Anggrek dan Riset: Koneksitas Ideologis Bung Karno dan Megawati dalam Menggelorakan Rasa Cinta Tanah Air. Indonesia adalah sebuah Negara dengan keragaman dan kekayaan alam yang jika diibaratkan sebagai seorang gadis dengan kecantikan dan keelokan yang mempesona. Ibarat bunga, ia adalah anggrek yang menjadi simbol kecantikan yang luar biasa. Namun, bukan rahasia lagi bahwa kecantikan nan rupawan itu, banyak yang hanya terucap melalui slogan yang miskin makna.

Ambil contoh saja dalam diskursus mengenai pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia ke Pulau Kalimantan. Bukan berarti menganggap diskursus tentang perekonomian dan efektivitas pemerintahan sebagai hal yang tidak penting, karena tentu dua hal itu menjadi pemahaman umum sangat penting dijadikan pertimbangan. Namun, tidak seharusnya juga ada kelalaian kolektif untuk memberikan perhatian pada “Anggrek Kalimantan” salah satu simbol kecantikan yang dimiliki bangsa ini.

Apalagi, memberikan perhtian pada Anggrek Kalimantan sejatinya tak sekadar keindahan, namun juga sekaligus bisa menjadi pemantik yang membuka kesadaran mengenai pentingnya suatu riset. Sebab, kebanyakan dari anggrek-anggrek yang ada, selain anggung dan cantik dari tampilan, juga menyimpan kekuatan sebagai endemi.

Memang, jika mengacu pada opini di publik, ada kecenderungan bahwa sebagian masyarakat kita mengalami defisit dalam hal rasa kebanggaan atas kekayaan dan keindahan alam yang melekat pada bangsa ini. Menganggap temuan penelitian atas spesies baru anggrek-anggrek yang dimiliki Indonesia sebagai informasi biasa saja, dianggap kurang menarik sehingga sepi dari apresiasi dan pemberitaan, adalah contoh bahwa kecenderungan sikap sebagaimana tersebut di atas memang cukup permisif.

Biasanya, dikala ada apresiasi dan perhatian dari dunia luar dengan kemasan populis, barulah sebagian di antara kita tergopoh-gopoh dengan surplus narasi untuk menunjukkan betapa kayanya bangsa ini.

Persis dengan fenomena sepinya respon dan perhatian terhadap spesies anggrek Indonesia hasil temuan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia dan beberapa peneliti lainnya di satu sisi, dan di sisi lain antusias memberikan respon ketika ada sineas dari Hollywood yang mengangkat penelitian mengenai “Anggrek Darah” dari Kalimantan, dalam film Anaconda: The Hunt for the Blood Orchid.

Dalam film besutan sutradara Dwight H. Little mengisahkan ekspedisi ilmiah di Kalimantan untuk mencari bunga yang disebut Anggrek Darah atau Blood Orchid, yang dipercaya dapat membuat orang panjang umur dan memiliki kehidupan abadi. Keputusan melakukan ekspedisi berawal ketika Dr. Jack Byron dan rekannya Gordon Mitchell mempresentasikan penelitian asisten mereka yang bernama Sam Rogers, dihadapan CEO dan dewan direksi sebuah perusahaan untuk mau menjadi sponsor.

Mereka sampaikan juga bahwa bunga ini tumbuh subur hanya selama beberapa minggu setiap tujuh. Setelah mendapatkan kepastian sponsor dari perusahaan tersebut, berangkatlah tim ekspedisi ilmiah itu menuju Kalimantan. Berangkat dengan sebuah keyakinan bahwa Untuk meyakinkan pihak sponsor, mereka dalam presentasinya juga menyebutkan bahwa penemuan Anggrek Darah bisa menjadi sejarah dalam ilmu pengetahuan yang akan menjadikan sebagai miliarder.

Namun di luar dugaan, perjuangan untuk mendapatkan Anggrek Darah tidak mudah, bahkan sangat sulit hingga harus mempertaruhkan nyawa. Selain faktor medan yang ekstrim di musim hujan, tim ekspedisi juga harus berhadapan dengan sekumpulan ular anaconda, yang berkumpul di hutan pada musim kawin. Dan naasnya, karena sarang mereka terletak berdekatan dengan lokasi tumbuhnya Anggrek Darah. Suatu kondisi yang rumit dan tantangan berat mengingat anaconda di sekitar lokasi itu ukurannya besar, punya pergerakan cepat, sehingga menyulitkan tim untuk bisa mendekat bunga buruannya itu.

Tuisan ini bukan dalam rangka mengulas jalannya film Anaconda: The Hunt for the Blood Orchid yang dirilis tahun 2004. Tetapi untuk merefleksikan diri kita sebagai masyarakat sebuah bangsa, agar bisa menutup defisit rasa kebanggaan atas kekayaan dan kecantikan alam yang dimiliki dan kurangnya perhatian atas pentingnya suatu riset.

Tidak harus menunggu adanya apresiasi atau perhatian yang datang dari dunia luar terlebih dahulu, baru kita mau mengakui dan merasakan kebanggaan. Tidak perlu juga menunggu hasil penelitian dari dunia luar untuk kita mau memberikan perhatian tentang betapa pentingnya riset bagi negeri ini.

Kita memang layak bangga, yang rasa bangga itu layaknya juga menyertakan konsekuensi komitmen untuk memberikan perhatian, dan kebanggaan yang merangsang generasi bangsa untuk terus meningkatkan riset sebagai bahan baku masa depan kehidupan.

Kita patut bersukur, karena di tengah sepinya perhatian pada anggrek dan pentingnya riset, masih ada sosok seperti Megawati Soekarnoputri, Presiden Indonesia ke lima, yang di antara kebisingan diskursus politik, termasuk soal pemindahan ibu kota, masih mau menitipkan Anggrek Kalimantan agar mendapatkan perhatian Presiden Jokowi.

Sebagaimana diungkap Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman dalam akun Instagram @fadjroelrachman dan @stafkhususpresiden_komunikasi, Selasa (20/2): “Ibu Megawati Soekarno Putri itu termasuk yang memesankan kepada presiden, ‘tolong anggrek-anggrek endemic kalimantan diselamatkan’.

Suatu ikhtiar yang sama pentingnya dengan urgensi dibentuknya lembaga riset yang topangan anggarannya memadahi sebagaimana selalu Megawati gelorakan dalam berbagai kesempatan. Dan kini, usulan itu telah direalisasikan oleh Presiden Jokowi dengan pembentukan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN).

Dengan perhatian serius dari pemerintah, maka ke depan kita punya aksen, diksi, dan diskursus yang familier soal riset. Familier juga ketika menyebut berbagai macam spesies anggrek yang kita miliki: ada Anggrek Bulan, Anggrek Kasut Kumis, Anggrek Kebutan, Anggrek Sendok, Anggrek Bulan Bintang, Anggrek Kerlip, Anggrek Jamrud, Anggrek Hartinah, Anggrek Jingga, Anggrek Ki Aksara, Anggrek Hitam, Anggrek Hibrida, hingga Anggrek Pandan, yang sebagian besar merupakan endemic dan hanya bisa dijumpai di Indonesia saja.

Kita bisa meniru Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno, dalam hal memberikan perhatian dan menunjukkan rasa cintanya atas kekayaan alam. Jangan kita punya asumsi bahwa itu “sekadar bunga anggrek”, karena nyatanya Bung Karno menjadikan “diplomasi anggrek” sebagaimana ditunjukkan dalam hubungannya dengan Korea Utara. Seperti kita ketahui, dalam pertemuan antara Bung Karno dengan Pendiri Negara Korea Utara, Kim Il Sung tahun 1956, saat bersama-sama mengunjungi Kebun Raya Bogor, Bung Karno memberikan sebuah bunga asli Indonesia, sebuah Anggrek Hibrida berwarna ungu. Bunga itu oleh Bung Karno dinamakan Kimilsungia, dan hingga sekarang ini bunga itu menjadi bunga negara Korea Utara, dan di sana rutin digelar ‘Festival Bunga Kimilsungia’.

Apa yang dilakukan Bung Karno dengan diplomasi anggrek, dan bagaimana perhatian yang ditunjukkan Megawati terhadap bunga-bunga endemic dan pentingnya bangsa ini memperkuat badan khusus yang menangani risert dengan anggaran yang memadahi, menjadi semacam koneksitas ideologis dalam menggelorakan cinta tanah air.

Betapa bahagianya Bangsa Indonesia, yang dengan kecantikan anggreknya akan ditopang dengan pelayanan riset yang bisa menjadi referensi ilmiah atau buku menu dalam pengelolaan masa depan. Itulah, Anggrek dan Riset: Koneksitas Ideologis Bung Karno dan Megawati dalam Menggelorakan Rasa Cinta Tanah Air (*)

*Rahmat Sahid
Kolumnis, Konsultan Media dan Komunikasi