amanatnya, Soekarno berjanji untuk menyimpan dan memelihara Qur’an pusaka tersebut dengan sebaik-baiknya.

“Dan di sinilah tempatnya pula saya mengucapkan salut kehormatan dan terima kasih kepada semua saudara-saudara yang telah membantig tulang, bekerja keras untuk membuat Qur’an pusaka ini, terutama sekali kepada Haji Abu Bakar Aceh,” kata Bung Karno.

Bung karno mengungkapkan, Qur’an pusaka yang terbuat di dalam tiga bagian. Seperti di uraikan sendiri oleh Haji Abu Bakar Aceh ini adalah sekadar tumpukan kertas-kertas dengan tulisan-tulisan di atasnya. Bung Karno juga merasa bersyukur karena ikut menuliskan beberapa huruf dari pada tulisan-tulisan itu. Tetapi bagaimanapun juga, meski hanya sekadar kertas dengan aksara-aksara. Tulisan-tulisan di atasnya, tetapi isinya yang hebat, yang abadi, yang menguasai jiwa kita sekalian.

“Dan memang tulisan-tulisan yang tertera di atas kertas itu, membawa makna. Dan makna itulah saudara-saudara, sebagai saudara-saudara telah mengerti makna itu adalah abadi. Makna itu adalah berisikan petunjuk yang hebat sekali kepada seluruh perikemanusiaan,” ungkap Bung Karno.

Dalam kesempatan itu, Bung karno mensitir ucapan Thomas Carlyle, yang antara lain berkata. “Bahwa justru makna dari pada kata-kata, aksara-aksara yang tertulis di dalam kita Qur’an itu, membuat padang pasir yang tadinya sekadar pasir, meledak. Dan api ledakannya itu di lihat oleh kemanusiaan di tujuh penjuru dunia.

Masih menyitir ungkapan Thomas Carlyle, yang menggambarkan bahwa oleh kekuasaan isi kata dari Qur’an. Bangsa Arab yang tadinya bangsa biadab, tadinya bangsa yang suka berkelahi, tadinya bangsa yang pemabuk, tadinya bangsa yang suka mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan, bangsa yang tadinya bangsa penipu, di dalam satu abad telah mendirikan satu kerajaan yang megah, antara Andalasuia dan Delhi.

“Dan sekarang saudara-saudara malahan isi dari kalimat-kalimat Qur’an tersebar di seluruh muka bumi,” tegas Bung Karno.

“Saya sering mensitir ucapan Thomas Carlyle yang mengatakan. “En het zand der woestijn bleek geen zand te zijn, het bleek kruit te zijn, het ontplofte en den ontploffing werd gehoord door der de gehele mensheid.” Arttinya. Pasir dari pada pasir ini, di padang pasir ini, ternyata bukan sekadar pasir. Ternyata pasir ini adalah mesiu. Mesiu ini kena cetusan api dari pada Qur’an dari pada agama Islam. Mesiunya meledak dan ledakannya di dengarkan oleh seluruh perikemanusiaan,” terang Bung Karno. (RS)