Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia: Amanat Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Qur’an 1 Februari 1964

Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia: Amanat Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Qur’an 1 Februari 1964.

Saudara-saudara sekalian,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saudara-saudara, saudara-saudara melihat bahwa saya berjalan pincang, sebabnya ialah saya punya kaki yang kanan ini baru dioperasi oleh dokter. Tidak pakai sepatu dan badan rasa sedikit kemrekes, demam, karena ya, sakit kaki itu. Maka oleh karena itu saya akan bicara alon-alon asal klakon.

Saudara-saudara sekalian, ini malam, malam Nuzulul Qur’an, ya, satu hari kasip tetapi maksudnya ialah untuk mmperingati turunnya Al-Qur’an. Nuzululnya Qur,an. Pak Saifuddin Zuhri telah pidato, Pak Haji Mohammad Muljadi Djojomartono telah berpidato dan semua kita telah mengerti akan kebesaran kitab suci Al-Qur’an itu. Memang kita suci Al-Qur’an, kita suci yang besar artinya. Coba saudara-saudara bayangkan, bayangkan secara bertanya kembali. Umat manusia ini, dunia ini, kalau umpamanya 13 abad yang lalu tidak diturunkan Al-Qur’an oleh Allah SWT, – meskipun tetes per tetes, 22-33 tahun lamanya -, bayangkan, jikalau umpamanya 13 abad yang lalu tidak diturunkan Al-Qur’an oleh Allah SWT bagaimana rupanya dunia sekarang ini, bagaimana rupanya umat manusia sekarang ini, bagaimana keadaan-keadaan di dunia sekarang ini. Saya kira kita baru bisa menjajaki, menduga-duga dalamnya arti Al-Qur’an itu, jikalau kita merenungkan pertanyaan ini.

Ahli sejarah, saudara-saudara, telah menyatakan dengan tegas, bahwa memang Al-Qur’an itu teleh membawa satu perubahan yang hebat sejali di dalam hidupnya peri manusia di muka bumi ini. En toch, masih banyak sekali anggapan-anggapan yang salah, terutama sekali dari dunia luaran, dari dunia luaran agama Islam. Dikatakan bahwa Islam, yaitu agama yang di bawa oleh Al-Qur’an itu adalah agama pedang. Dikatakan bahwa agama Islam adalah agama perang. Seorang penulis bangsa Jerman mengatakan bahwa Islam adalah agama pedang, disebarkannya dengan tajamnya pedang, te vuur en te zwaard. Padahal sama sekali tidak demikian. Islam adalah agama perdamaian, agama salam.

Mrs. Cindy Adams boleh tulis hal ini, Islam is the religion of peace, Islam is the religion of salam. Orang Islam kalau berjumpa satu sama lain harus, disunahkan mengucap Assalamualaikum yang artinya moga-moga damai dan sejahtera jatuh kepadamu. Dan ini ucapan bukanlah hanya disunahkan antara orang Islam dengan orang Islam saja, tidak, baik juga saya mengucapkan ucapan ini misalnya kepada Kuasa Usaha Uni Soviet yang duduk di sana, Assalamualaikum. Bahkan beliau tadi tatkala aku masuk diruangan ini, beliaulah pula yang menyebutkan Assalamualaikum. Saya jawab dengan walaikum salam. Pada Mrs. Cindy Adams juga saya senang sekali megucapkan: Assalamualaikum, Mrs. Cindy Adams. Dan jikalau saya mengucapkan Assalamualaikum, sebenarnya umpamanya saudari Cindy Adams adalah orang Islam, saudara wajib menjawab: Walaikumsalam. Wajib, artinya jikalau aku mendoakan padamu sejahtera dan damailah dilimpahkan Tuhan atasmu, engkau wajib menjawab, moga-moga juga atasu dilimpahkan oleh Tuhan damai dan sejahtera.

Islam menjalar dari tempat yang kecil menajdi satu agama yang dipeluk oleh beratus-ratus manusia tidak dengan kekuasaan pedang, atau bedil, atau zaman sekarang bom dan dinamit. Tidak, tetapi kekuatan dari pada Islamlah yang membuat ia menjalar ke mana-mana, kekuatan kebenaran, kekuatan hak, kekuatan kesucian, itu membuat agama Islam ke mana-mana. Bukan pedang bukan bedil dan bom dan dinamit. Tepat yang telah diktakan oleh Bapak Menteri Agama tadi, Bapak Saifuddin Zuhri, bahwa – nah ini saya punya perkataan – penjarahan Islam ini ialah oleh karena api Islam. Maka oleh karena itu saya sendiri pun sudah berulang-ulang, berulang-ulang, berkata kepada rakyat Indonesia, jikalau engkau ingin menjadi orang Islam yang sejati, galilah api Islam ini, sebab api Islam inilah motor yang terbesar bagi umat manusia.

Apalagi kalau mengenai ucapan Thomas Carlyle, Pak Muljadi Djojomartono mengetahui, telah barangkali lebih dari sepuluh kali saya sitir perkataan Thomas Carlyle. Thomas Carlyle di dalam ia punya kitab yang termasyhur “On Heroes and Heroworship”, tatkala ia menggambarkan bahwa padang-pasir Arabia adalah tandus dan hanya pasir dan batu-batu saja, di sana-sini penggembala kambing, terik-panas, bahkan awan pun sama sekali tidak ada, hanya jikalau waku malam langit adalah biru sebiru-birunya. Penuh gemerlapan dengan bintang-bintang yang tidak terbilang jumlahnya, tetapi pasir batu, kambing, orang-orang yang biadab, en toch, api Islam telah meledak di padang pasir ini.

Agama Islam tidak diturunkan di tempat yang cantik-molek seperti Priangan, tidak diturunkan di tempat yang cantik-molek seperti tepi Danau Toba di Sumatera Utara di tempat yang cantik-molek, sawah-sawah yang menghijau, kaya-raya, ijo royo-royo kadya penganten anyar, kataku. Tidak, Islam Qur’an diturunkan di padang pasir yang tandus, tetapi apinya adalah api yang dahsyat. Thomas Carlyle berkata, “En het zand der woestijn bleek geen zand te zijn. Het was kruid, het onplofte en de ontploffing werd gehoord door de ganse wereld.”Artinya, pasir ini ternyata bukan pasir, padang pasir yang tandus ini ternyata bukan pasir, tetapi ternyata mesiu, kena percikan dari pada api Islam, meledaklah padang pasir ini dan ledakannya didengar oleh seluruh manusia di muka bumi ini.

Demikian memang, saudara-saudara, tatkala Muhammad buat pertama kali menceriatakan kepada manusia, wahyu yang pertama kalinya didatangkan, meskipun ia sendiri gemetar pada waktu itu, karena memang, sesudah ia mendapat wahyu yang pertama itu, ia sama sekali ketakutan dan gemetar sebagai yang saya  tempo hari ceritakan. Pada waktu itu datang, saudara-saudara, laksana ia melihat mata Jibril itu berpuluh-puluh ribu, beratus-ratus, berjuta-juta memenuhi angkasa. Tatkala Jibril berkata kepadanya, “Iqra”, “Iqra”, “Iqra”, Nabi melihat mata Jibril itu laksana api, saudara-saudara. Dan jikalau Nabi memalingkan mukanya dari muka Jibril dan melihat kesana melihat mata Jibril, melihat kesana, melihat mata Jibril, melihat kesana, melihat kesana, melihat mata Jibril, seluruh angkasa ini pemuh mata Jibril yang berjuta-juta jumlahnya. Gemetarlah Nabi, saudara-saudara. Pada waktu itu benar ia gemetar, tetapi sebenarnya ia telah mendapat api Islam di dalam dadanya. Dan tatkala ia menyatakan ia punya pengalaman, tatkala ia menceritakan wahyu ini, saudara-saudara, sebenarnya ia keluarkan mulutnya itu api, api, api, api, sekali lagi api. Bukan api yang membakar, tetapi yang membawa kebahagiaan, membawa kesucian, membawa kebenaran. Api ini saudara-saudara, yang menjalar, api ini menjalar ke barat sampai ke pintu gerbangnya Cordova.

Jikalau saudara pergi ke Spanyol sekarang ini, bekas-bekas kebesaran Islam saudara  masih mendapatkan disana. Menjalar ke Utara, menjalar ke Timur, menjalar kemana-mana, menjalar oleh karena manusia pada waktu itu benar-benar bisa menerima dan mau menerima, mau mengerti api ini. Dan saudara melihat dalam sejarah dunia, berdirilah negara-negara besar, baik di barat maupun di timur, negara-negara yang diwahyui oleh negara Islam. Tapi belakangan saudara-saudara melihat sendiri, bahwa justru negeri-negeri yang umatnya beragama Islam satu per satu jatuh di bawah telapak kakinya kaum imperialis dan kolonialis. Spanyol gugur, saudara melihat seluruh dunia timur yang dinamakan Asia ini gugur dibawah telapak kakinya imperialis, Maghribi gugur di bawah telapak kaum imperialis. Maroko gugur, Tunisia gugur, Aljazair gugur, Mesir gugur, Arabia gugur, apa yang dinamakan Pakistan sekarang ini gugur, Afghanistan gugur, Islam di India gugur, di Malaya gugur, di Indonesia gugur. Dimana-mana pada waktu itu, saudara-saudara, negeri-negeri yang rakyatnya beragama Islam gugur dibawah telapak kakinya imperialis.

Apa sebabnya, – ini harus dipikirkan, dicamkan oleh kita semuanya, – dan apa sebabnya kemudian negara-negara ini bangun, apa sebabnya Tunisia bangun, apa sebabnya Maroko bangun kembali, apa sebabnya Aljazair bangun kembali, apa sebabnya Pakistan berdiri, apa sebabnya Malaka, saudara-saudara, bangkit kembali, apa sebabnya Indonesia bangkit kembali, apa sebabnya? Tak lain tak bukan, oleh karena umatnya mulai mengerti kembali kepada api Islam.

Coba baca kitab-ktab sejarah saudara-saudara, kitab-kitab history yang menceritakan misalnya, mulai kapan, mulai kapan, rakyat-rakyat di negeri-negeri ini bangkit kembali memerdekakan bangsanya, memerdekakan tanah-arinya, memerdekakan negerinya, mulai kapan? Di dalam abad ke-19, salah satu ciri dari pada abad ke-19, permulaan abad ke-20, negeri-negeri, bangsa-bangsa ini bangkit kembali, sehingga Lothrop Stoddard, Lothrop Stoddard, menulis ia punya kitab yang termasyhur The New World of Islam, ia menulis dua buku, saudara-saudara, The Rising Tide of Colour dan The New World of Islam, dua buku dari pada Lothrop Stoddard yang amat termasyhur. Saya tidak tahu apa sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya anjurkan supaya dua kitab itu diterjemahkan. The Rising Tide of Colour bersamaan dengan The New World of Islam, dan di dalam kitab itu dijelaskan dengan tegas, bahwa Islam masuk di dalam satu New World bersama-sama dengan Rising Tide of Colour. Colour artinya bangsa-bangsa kulit berwarna. Oleh karena rakyat-rakyat yang beragama Islam menemukan kembali api Islam itu, terutama sekali sesudah aksi penerangan yang diberikan oleh Jamaluddin el-Afghani. Jamaluddin el-Afghani, dialah laksana membongkar kembali api Islam ini dan ia berikan api Islam ini kepada umat Islam, sehingga ada yang menyebutkan Jamaluddin el-Afghani adalah seorang mujaddid. Saya tidak tahu benar, apa benar ia mujaddid apa tidak, tetapi saking, saking besar jasanya, Jamaluddin el-Afghani memberikan kembali atau menunjukkan kembali api Islam kepada umat Islam, sebagai umat Islam menyebutkan dia seorang mujaddid.

Jadinya nyata dan jelas api Islam dikembalikan, diterangkan kembali, bangkitalah bangsa-bangsa ini ke alam merdeka, ke alam kebebasan, ke alam perjuangan. Dan perjuangan ini, saudara-saudara, melalu jalan macam-macam, tetapi garis besarnya ialah re-birth, bangun kembali, re-juvenation, muda kembali. Jalannya macam-macam, sebagai tadi diktakan oleh Bapak Saifuddin Zuhri, Hudaibiah-Hudaibiah pada waktu sedang berjuang, sudah kuktakan, pada waktu itu sedang berperang. Saya tidak tahu apakah ada waktu itu sudah bernama Darul Harb, apa sudah Darul Harb, artinya sudah tempat perang, alam perang, en toch diadakan Hudaibiah, sebagian suatu taktik untuk mencapai, mencapai apa yang menjadi tuuan perjuangan. Dan sebagai dikatakan oleh Pak Saifuddin Zuhri, memang tahun kemudian kemenangan tercapailah oleh pimpinan yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw, ke Hudaibiah, kita tetapi mengganyang “Malaysia”, tetap! Tetapi jalan mengganyang “Malaysia” itu berupa-rupa saudara-saudara.

Kita adalah sebagian besar rakyat yang beragama Islam, 85% rakyat Indonesia ini Islam. Dan Islam mengatakan, salam, salam damai, sejahtera. Dan sekarang kita melihat, bahwa mungkin, mungkin, mungkin, sekali lagi mungkin, bahwa persoalan “Malaysia” ini bisa kita pecahkan dengan cara damai, dengan cara musyawarah, dengan cara berdasarkan Asian problems to be solved by Asian themselves, bahwa soal-soal Asia harus dipecahkan oleh orang-orang Asia sendiri tanpa campur tangannya pihak yng bukan Asia. Ini yang dinamakan doktrin Sukarno-Macapagal, doktrin Sukarno ialah, bahwa persoalan Asia sendiri tanpa campur tangannya orang lain dari luar.

Di dalam pidato saya di sekolah tinggi di Universitas Phnom Penh, The Royal University of Phnom Penh, saya telah berkata, abad ke-20 mempunyai ciri lima, – saya tidak mau kalah dengan Pak Mul, Pak Mul itu selalu empat atau lima – ,saya berkata juga, abad ke-20 mempunyai ciri-ciri lima. Dulu saya sudah ceritakan tiga, saudara-saudara. Abad ke-20 ini adalah abadnya bangsa-bangsa Asia bangun dan menjadi merdeka. Abad ke-20 ini, ciri kedua, adalah bercirikan berdirinya negara-negara sosialis. Ketiga, abad ke-20 ini adalah abadnya revolusi atom dan revolusi luar angkasa. Saya tambah lagi keempat, abad ke-20 ini abadnya kaum imperialis menjalankan intervensi, menjalankan subversi di negara-negara Asia dan Afrika yang sudah merdeka itu tadi.

Ciri pertama ialah terjadinya negara-negara Asia yang merdeka, tetapi ciri yang keempat ialah, bahwa kaum imperialis selalu mengadakan intervensi, intervensi, subversi, subversi di negeri-negeri Asia-Afrika, Amerika Latin yang sudah merdeka ini, ciri keempat, ciri kelima apa? Ciri kelima ialah reaksi terhadap hal ini, yaitu persatuan New Emerging Forces. Di dalam abad ke-19 belum ada persatuan dari pada Emerging New Forces, bahkan sebelum tahun 1963 belum begitu tampak persatuan dari pada New Emerging Forces.

Tiap-tiap negara New Emerging Forces berjuang sendiri, tetapi syukur alhamdulillah, atas panggilan Indonesia semua tenaga-tenaga New Emerging Forces ini bersatu, bersatu menjadi suatu gelombang yang mahasakti. Ganefo kita panggilkan, 51 negara ikut di dalam Ganefo. Pemuda-pemuda mengadakan satu kongres internasional untuk mengganyang “Malaysia”, 44 negara datang di Jakarta untuk mengadakan aksi bersama itu.

Dus Pak Muljadi, saya ndak kalah. Lima ciri.

Nah, saudara-saudara, maka saya berkata, jikalau kta benar-benar ingin jaya di dalam perjuangan kita sekarang ini, marilah api di dalam dada kita itu kita kobar-kobarkan. Benar saya tadi berkata, kita sekarang ini menjalankan Hudaibiah, Hudaibiahnya abad ke-20, tetapi bagaimana Nabi mengadakan Hudaibiah, apakah Nabi pada waktu itu kehilangan api Islam? Tidak! Kita pun menjalankan kita puna Hudaibiah ini dengan tidak menghilangkan api di dalam dada kita. Oleh karena itu aku berkata, api tetap kita kobar-kobarkan, tetap kita menjalankan konfrontasi terhadap “Malaysia”, tetap kita punya tekad hendak mengganyang “Malaysia” itu. Taktik boleh berubah 24 kali satu hari, saudara-saudara, tetapi tujuan tetap, tujuan tetap satu, tujuan tetap kita kejar dengan api yang berkobar-kobar dan menyala-nyala.

Pada malam ini sebenarnya banyak sekali kita bisa uthut pengajaran-pengajaran: dari pada turunnya Al-Qur’an, pengajaran-pengajaran dari pada agama Islam; satu ini pun barangkali sudah mencukupi buat malam ini, saudara-saudara.

Mari berjalan terus, mari berjjuang terus, mari dengan gigih menjalankan apa yang telah menjadi darma-bakti pada revolusi Indonesia, yaitu menyelematkan bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia dari semua penyakit dunia yang sekarang kita derita.

Terima kasih.

(Ed/RS)