Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru: Pidato Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 6 Maret tahun 1961

Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru: Pidato Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 6 Maret tahun 1961

Saudara-saudara sekalian.

Assalamualaikum warahmatulllahi wabarakatuh.

Juga saya diminta untuk mengadakan sambutan pada malam kita memperingati Nuzulul Qur’an buat kesekian kalinya di Istana Negara ini.

Saudara-saudara, orang yang mengatakan bahwa saya ini orang terpelajar. Orang yang mengatakan bahwa saya ini seorang orang intelek, intelek artinya terpelajar. Yah jikalau memakai ukuran yang biasa orang pakai, bolehlah saya ini dinamakan orang intelek. Intelek dari perkataan intellect. Intelek yaitu otak, pikiran. Sekali lagi saya katakan, jikalau kita memakai ukuran biasa memang bolehlah saya dinamakan seorang intelek. Saya dulu sekolah menengah, kemudian naik ke sekolah tinggi, kemudian memperoleh derajat insinyur. Saya sekarang memikul titel doktor, bahkan bukan satu, bukan dua, bukan tiga, bukan empat, saya memikul titel doktor 16 macam. Saya bertitel pula profesor.

Jadi saya ini menurut ukuran yang biasa orang pakai, benar intelek, ya bersekolah menengah, bersekolah tinggi, ya bertitel insinyur, ya bertitel doktor 16 macam, ya bertitel profesor.

Pernah seorang intelek pula menanya kepada saya, “Apakah Bung Karno yang intelek itu, Bung Karno yang Profesor, yang doktor 16, yang insinyur, percaya kepada adanya Tuhan? “Ya, saya menjawab dengan tegas, “Ya saya percaya dengan adanya Tuhan.” “Kan Bung Karno seorang intelek, kok percaya dengan adanya Tuhan. Apa buktinya Tuhan ada! Menurut ilmu intelektualisme, segala yang ada itu harus ada buktinya. Bung Karno berkata, bahwa Bung Karno percaya akan adanya Tuhan. Apa buktinya Tuhan ada? “Saya menjawab, “Ya, jikalau saya harus membuktikan kepada saudara, kepadamu, jikalau saya harus membuktikan kepada saudara bahwa Tuhan itu ada, saya tidak bisa. Tetapi saya bisa membuktikan kepada diriku sendiri, kepadaku sendiri, bahwa Tuhan ada.” “ Apa buktinya? “ Saya berkata, “ . . . sering saya bercakap-cakap dengan Tuhan.”

“Barangkali saudara Karno bercakap-cakap dengan sesuatu hal yang sebenarnya tidak ada, itu mungkin bukan! Orang yang bercakap-cakap dengan sesuatu hal, sesuatu zat sebenarnya tidak ada, jadi itu belum bukti, Bung Karno belum buktikan, bahwa Tuhan itu ada . . . “ Saya berkata , “saya sering meminta kepada zat itu, itu pun belum bukti bahwa Tuhan ada. Saya berkata bahwa saya sering minta kepada zat itu, dan zat itu memberikan kepadaku apa yang kuminta. Nah, itulah bagiku satu bukti yang nyata, bahwa Tuhan itu ada.”

Dan memamg saudara-saudara, sering saya memohon sesutau kepada zat yang dinamakan Allah SWT itu, dan apa yang kuminta  itu diberikan oleh-Nya. Bagiku itu adalah satu bukti yang kuat, yang teguh, yang nyata, yang tak dapat dibantah, bahwa zat yang kuminta itu ada, bahwa Tuhan itu ada.

Malam ini saudara-saudara, kita memperingati turunnya Qur’an, Nuzulul Qur’an yang sebagai tadi diterangkan oleh Pak Muljadi Djojomartono, oleh Pak Idham Chalid, di dalam Qur’an itu beberapa ayat dengan kuat dan tegas menyatakan adanya Tuhan itu. Bahkan diterangkan oleh Pak Muljadi Djojomartono bahwa Qur’an atau bagian dari pada Qur’an yang diturunkan di Mekkah, terutama sekali memberi peringatan kepada manusia harus takwa kepada-Nya.

Qur’an! Saudara-saudara, jkalau saya berdiri di hadapan saudara-saudara pada saat sekarang ini, ingatlah saya kepada satu peristiwa yang saya alami sendiri. Saudara-saudara mengetahui bahwa pada tanggal 19 Desember 1948, Yogyakarta diserbu oleh Belanda, sesudah tentara Belanda itu menyerbu kota Yogyakarta, saya dengan beberapa kawan ditangkap oleh Belanda itu, kemudian pada tanggal 22 Desember 1948, saya di bawa ke Berastagi ditaruh di satu tempat, disatu rumah. Dan dirumah itu sudah dikurung dengan kawat berduri, dijaga oleh serdadu-serdadu Belanda sekelilingya, dan serdadu-serdadu Belanda itu di bawah pimpinan seorang letnan, letnan Belanda dari KL.

Di dalam rumah itu saya ditaruh dengan beberapa kawan, dan disana ada dua orang bangsa kita suami-istri, laki dan perempuan yang laki namanya, kebetulan, seperti saya: karno; istrinya namanya Musiah. Jadi sepasang suami-istri Karno dan Musiah yang ditugaskkan memasakkan makanan-makanan bagi yang ditawan di dalam rumah di Berastagi itu. Karno dan Musiah adalah orang-orang yang datangnya atau asalnya dari Pacitan. Jadi barangkali dulu datang di daerah Medan sebagai kuli kontrakan atau bagaimana.

Sesudah 3 hari di dalam rumah itu, pada satu pagi, saudara-saudara kira-kira jam 10 pagi, Musiah dengan Karno datang kepada saya sambil menangis tersedu-sedu. Saya bertanya kepada Karno dan Musiah, “Karno dan Musiah, kenapa engkau berdua menangis tersedu-sedu sambil memeluk-meluk lututku?”

“Yah Bapak,” katanya Musiah ini, “tadi di dapur saya sedang menggoreng srundeng.”saudara tahu apa itu srundeng? (ditujukan kepada hadirin). Tuan letnan datang di dapur itu menanya kepada Musiah, “Musiah, sedang apa engkau?” “Saya dengan membikin srundeng, Tuan Letnan” Buat siapa kau membikin srundeng itu? “Buat Bapak Soekarno. Apakah engkau tidak tahu bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati! Kami menunggu perintah dari Medan, yang kami sudah tahu perintah itu apa. Besok pagi Sukarno akan kami tembak mati!”

Nah, sesudah mendengar perkataan Tuan Letnan ini, Musiah dengan Karno lari dari dapur, lari kepada saya dengan menangis tersedu-sedu.

Saudara-saudara bisa menggambarkan bagaimana keadaanku pada saat itu. Dikatakan oleh Musiah dan Karno bahwa besok pagi aku akan ditembak mati. Aku ingat kepada Tuhan, “Ya Allah ya Rabbi, kalau memang itu telah dikehendaki oleh Tuhan, yah apa boleh buat.” Aku ingat pada waktu itu akan segala apa yang aku baca tentang Nabi Muhammad Saw. Bagaimana Muhammad Saw pun pernah mencucurkan air mata, menangis di hadirat Allah SWT karena ada terjadi barang sesuatu yang beliau anggap bahwa beliau belum bisa, belum dapat menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Saya mengambil air wudhu pada waktu itu, saudara-saudara dan sembahyang. Sesudah sembahyang, aku terharu, maaf aku menurunkan sebentar aku punya hati ini. Sesudah aku sembahyang, aku mengambil kitab Qur’an, Qur’an yang aku bawa ini dari Yogyakarta. Qur’an yang sebagai dikatakan oleh Pak Muljadi Djojomartono tadi sebagian sebelah bahasa Arab, sebagian sebelahnya salinan bahasa asing.

Aku terangkan aku punya jiwa, dan aku memohon petunjuk. Maaf saya terharu saudara-saudara. Mohon petunjuk dari pada Allah SWT dengan permohonan; Ya Allah berilah petunjuk kepadaku bilamana aku membuka kitab ini, apa yang engkau katakan pada kaca sebelah kiri, kalimat sebelah kiri yang teratas. Saya ulangi: Aku mohon kepada Tuhan supaya memberi petunjuk kepadaku. Kalau nanti Qur’an ini aku buka, berilah petunjuk di pagina kaca sebelah kiri, kalimat di atas, paling atas dari pada pagina kiri itu.

Kemudian sesudah itu aku menenangkan aku punya pikiran dan hati, aku buka Qur’an itu dan aku baca, yang bilamana di dalam bahasa asing berbunyi kira-kira “Waarom zult gij den mens geloven waar Ik kenner ben van alle dingen.” Artinya. “Kenapa engkau percaya omongan manusia, aku inilah Yang Maha Mengetahui.” “Waarom zult gij den mens geloven waar Ik kenner ben van alle dingen.” Kenapa engkau percaya kepada manusia, Akulah yang maha mengetahui. Allahu Akbar, saudara-saudara.

Sesudah aku membaca kalimat itu, tegak lagi jiwaku, aku tidak gimir lagi, tidak gentar lagi. Di dalam hatiku, ya mugkin memang benar Letnan Belanda ini berkata kepada Musiah dan Karno. Bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati. Tetapi Allah SWT di dalam kitabnya, Al-Qur’an berkata, “Buat apa aku percaya kepada manusia, Tuhanlah Yang Maha Mengetahui.”

Apa yang terjadi dengan saya itu, terus pada saat itu saya kata-kata kepada almarhum Kiai Haji Agus Salim, yang bersama dengan saya di dalam rumah tahanan itu. Dan Pak Salim pun berkata, “Ya, marilah kita teguhkan kita punya hati dan jiwa, Tuhan Yang Maha Mengetahui.”

Saudara-saudara, saudara melihat bahwa keesokan harinya saya tidak ditembak mati. Dan sampai sekarang pada malam ini, bukan tahun 1948, tetapi tahun 1961, alhamdulillah Sukarno masih hidup, Sukarno malahan berdiri di hadapan saudara-saudara.

Kejadian ini saudara, menambah tebalnya kepercayaan saya kepada Allah SWT dan kepada Qur’an.

Dulu, sebelum kejadian itu, pernah saya katakan bahwa, ya, memang di dalam hidup saya ini kalau boleh saya ceritakan, tampak satu evolusi mengenai kepercayaan kepada Tuhan dan agama. Tatkala saya masih pemuda saya tidak percaya kepada Allah dan agama; kemudian saya menjadi pemimpin, kemudian di dalam bui, ini salah satu hikmah, dipenjarakan saudara-saudara. Di dalam penjara saya mempelajari agama, keluar dari penjara saya menjadi manusia yang percaya mati-matian kepada Tuhan dan Muhammad. Kejadian di Berastagi mempertebal kepercayaanku kepada Tuhan, Muhammad dan Qur’an ini.

Saudara-saudara, Allahu Akbar, memang, alangkah hebatnya kita ini saudara-saudara. Kitab yang kita namakan Qur’an, kadang-kadang setebal ini kalau aksara-aksaranya besar, kadang-kadang kecil sekecil dua jari. Saudara-saudara tahu akan Qur’an kecil yang kadang-kadang dikalungkan kepada anak-anak? Tetapi alangkah hebatnya isi kitab ini saudara-saudara, yang tadi ini telah diterangkan oleh Pak Muljadi Djojomartono, segala hal termaktub di dalamnya.

Kitab ini, yang telah mengadakan revolusi mahahebat di dalam perikehidupan manusia, bukan saja perikehidupan manusia di Arabia, tetapi perikehidupan manusia di permukaan bumi ini, mengadakan satu revolusi maha hebat. Satu revolusi yang bukan lagi revolusi segala kita punya revolusi, satu revolusi pancamuka, 5 macam, tetapi mungkin ini revolusi yang diadakan oleh Tuhan via Qur’an itu adalah revolusi dasamuka. Bukan Rahwana Dasamuka, tetapi revolusi yang 10 macam sekaligus. Sebagaimana revolusi yang 10 macam sekaligus. Sebagimana revolusi kita yang pancamuka saya namakan “a summing up of many revolutions in one generation.” Macam-macam revolusi sekaligus terjadi di Indonesia ini di dalam satu angkatan saja; Ya revolusi nasional kataku, Baca pidatoku, ya revolusi nasional, ya revolusi kultural, kebudayaan, ya revolusi membentuk manusia Indonesia baru. Tetapi apa yang termaktub di dalam satu kitab ini, entah kita sekian tebalnya entah sekadar dua jari kecilnya, apa yang diadakan oleh kita yang satu ini, adalah benar-benar revolusi yang berlipat-lipat ganda besarnya.

Qur’an mendatangkan revolusi batin manusia, Qur’an mendatangkan revolusi dalam pandangan manusia terhadap Tuhan. Qur’an mengadakan, mendatangkan revolusi ekonomi, Pak Muljadi tadi menceritakan ayat-ayat yang mengenai ekonomi. Qur’an mendatangkan revolusi yang mengenai hubungan manusia dengan manusia, dus revolusi sosial. Qur’an mendatangkan revolusi yang mengadakan perubahan mutlak, membentuk manusia baru. Qur’an mendatangakan revolusi moral, moral yang meliputi seluruh dunia. Pak Muljadi tadi telah berkata bahwa apa yang di tulis di dalam Qur’an adalah buat segala manusia, buat segala tempat, buat segala zaman. Moral dunia terbentuk, terbangun, oleh Qur’an.

Alangkah hebatnya saudara-saudara. Qur’an itu besar atau kecil cetakannya, demikian hebatnya sehingga ayat yang pertama membuat Nabi kita Muhammad Saw gemetar! Tatkala Jibril berkata kepada Nabi kita, “Iqra, Iqra, Iqra.” Bacalah, bacalah, bacalah, gemetarlah Nabi beberapa kali, bahkan pun sesudah Nabi mengikuti ucapan dari pada Jibril ini. Beliau pulang masih gemetar, masih beliau berkata kepada Khadijah, “Ya, Khadijah, aku takut.” Dan bukan saja pada saat itu, pada tanggal 17 Ramadhan, lebih 1350 tahun yang lalu, di Gua Hira saudara-saudara, tetapi juga kemudian, kemudian, kemudian dari pada itu. Tiap-tiap kali firman Allah ini datang, Muhammad masih gemetar. Apakah oleh sebab Jibril berkata kepadanya? Tidak, tetapi oleh karena Qur’an ini adalah satu mukjizat yang amat hebat saudara-saudara.

Saudara mengetahui dari riwayat, bahwa tiap-tiap kali Nabi mendapat wahyu, kalimat-kalimat dari Qur’an itu, beliau keluar keringat, beliau gemetar, sehingga ada seorang profesor usil dari negeri barat, mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah ini menderita sakit ayan katanya. Ya, dikatakan epilepsi, sakit ayan, dikatakan bahwa Muhaammad bin Abdullah ini menderita sakit epilepsi, sakit ayan, oleh karena dia saban-saban seperti setengah mati saudara-saudara. Itu ialah karena, kataku tadi, ini kitab Qur’an adalah laksana satu mukjizat yang sehebat-hebatnya.

Maka oleh karena saudara-saudara, kita, kita sekarang ini, ya Sukarno, ya Muljadi Djojomartono, ya Idham Chalid, ya Sudibjo, ya Hidayat, ya Sumarno, ya Sri Sultan, ya kita semuanya, sedang Nabi Muhammad Saw tiap-tiap kali dia mendapat wahyu dia gemetar, kok kita kadang-kadang mendengar Qur’an itu sambil goyang kaki.

Maka sebaiknya saudara-saudara, kita berusaha untuk mengerti sedalam-dalamnya akan isi, semangat jiwa, kehendak, Qur’an ini. Inilah yang tempo hari saya namakan dengan perkataan api Islam. Siapa yang bisa memegang atau menangkap api Islam ini, dialah sebenarnya orang mukmin sejati.

Pernah saya katakan di tempat ini, bahwa tiap-tiap kali Allah SWT menjanjikan Falah kepada manusia, menjanjikan kebaikan falah, menjanjikan sukses kepada manusia, Tuhan selalu memakai perkataan mukmin. Falah dijanjikan kepada mukmin, tidak dijanjikan kepada muslimin. Kenapa Tuhan memakia perkataan mukmin dan tidak memakai perkataan muslimin? Jikalau Tuhan menjanjikan falah kepada manusia, tak lain tak bukan sebagai tadi saya katakan, mukmin adalah orang yang benar-benar menangkap api Islam ini; hidup di dalam api ini, menjalankan segala sesuatu yang tertulis di dalam Qur’an itu, dan dialah yang akan mendapat falah, dialah yang mendapat kebaikan, dialah yang akan mendapat sukses, dialah yang akan mendapat kerjayaan.

Qur’an membuat manusia baru, Bandingkan manusia sebelum turunnya Qur’an, 1350 tahun lebih yang lalu dengan manusia yang benar-benar hidup di dalam api Islam itu.

Kemarin dulu saya berkata di Masjid Baiturrahim, bahwa kita ini, jikalau kita betul-betul ingin menjadi orang mukmin, orang yang benar-benar beragama Islam, kita tegak, seperti tadi dikatakan oleh Muljadi Djojomartono, tegak. Janganlah orang Islam, umat Islam ini orang-orang yang jiwanya mengkeret, badannya mengkeret, sikapnya mengkeret. Hal yang demikian itu bukan kehendak Qur’an, bukan kehendak Islam.

Lihat saudara-saudara, dari semua makhluk hidup, makhluk bergerak yang diciptakan oleh Tuhan, lihatlah saudara-saudara perbedaan antara manusia dengan binatang! Ular merayap, buaya merayap, saudara-saudara. Sapi meskipun mempunyai kaki empat, badannya slonjor saudara-saudara. Kerbau meskipun mempunyai kaki empat, badannya slonjor, horizontal. Bahkan ada yang horizontalnya itu nempel pada bumi. Burung yang bisa terbang, berkaki dua, badannya masih kebanyakan horizontal. Manusia, satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Tuhan berdiri tegak, tegak lurus vertikal.

Manakala Tuhan menciptakan demikian manakala Tuhan malahan memberi kepada manusia ini ajaran-ajaran yang termaktub di dalam Qur’an itu, kok kita yang menerima ajaran ini lantas mengkeret kita punya sikap. Tidak sesuai saudara-saudara dengan kehendak Allah SWT.

Dan di dalam kata-kata yang saya ucapkan terhadap saudara-saudara di Baiturrahim itu saya berkata, “Bukan saja ini kehendak agama kita Islam; bukan ini tidak sesuai, jikalau kita mengkeret kataku, dengan sunah Nabi kita, Nabi yang terkenal sebagai manusia yang gagah, bukan sombong, bukan kurang ajar, tetapi orang yang sigap, orang yang gagah; bukan itu kehendak dari pada agama Islam untuk menjadi manusia-manusia yang mengkeret, tetapi juga negara Republik Indonesia ini diadakan untuk membuat bangsa Indonesia itu bangsa yang tegak.” Tidakkah tadi kukatakan bahwa kita punya revolusi ini adalah a summing up of many revolution in one generation? Ya revolusi nasional, ya revolusi politik, ya revolusi sosial, ya revolusi kultural, ya revolui manusia baru Indonesia. Supaya manusia baru Indonesia ini adalah manusia-manusia yang badannya sigap. Supaya manusia baru Indonesia ini adalah manusia-manusia yang hidup cinta kepada kemerdekaan. Supaya manusia-manusia baru Indonesia adalah manusia-manusia yang cukup sandang cukup pangan. Supaya manusia Indonesia ini hidup di dalam satu masyarakat yang adil dan makmur, oleh karena itu tidak bersikap sebagai manusia yang mengemis, yang meminta-minta, yang merintih, yang menangis, tetapi yang manusia hidup di dalam masyarakat yang adil dan makmur, manusia yang hidup bisa menjalankan agamanya dengan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya.

Inilah kehendak Proklamasi 17 Agustus 1945. Maka oleh karena itu saudara-saudara, pesan saya pada malam ini kepada saudara-saudara sekalian ialah, “Marilah kita mencoba, berusaha menangkap api Islam itu, sebab hanya orang yang menangkap api Islam ini adalah orang yang mukmin. Dan orang yang mukmin akan mendapat falah dari pada Allah SWT. Dan orang yang mukmin mengetahui pula akan apa yang menjadi tugas amanat dari pada negaranya. Orang mukmin mengetahui bahwa di mempunya kewajiban untuk beramal, menjalankan segala sesuatunya yang harus diamalkan.”

Mari saudara-saudara kita memperingati Nuzulul Qur’an pada malam ini dalam semangat yang saya maksudkan itu tadi.

Sekian. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.