Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam Sidang di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menjadi rujukan yang akan terus relevan dalam konteks kenegaraan guna melawan sikap dan tindakan yang intoleran.

Berikut petikan pidato yang kemudian menjadi rumusan Pansasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

“Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu Negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua”.

“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!”

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua.”

Kini, diakui atau tidak, nyatanya sikap dan perilaku intoleran tidak sedikit dijumpai. Bahkan hal semacam itu cenderung disikapi secara pernisif sehingga di era digital saat ini tidak sulit untuk menemukan konten-kontem di media sosoal yang secara substansi bisa mencabik kebhinekaan bangsa Indonesia ini.

Maka, penting untuk kembali merenungkan sekaligus kesadaran untuk mengaplikasikan pidato Bung Karno yang senantiasa relevan sepanjang ancaman intoleransi mengincar keutuhan Indonesia. (Rahmat Sahid)