Budiman Sudjatmiko Bicara Soal Cita dan Asa Bung Karno Pada Sains. Bung Karno Bukan Sekadar Pembelajar Ilmu, Tapi Sumber Ilmu. Anak Muda Indonesia Harus Belajar dan Berpikir Seperti Bung Karno

Budiman Sudjatmiko Bicara Soal Cita dan Asa Bung Karno Pada Sains. Bung Karno Bukan Sekadar Pembelajar Ilmu, Tapi Sumber Ilmu. Anak Muda Indonesia Harus Belajar dan Berpikir Seperti Bung Karno.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno merupakan sosok ilmuwan yang sangat pintar. Selain menempuh pendidikan tinggi sebagai seorang arsitek, Bung Karno juga dianugerahi 26 doktor honoris causa, dengan rincian 17 gelar doktor kehormatan dari universitas luar Negeri dan sembilan kampus dalam negeri. Singkatnya, Bung Karno memiliki dasar keilmuan arsitek, tetapi pengetahuannya tentang politik, filsafat dan ilmu lain sangat bisa untuk diperhitungkan.

Pandangan respektif ini di kemukan penggagas Gerakan Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko, dalam Episode 25 Talk Show and Music ‘Bung Karno Series’ bertema ‘Cita dan Asa Bung Karno pada Sains’, yang ditayangkan kanal youtube Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan, Jumat, 25 Juni 2021.

Sesi diskusi menarik ini dipandu aktivis nasionalis muda Jefri Adriansyah dan menghadirkan special greeting dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Indonesia, Sung Yong Kim.

“Bung Karno bukan sekadar pembelajar ilmu, tetapi ia juga merupakan sumber ilmu itu sendiri,” tegas anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan 2009-2019 ini.

Guru Politik Budiman Sudjatmiko

Budiman berterusterang, ia sudah mengetahui dan memelajari jalan pikiran Bung Karno sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

“Guru pertama saya untuk berpolitik adalah Bung Karno. Demikian juga Bung Karno merupakan guru ekonomi, sejarah dan filsafat saya. Dari proses belajar ini saya mengetahui, bukan hanya belajar tentang pemikiran Bung Karno. Tetapi yang menjadi bekal saya adalah cara berpikir Bung Karno,” kata paria 51 tahun asal CIlacap, Jawa Tengah, itu.

Baca juga: https://bungkarno.id/2021/06/25/megawati-ingin-populerkan-salam-pancasila/

Lebih jauh, Budiman memaparkan juga bahwa pola berpikir Bung Karno ini bukan hanya berdasarkan teks. Tetapi juga harus di lihat setiap konteksnya.

Selain itu, hal yang selalu Budiman ingat adalah kata-kata Bung Karno, “Jangan warisi abunya, warisilah apinya.” Artinya, kalau kita ingin belajar dari Bung Karno, yang paling menarik adalah cara berpikirnya, bukan sekedar isi pikirannya.

Cara Berfikir Filosofis

Belajar tentang Bung Karno adalah belajar tentang cara berpikir filosofis, saintifik dan historis atau menyejarah. Karena beliau belajar dari mata air ilmu pengetahuan yaitu filsafat. Dari filsafat ke matematika, ke hard science, kemudian ke sosial humaniora.

“Proses itulah yang membuat Bung Karno memiliki visi yang tidak banyak di punyai pemuda Hindia Belanda. Yaitu mengimajinasikan suatu bentuk negara republik di wilayah Nusantara yang belum pernah ada,” urai Ketua Pelaksana atau CEO program riset teknologi ‘Bukit Algoritma’ di Sukabumi, Jawa Barat ini.

Ia memaparkan, Bung Karno adalah pemikir lintas ilmu. Hal inilah yang membuat pola pikir Bung Karno masih bisa relevan dengan masa sekarang.

“Ambil apinya bukan abunya menjadi relevan. Yang harus di ambil dari Bung Karno merupakan semangatnya. Untuk saat ini bukan lagi zamannya untuk mengkotak-kotakkan keilmuan, apakah dia biologi, politik, dan lain-lain,” kata Budiman Sudjatmiko.

Budiman menggarisbawahi bahwa Bung Karno merupakan seorang guru untuk mempelajari lintas ilmu secara saintifik yang filosofis dan sesuai dengan ruang waktu sejarahnya. Ini tak lain karena sosok ‘Bung Besar’ kita ini telah mulai merintisnya sejak usia 20 tahun. Dapat di lihat dari basis keilmuannya belajar di arsitektur, menulis tentang filsafat, ekonomi, sejarah dan politik.

“Untuk menghadapi berbagai tantangan era sekarang, anak muda Indonesia harus belajar seperti Bung Karno belajar, dan berpikir seperti Bung Karno berpikir,” pungkas politisi yang terlibat aktif memelopori penyusunan Undang-Undang Desa ini,

Perbincangan di tutup dengan kesimpulan bahwa Bung Karno bukanlah sosok yang hanya mencari pengetahuan. Melainkan menjadi teknologi untuk menyampaikan apa yang ia pelajari dari perilaku-perilakunya.

Sebagaimana yang Bung Karno sampaikan pada penerimaan gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, pada 19 September 1951.

“Bagi saya, ilmu pengetahuan itu hanyalah berharga penuh jika di pergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidupnya manusia, atau praktik hidupnya bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan.” (RS)

Simak juga: https://youtu.be/f1mPhLcuhiQ