Bung Karno Tak Mau Bacakan Proklamasi Kemerdekaan Tanpa Bung Hatta

Bung Karno Tak Mau Bacakan Proklamasi Kemerdekaan Tanpa Bung Hatta. Sejak pagi pada hari itu, 17 Agustus 1945, orang-orang berduyun-duyun datang ke rumah Bung Karno.

Tapi tak sedikit pula yang mendengar kabar yang keliru, pergi ke Lapangan Ikada. Sudiro, anak buah Achmad Soebardjo, salah satunya. Melihat tentara Jepang bersiaga dengan senjata lengkap di Lapangan Ikada, Sudiro segera mengajak teman-temannya putar balik. Dari dr Muwardi dari Barisan Pelopor, dia mendengar bahwa Proklamasi dilakukan di rumah Bung Karno.

Di sekitar rumah Bung Karno, prajurit-prajurit Pembela Tanah Air (Peta) di bawah komando Cudancho Latief Hendraningrat sudah bersiaga dengan senjata lengkap siap melepas tembakan jika ada serangan tentara Jepang. Di dalam rumah, Bung Karno malah meriang. Setelah minum obat dari dr Soeharto, Bung Karno tidur sejenak.

Sekitar pukul 09.30 WIB, Bung Karno terbangun. Di teras depan sudah terpasang mikrofon. Sebagian besar tokoh pergerakan sudah hadir di rumahnya. Tapi Hatta, yang akan mendampinginya membacakan naskah Proklamasi, malah belum tampak.

Muwardi mengetuk pintu kamar Bung Karno. Dia mengatakan para pemuda sudah gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang bisa datang setiap saat dan menggagalkan Proklamasi. Dia mendesak Bung Karno segera membacakan naskah Proklamasi tanpa perlu menunggu Hatta. Bung Karno menyergah marah.

“Saya tidak mau mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan jika Hatta tidak ada. Kalau Mas Muwardi tak sabar menunggu, silakan baca sendiri Proklamasi,” kata Bung Karno.

Demikianlah kisah dwitunggal Bung Karno dan Bung Hatta, yang kini keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamasi.