Hari Lahir Pancasila: Mengenang Laut Ganas dan Tebing Terjal Ende 87 Tahun Lalu

Hari Lahir Pancasila: Mengenang Laut Ganas dan Tebing Terjal Ende 87 Tahun Lalu. Kampung Enda, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada kisaran antara tahun 1934-1938 adalah daerah terpencil, dan sangat tepat untuk mengasingkan seseorang.

Di daerah kecil yang menghadap laut selatan yang menurut penduduk sekitar merupakan laut ganas itu kian terasa terasing karena dikelilingi perbukitan terjal di bagian timur, barat, dan utara.

Membayangkan kondisi daerah Ende yang seperti itu pada 87 tahun lalu, mungkin itulah yang jadi pertimbangan pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Bung Karno sebagai tahanan politik.

Tujuannya adalah agar Bung Karno terputus dari komunikasi dengan rekan seperjuangan, dan menyerah pada pemerintahan kolonial.

Namun, ternyata upaya yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda adalah misi yang mubazir. Sebab, terlepas pada awalnya Bung Karno sempat stres karena dipaksa memutus komunikasi dengan rakyat serta rekan seperjuangannya, tetapi di tempat pengasingan itulah justru Bung Karno bangkit.

Melalui renungan, Bung Karno menemukan cermin masyarakat lokal yang plural serta penuh dengan kegotongroyongan. Nilai-nilai dati budaya Nusantara itulah yang kemudian hari ia rumuskan menjadi butir-butir nilai luhur yang kemudian dinamai Pancasila. Di tanah Ende itulah, bisa dia gali nilai luhur itu dengan mendalam.

Akhirnya Pancasila itulah yang menjadi dasar untuk memerdekakan Indonesia, dan kini menjadi ideologi yang menyatukan NKRI dengan keragaman dan kebhinekaan.

Refleksi yang demikian itu perlu diresapi oleh segenap Warga Negara Indonesia sebagaibrasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa. Melalui rangkaian peristiwa pengasingan Putra Sang Fajar di Ende, Tuhan punya skenario untuk mematangkannya sebagai pemimpin pergerakan rakyat untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kini, di Ende telah dibangun Lapangan Pancasila dengan patung Bung Karno yang berpose dalam perenungan. Itu sebagai pengingat bahwa di tempat itulah, sering menggunakan waktunya untuk merenungh dan membaca. Di samping pohon Sukun bercabang lima, tempat favoritnya.

Penulis, pada Juni 2013 pernah ikut nendampingo Ketua MPR Taufiq Kiemas yang hadir langsung untuk upacara Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Hadir pula saat itu Wakil Presiden Boediono. Saat itu sekaligus peresmian dua situs Bung Karno di Ende. Kedua situs itu adalah Rumah Pengasingan dan Taman Rendo. Taman Rendo merupakan tempat Bung Karno merenung dan menemukan ilham terbesar dalam sejarah perjuangannya memerdekakan bangsa Indonesia.

Di Kabupaten Ende inilah pada tahun 1934 hingga tahun 1938 Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai tahanan politik. Dalam masa pengasingan itulah, Bung Karno memperoleh kesempatan mematangkan gagasannya tentang dasar perjuangan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

“Di bawah pohon sukun di tepi laut Ende inilah Bung Karno melakukan perrenungan yang mendalam atas perumusan nilai-nilai dasar Indonesia merdeka,” ujar Ketua MPR Taufiq Kiemas.

Di sisi lain, Ende sebagai tempat pengasingan Bung Karno dan kini dua situs telah diresmikan menjadi sejarah penting dan sekaligus pengakuan secara formal peranan NTT dalam ikut membentuk NKRI. Dengan demikian, Ende bisa dikatakan sebagai rahimnya Pancasila, dan ini menjadi bukti bahwa NTT punya kontribusi dalam terbentuknya NKRI.

Kini, setelah 87 tahun berlalu, Ende sudah mulai menunjukkan sebagai kota yang hidup. Sudah tidak ada kesan sebagai tempat pengasingan, meski dengan topografi yang terasing. Sebab, jaringan komunikasi sudah masuk di daerah tersebut, pun demikian dengan penerbangan.

Di Bandara Ende, setiap harinya selalu ada penerbangan, dengan rute Kupang dan Denpasar.

Dua tempat bersejarah terkait dengan pengasingan Bung Karno juga kini telah direvitalisasi. Taman Rendo yang terdapat pohon Sukun dan patung Bung Karno, dan Rumah Pengasingan yang jaraknya tak jauh dari taman tersebut yakni sebuah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru, di Kampung Ambugaga, telah diresmikan sebagai situs sejarah. (Rahmat Sahid)