Bung Hatta Bapak Politisi Bersih dan Sederhana. Pengamat Politik Ray Rangkuti mengatakan bahwa selain dikenal sebagai Bapak Proklamator Indonesia, ada dua julukan lain yang pantas dan layak disematkan kepada Bung Hatta. Pertama, Hatta adalah ‘Bapak Politisi Bersih’. Kedua, Hatta adalah “Bapak Politisi Sederhana’, karena ia menjalani hidup sangat sederhana.

Bung Hatta Bapak Politisi Bersih dan Sederhana. Pengamat Politik Ray Rangkuti mengatakan bahwa selain dikenal sebagai Bapak Proklamator Indonesia, ada dua julukan lain yang pantas dan layak disematkan kepada Bung Hatta. Pertama, Hatta adalah ‘Bapak Politisi Bersih’. Kedua, Hatta adalah “Bapak Politisi Sederhana’, karena ia menjalani hidup sangat sederhana.

“Bung Hatta bukan hanya menjalani hidup sederhana, tapi sangat sederhana. Banyak yang mampu hidup sederhana, tapi Bung Hatta sangat sederhana. Beliau sangat patut menjadi tauladan kita semua.”, ungkap Ray.

Hal itu di sampaikannya saat menjadi narasumber Talk Show ‘Pekan Bung Hatta’, kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Kebudayaan Nasional Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam mengenalkan sepak terjang, kisah dan inspirasi Bung Hatta kepada masyarakat luas. Talkshow ditayangkan di Channel Youtube BKNP PDI Perjuangan.

Lebih lanjut, Ray juga menambahkan bahwa arti sederhana bagi Hatta tentu merupakan sebuah kesadaran eskatologis yang tidak bisa di pisahkan dari sejauh mana Hatta memahami ajaran-ajaran Islam. Sikap sederhana Hatta juga tidak bisa di lepaskan dari latar belakang pendidikan yang di terimanya.

“Saya kira Islam memberi inspirasi pada Hatta mengenai tema-tema kejujuran, amanah tanggung jawab dan tentu tentang kehidupan yang sederhana. Kedua adalah kesadarannya sebagai seorang ilmuwan yang hidup bukan untuk mencari kemewahan duniawi, namun untuk mengabdikan sebesar-besarnya pengetahuan yang ada padanya untuk kemaslahatan publik,” papar Ray.

Dengan semua fasilitas yang di miliki Hatta, sebenarnya ia bisa menjalani hidup yang berleha-leha. Selain ia mendapatkan beasiswa dari Belanda, ia juga berasal dari keluarga Minangkabau yang berada.

“Ketika mahasiswa sekalipun, di Belanda dengan fasilitas itu tetap menjalani hidup yang sangat sederhana dan tidak mau mempergunakan fasilitas yang di berikan kepadanya,” lanjut pendiri Lingkar Madani ini.

Peran Keluarga

Kesederhanaan Bung Hatta juga tidak lepas dari peran keluarga, khususnya Ibu Rahmi, istri beliau yang tetap menjaga sikap itu terus ada pada diri Bung Hatta sampai akhir hayatnya.

“Bung Hatta sampai menjadi presiden di usia 43 tahun pada 1945, menikah dengan Ibu Rahmi dan memiliki anak, masih begitu dan tetap bisa teguh untuk bersikap seperti awal yaitu memilih hidup sederhana,” jelas Ray.

Dalam hal ini peran istri dan anak-anak beliau menjadi penjaga integritas bagi Bung Hatta agar tidak terjebak pada kehidupan dunia.

Kesederhanaan di kehidupan keluarganya seperti itu setidaknya bisa di lacak dari dua hal. Pertama, bahwa seluruh fasilitas negara yang di berikan kepada Hatta tidak pernah kemudian di limpahkan kepada keluarganya. Kedua, Hatta idak pernah mendesain anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya atau berlaku nepotisme dalam memberikan jalan pintas kekuasaan atau jabatan publik.

Hatta berprinsisp, aset negara yang di peruntukkan kepadanya tidak boleh di gunakan untuk di wariskan kepada anak cucunya. Sikap ini menjadi semacam acuan juga kepada keluarga Bung Hatta secara umum,” lanjut pria kelahiran 20 Agustus 1969 ini.

Politik untuk Kepentingam Publik

Bung Hatta tidak terpikir sedikitpun untuk meraup keuntungan material dan duniawi dari politik. Sebaliknya, seluruh kehidupan beliau dan keluarga bdicurahkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan politik. Politik yang di maknai sebagai sebagai kepentingan publik secara menyeluruh.

“Kesadaran dan teladan inilah yang perlu di tumbuhkan di politisi kita sekarang dan masa yang akan datang. Begitu Anda masuk dunia politik, artinya Anda mau menyerahkan seluruh totalitas untuk kepentingan orang banyak. Jangan sedikit-sedikit minta itu, sedikit-sedikit minta ini,” kata Ray.

Ketika di tanya pesannya untuk para politisi dan generasi muda Indonesia dalam meneladani Bung Hatta, Ray mengatakan bahwa sepatutnya kita menumbuhkan kesadaran bahwa masuk dunia politik bukan untuk mengubah nasib pribadi, tapi mengubah nasib bangsa.

“Kalau kita percaya bahwa politik itu jalan mengubah nasib bangsa bukan mengubah jalan hidup saya, maka separuh dari persoalan kehidupan bangsa ini bisa kita selesaikan,” pungkas Ray. (RS)